Offside.co.id

PSG Dua Kali Kalah, Emery Biasa-biasa Saja

Jumat 8 Desember 2017 16:24 WIB

Offside.co.id – Kekalahan yang ditelan Paris St Germain (PSG) di kandang Bayern Muenchen menodai hasil sempurna wakil Prancis ini di fase grup B Liga Champions. Namun demikian, pelatih Unai Emery tidak melihat kekalahan itu sebagai sesutau yang harus dikhawatirkan. “Kami 50 persen tidak bahagia karena kami telah menelan kekalahan lagi, dan 50 persen bahagia karena kita telah konsisten di babak penyisihan grup ini,” kata Emery. “Ini adalah jenis permainan yang akan berguna bagi kami dalam tiga atau empat bulan,” lanjutnya.

Bagaimanapun PSG menunjukkan kecepatan luar biasa dan kemampuan teknis yang hebat dari hampir semua pemain di starting line up. Secara taktis, mereka mematikan permainan tuan rumah, Muenchen. Bahkan di atas kertas,  Neymar, Edinson Cavani, dan Kylian Mbappe lebih mematikan dari striker Muenchen.

Mbappe sudah mencetak 10 gol di Liga Champions, 3 assist dalam 15 pertandingan. Dia masih berusia 18 tahun. Itu yang membedakan Mbappe dengan Lionel Messi, pemain barcelona yang  baru mencapai demikian saat berusia 21 tahun.

Namun, dari setiap sudut lainnya, ada kekurangan yang nyata di tubuh PSG. PSG telah memainkan sepakbola yang hebat untuk 90 persen dominasinya di penyisihan grup mereka, namun 10 persen lainnya keraguan atas kemampuan mereka untuk memenangkan kompetisi. Sebelumnya PSG juga menelan kekalahan pertama di Ligue 1 setelah tumbang di tangan Strasbourg.

Mereka berjuang di Anderlecht, misalnya, di mana kiper Alphonse Areola adalah pemain terbaik mereka meski menang 4-0. Mereka kebobolan gol ‘mudah’ di Munich setelah dua full-back, Dani Alves dan Layvin Kurzawa, memperlihatkan permainan yang tidak biasa.

Kurangnya usaha defensif dari Neymar dan Mbappe menjadi masalah dalam pertandingan  besar tersebut, terutama jika Alves dan Kurzawa sedang membantu serangan. Mbappe bermain bagus, Cavani dan Neymar luar biasa, namun individualisme mereka membuat masalah di PSG.

Dengan tidak adanya Thiago Motta yang cedera, Adrien Rabiot harus mewakili dalam peran yang tidak disukainya. Dia terlalu berpikiran menyerang, sementara Marco Verratti dan Julian Draxler kurang terlihat dengan kualitas defensif mereka. Masalah terbesar sebenarnya adalah bahwa individu bisa menghilangkan kerja tim mereka.

Setelah kalah di kadang Muenchen, Rabiot menyimpulkan dengan sangat baik apa yang salah “Kami terlalu individualistis, Kami tidak bermain sebagai sebuah tim, Karena kami mencoba melakukannya sendiri, itu tidak berjalan,” kata gelandang asal Prancis itu yang diansir ESPN. (IZZAT/KS)

(Visited 28 times, 3 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo