Offside.co.id

Korsel Kehilangan Taji, Kekuatan Asia Bergeser ke Jepang

Senin 25 Juni 2018 16:33 WIB

Offside.co.id – TIGA PULUH DELAPAN tahun Korea Selatan tampil di Piala Dunia. Delapan pesta sepakbola terbesar sejagad telah mereka ikuti. Tepatnya sejak 1986, saat Piala Dunia digelar di Meksiko.

Korsel melangkah di piala dunia itu, sesungguhnya ditentukan oleh tim nasional Indonesia tahun 1985. Kalau saja Herry Kiswanto, Bambang Nurdiansyah, Joko Malis, Dede Sulaiman dan kawan-kawan mampu menahan Cho Kwang Rae cs di dua pertemuannya, maka Korsel tidak akan pernah tampil di piala dunia.

Sayang Oom Sinyo, sapaan akrab Sinyo Aliandoe, pelatih timnas kita saat itu, kalah jitu dibanding Kim Jung Nam, arsitek Korsel. Timnas kita takluk 2-0 di Seoul dan 1-4 di Jakarta. Padahal sebelum laga, tim Korsel sempat dag-dig-dug juga. Reputasi tim asuhan Oom Sinyo di saat itu memang jadi momok khusus. Kita bukan hanya mampu lolos dari sub-grup 3B dengan menyingkirkan Thailand, India, dan Bangladesh, tapi Herry cs tampil dengan sangat baik.

Tak berlebihan jika KFA (Korean Football Assotiations) sampai meminta bantuan Kedubesnya di Jakarta untuk mengumpulkan kliping koran. Jangan membayangkan dunia informasi seperti sekarang yang tanpa batas dulu data harus diambil sacara hardcopy. Info ini saya peroleh dari teman saya orang kedutaan Korsel yang beristrikan warga Jogja.

Para pemain Korsel tertunduk lesu usai kalah 0-1 melawan Swedia pada laga pertama Grup F di Nizhny Novgorod. (Foto: FIFA/GettyImages)

Lepas dari itu, KFA diberi suport oleh eksekutif, legislatif, dan judikatifnya. Mereka bahu-membahu membantu timnas secara non-teknis. Hampir tak ada hambatan apapun yang dialami Kim Jung Nam untuk menjalankan program timnasnya. Bayangkan dengan yang dialami oleh Oom Sinyo (pelatoh), Oom Benny Moelyono (manajer), dan Pak Acub Zainal sebagai chief de mission. Khususnya Oom Benny yang harus jungkir-balik mencari dana agar program Oom Sinyo bisa terlaksana. Pak Acub pun harus terus-menerus menelpon penerbangan serta hotel agar dapat prioritas dan diskon.

Jadi, jangan heran jika Korsel, khususnya tahun 2002 saat bersama Jepang menjadi tuan rumah. Tim yang ditukangi Guus Hiddink itu mampu mencapai semifinal dan akhirnya menempati posisi ke-4 setelah kalah dari Turki 2-3.

 

Bergeser ke Jepang

Setelah 38 tahun berkiprah tanpa jeda, Korsel akhirnya kandas di penyisihan grup . Kalah 0-1 dari Swedia dan 1-2 dari Meksiko. Meski menyisakan satu laga, hasil apa pun tak akan mengubah langkah Korsel. Bukan hanya itu, sepanjang sejarah inilah tampilan Korsel terburuk. Bukan hanya skill mereka yang terlihat pas-pasan, tapi fighting spirit yang selama ini menjadi ciri khas tim negeri ginseng itu, seolah lenyap.

Jepang yang baru berlaga lima kali di piala dunia, diawali 1998, 2002 (tuan rumah bersama Korsel), 2006, 2010, dan 2014, memang lebih lumayan dibandingkan negara Asia lainnya. Jepang mampu lolos ke babak ke-2, dua kali l2002 dan 2010). Jika di laga terakhir melawan Polandia, Jepang sedikitnya mampu bermain imbang, maka ini akan menjadi raihan prestasinya yang ke-3 mencapai 16 besar.

Jepang saat menaklukkan Kolombia 2-1 dalam pertandingan pertama Grup H di Mordovia Arena. (Foto: FIFA/GettyImages)

Jika melihat dua laganya di Grup H ini, Jepang bukan tidak mungkin bisa mencapai lebih dari itu. Sama seperti Inggris, tim Jepang kali ini juga tampil tanpa bintang. Tidak ada pemain manja seperti Miura yang pertama kali berlaga di Seri-A. Padahal dia dimainkan di Italia terkait dengan sponsor produk Jepang di klub itu. Juga tidak ada mega bintang sekaliber Nakata yang sempat jadi bintang di Napoli.

Kesetaraan itulah yang membuat tim Jepang lebih mengigit dibanding Korsel. Dan, kesataraan itu pula yang akan diuji dalam laga-laga berikutnya. Akankah Jepang bisa menapak labih dari putaran 16 besar? Sebagai bagian dari bangsa Asia, saya berharap demikian

Lalu, bisakah timnas kita mengikuti jejak Jepang dan Korsel? Jawabnya kita gantungkan pada presiden 2019 mendatang. Semoga saja ada harapam baru dengan suasana yang serba baru…

(Penulis, dua kali meliput Piala Dunia: Piala Dunia 1990 di Italia dan 1994 di AS)

(Visited 572 times, 5 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo