Offside.co.id

From Manchester With Bomb

Rabu 24 Mei 2017 09:22 WIB

Offside.co.id – Dua hari sebelum laga final Liga Eropa antara Ajax Amsterdam kontra Manchester United, sebuah tragedi telah menggetarkan hati. Bom meledak di Manchester, menewaskan 22 jiwa.

editorial SN

Serangan itu terjadi di konser penyanyi cantik, Ariana Grande di pusat kota Manchester, Selasa (22/5/2017). Lokasi bom, sekitar 6 km dari Old Trafford dan hanya 3 km dari Etihad Stadium.

Selain faktor jatuhnya banyak korban jiwa, serangan bom itu juga punya nilai berita atau news value tinggi karena faktor Manchester.

Ya, klub dengan basis fans terbesar di dunia, ada di kota itu. Tambahan lagi, Manchester United sedang bersiap tampil di final Liga Eropa, Kamis (24/5/2017).

Klub berjuluk Red Devils tersebut makin jadi sorotan lantaran prestasi (peraih gelar terbanyak Liga Primer), komplit dengan seabrek kontroversi.

Di klub tersukses di Inggris itu, ada pemain dengan rekor transfer termahal di dunia (£89 juta), Paul Pogba. Namun ia terus dikritisi karena kontribusinya dianggap tak sepadan dengan banderolnya.

Ada pula manajer kolektor treble winners yang juga pemegang rekor juara di level Eropa dengan 4 klub berbeda, di empat liga benua biru: Jose Mourinho.

Justru dengan reputasi-reputasi itulah United menjadi headline lantaran gagal meraih tiket Liga Champions dari jalur Premier League.

Jangankan masuk 4 besar, MU malah cuma finis di posisi ke-6 di bawah Arsenal. Padahal, musim ini mereka sudah menghabiskan hampir Rp 4 triliun untuk belanja pemain!

BACA JUGA :   Liverpool Pastikan Langkah ke Fase Grup

Namun kans beredar di liga Antar-Klub kasta tertinggi Eropa masih bisa mereka dapatkan. Syaratnya, menjuarai Liga Eropa dengan mengalahkan Ajax di final.

Saat naskah ini ditulis pada Rabu pagi, skuad MU dan Ajax sudah merapat di Stockholm, Swedia, tempat gelaran laga pamungkas Liga Eropa.

Kesedihan tak hanya berada di wilayah privasi Manchester atau Inggris saja, namun seluruh dunia. Ini tragedi kemanusiaan, yang bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

Tak ada alasan apapun yang bisa dijadikan pembenaran atas peristiwa ini. Solusi berupa bom bunuh diri dengan korban massal, sangat tidak masuk akal.

Namun, tragedi sudah terjadi. Dunia terus berputar lagi. Begitu pula pesta sepak bola bertajuk final Liga Eropa. Kontrol keamanan makin ditingkatkan.

Pelatih Ajax, Peter Bosz, menyebut jika final Liga Eropa kontra Manchester United, telah kehilangan kemeriahan yang seharusnya disajikan. Bom dua hari jelang laga, telah mengoyak sebagian kegembiraan.

Semestinya laga Rabu malam atau Kamis dini hari WIB adalah sebuah pesta. Tapi akibat bom itu, semua terimbas dampaknya.

BACA JUGA :   Madrid Boyong Piala Santiago Bernabeu

Seperti dikatakan Boz, beberapa istri dan anak-anak pemain Ajax dua pekan lalu menyaksikan konser Ariana Grande di Amsterdam. Wajar jika tim wakil Eredivisie itu ikut terguncang.

Dari kubu lawan, Jose Mourinho bahkan membatalkan konferensi pers, standar klub sebelum bertanding. Itu bagian dari simpati kubu MU.

Tapi seperti dikatakan Mourinho, klub sangat bersimpati atas tragedi itu dan menyayangkan mereka harus terbang ke Stokholm, meraih “kebahagiaan” bagi Manchester.

Rasanya minute of silence dan doa jelang laga adalah bentuk penghormatan serta rasa peduli yang tepat bagi korban tragedi bom Manchester.

Duka itu pasti. Tapi seperti kata pepatah, the show must go on. Ajax bertekad juara dengan amunisi pemain-pemain belia. Marouane Fellaini dkk ingin memenuhi ambisi lewat ledakan terakhir laga musim ini dengan raihan trofi.

Ambisi, reputasi, dan harga diri, beraduk jadi satu wadah dalam sanubari kubu Manchester merah. Tak berlebihan jika dikatakan, Pogba dkk datang ke Stokholm dengan spirit “From Manchester with bomb.”

(@sigitbola)

 

(Visited 54 times, 5 visits today)
Editor: Sigit Nugroho