Offside.co.id

Tradisi Di Balik Tersingkirnya Barcelona

Kamis 14 April 2016 10:46 WIB

Beberapa bulan yang lalu, hampir sebagian besar bursa taruhan mengunggulkan Barcelona sebagai juara di Liga Champions musim 2015-2016. Koofisien unggulan tim didikan Luis Enrique itu jauh mengunggul tim-tim kuat lain. Sebut saja Real Madrid, Bayern Munchen, Juventus, Manchester City, PSG, dan lain-lain.

Dari penyisihan grup, hingga babak 16 besar, prediksi itu berjalan mulus. Langkah Blaugrana tak terhenti. Di penyisihan grup E misalnya. El Barca sanggup memuncaki grup dengan status tak terkalahkan. Lionel Messi dkk begitu dominan atas tim-tim sekelas AS Roma, Bayer Leverkusen, dan Bate Borisov. Begitu juga di babak 16 besar. Secara meyakinkan, Barca menang dengan agregat 5-1 atas Arsenal.

“Permainan yang kami tunjukkan tadi sebenarnya sangat baik. Tapi kami melawan tim dengan striker-striker terbaik yang pernah saya lihat bermain bersama,” kata pelatih Arsenal, Arsene Wenger,usai timnya ditaklukkan Barca.

Pada babak perempat final, nasib apes baru menghampiri sang juara bertahan. Melawan Atletico Madrid, Barca sempat tak berkutik. Pada leg 1, Messi dkk menang 2-1. Tapi pada pertemuan berikutnya, mereka keok 0-2. Alhasil, Atletico yang lolos ke babak semifinal. “Ini bukan hari baik kami, kami bermain tidak jelas, tapi berjuang untuk menciptakan peluang,” kata Luis Enrique.

Gagalnya Barca kali ini sekaligus melanjutkan tradisi mereka selama 20 tahun terakhir. Yakni, setelah merebut gelar juara, pada musim berikutnya selalu gagal mempertahankan pencapaian tersebut. Bahkan, selalu terhenti pada babak semifinal atau sebelumnya. Patut diketahui, sejauh ini Barca sudah lima kali meraup gelar juara Liga Champions. Lima gelar itu diraih pada musim 1991-92, 2005-06, 2008-09, 2010-11, dan 2014-15.

Pada musim 2006-07 misalnya. Ketika itu, Barca hanya bisa melaju hingga babak 16 besar karena ditaklukkan Liverpool. Padahal, pada musim 2005-06, El Barca meraih gelar juara. Begitu juga pada musim 2009-10. El Barca gagal mempertahankan gelar usai ditaklukkan Inter Milan di babak semifinal.

Gagal Juara Beruntun

Gagalnya Barcelona di Liga Champions musim ini, sekaligus menjadi kelanjutan tradisi yang menarik di tim peraih gelar juara di strata tertinggi tim-tim elite Eropa tersebut. Yakni sejak berubah format dari Piala Champions ke Liga Champions (musim 1992-93, Red), belum pernah ada tim juara yang bisa mempertahankan gelar tersebut pada musim berikutnya. Dengan kata lain, belum ada tim peraih gelar juara Liga Champions yang mampu melakukannya dua kali secara berurutan.

Ketika masih bernama Piala Champions, prestasi itu bisa dilakuan oleh Real Madrid, Benfica, Inter Milan, Ajax Amsterdam, Bayern Munchen, Liverpool, Nottingham Forest, dan AC Milan. Namun setelah itu, belum ada satu tim pun yang bisa mengulanginya lagi.

Berbeda dengan era Liga Champions. Usai salah satu tim sukses meraih gelar juara Liga Champions, pada musim berikutnya selalu keok sebelum ke final. Hal itu berlaku bagi tim-tim raksasa sekelas Real Madrid, Juventus, Manchester United, Barcelona, Inter Milan, Chelsea, Bayern Munchen, Real Madrid, dan Barcelona. (HM)

(Visited 56 times, 3 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid

You must be logged in to post a comment Login