Offside.co.id

BOPI: 25 Pemain Masih Ilegal!

Selasa 18 April 2017 19:21 WIB

BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) membuat gebrakan. Sebanyak 25 pemain asing dari 11 klub yang merumput di Liga-1, dilaporkan ke Kementerian Hukum dan Ham karena belum memiliki izin tinggal dan izin kerja. Secara gamblang, BOPI mengatakan para pemain itu jelas ilegal. Kok bisa?

Pertanyaan itu juga yang muncul di benak saya, dan banyak pihak. Ini bukan karena tidak berpikiran positif, bukan juga ingin menohok siapapun. Pertanyaan ini, rasanya wajar karena dilandasi aturan yang berlaku di negeri ini.

Secara berseloroh, seorang teman mengatakan: “Kok ya bisa terjadi?” Saya jadi ingat jargon PSSI yang baru: Revolusi total! Artinya, kesalahan seperti ini, yang dulu juga pernah ditembakan BOPI, tidak boleh terjadi lagi. Dengan revolusi total, artinya PSSI yang saat ini adalah PSSI Baru, PSSI yang lebih baik. PSSI yang telah direvolusi dari keburukan menjadi kebaikan.

Tapi, mengapa 25 pemain asing yang ilegal itu bisa tetap dimainkan? “Kami sudah tegaskan ke PSSI bahwa Liga-1 tetap boleh berputar, tetapi pemain asing yang dokumennya belum lengkap, tidak boleh dimainkan!” kata Sekjen BOPI, Heru Nugroho, seperti terdengar saat berdialog di salah satu radio.

“Kami terpaksa melaporkannya ke Kementerian Hukum dan Ham, s/q Dirjen imigrasi,” katanya lagi. “Biasa, pelanggaran jenis itu, ya dideportasi,” lanjut Heru.

Masih dalam acara radio itu, Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono menegaskan bahwa yang dilakukan klub itu bukanlah pelanggaran yang disengaja. “Mereka hanya berpikir agar investasinya tidak mubazir,” tegas JD, begitu sapaan akrab Waketum PSSI ini.

PSSI sudah dapat report dari klub-klub yang mengalami kesulitan memperoleh Kitas. “Mengurus dokumen itu kan tidak cukup sehari atau dua hari, sementara jadwal sudah mulai. Nah, mereka yang sudah inves besar tidak ingin mubazir, ” lanjut JD. “Lagi pula, investasi yang ditanam klub-klub itu kan bukan semata untuk keuntungan mereka, tapi untuk menggerakan keekonomian rakyat,” katanya lagi.

Masih menurut JD, pihaknya meminta toleransi waktu satu bulan. Jika batas satu bulan itu ternyata tidak juga, maka PSSI pun akan mematuhi segala konsekuensinya. “Kalau karena kesalahan itu mereka harus dideportasi, ya kami ikut saja!”

Meski demikian, JD, meminta semua pihak memahami situasi ini. “Kami sudah mendatangi imigrasi, dan sudah juga diberi tahu harus berkomunikasi dengan ketenagakerjaan. Artinya kami tidak diam!”

Terkait soal legalitas pemain, Joko juga mengatakan bahwa menurut status PSSI, pemain itu legal. “Tetapi memang belum lengkap dokumennya.”

Jadi? Sekali lagi, jika saya mengkritisi PSSI, pasti tidak dengan dasar negatif. Saya dengan sepakbola nasional, tidak mungkin terpisahkan. Meliput sejak Desember 1979, dan menjadi pengurus sejak 1999. Artinya, jika dibelah dada saya, isinya pasti ada sepakbola nasional.

Seperti Pak Edi Rahmayadi, Ketua Umum PSSI dan La Nyalla Mattalitti mantan ketum yang digulingkan oleh mereka yang justru anti kemajuan, berharap benar PSSI kelak bisa maju. Tapi, jika Edy Rahmayadi tidak juga melihat siapa sesungguhnya orang atau pebgurus yang benar-benar ingin memajukan PSSI, maka nasibnya akan sama seperti La Nyalla, ditelikung di tengah jalan.

Kesalahan legalitas adalah kekeliruan elementer. Artinya, kesalahan itu tak boleh terjadi. Semua transparan dan nyata regulasinya, tetapi mengapa bisa terjadi?

Jawabnya ada dua: Pertama ini memang sengaja dilakukan lantaran sikap jumawa, atau kedua mereka memang tidak mau tunduk pada regulasi.

Nah, mereka jugalah yang dulu membuat LNM terjerembab. Pelanggaran yang mereka lakukan berbuntut pada kesalahpahaman penerintah dalam melihat posisi LNM.

Dari hati saya yang terdalam, saya berharap Pak Edy Rahmayadi sekali ini mau betul-betul menyikapinya dengan baik, agar revolusi total bisa benar-benar berjalan denfan baik

Bravo sepakbola nasional.

(Visited 176 times, 1 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo