Offside.co.id

Jika Anies Tak Dilarang, Pesta Makin Semarak

Senin 19 Februari 2018 20:53 WIB

Offside.co.id – MARUARAR Sirait, ketua Stering Committe panitia Piala Presiden 2018, akhirnya buka suara. Dalam jumpa pers, dia minta maaf atas kejadian dilarang turunnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sesaat Presiden Jokowi akan memberikan piala bergilirnya untuk Persija yang menjadi juara setelah menumbangkan Bali United 3-0 di Stadion Utama, Sabtu (17/2) malam.

“Saya tidak ingin mencari siapa yang salah, sayalah yang salah. Dan saya meminta maaf kepada presiden dan gubernur Indonesia atas ketidaknyamanan ini, ” katanya, Senin (19/2) siang.

Dengan pernyataan Maruarar itu, harapannya bahwa efek dan dampak dari kasus yang diskriminatif pada Gubernur Anies Baswedan, bisa selesai. Apalagi, Ara, begitu sapaan akrab Maruarar, sudah bertemu dan diterima dengan kegembiraan oleh Anies di Balaikota bersamaan dengan datangnya para pemain Persija serta ribuan pengiring arak-arakan mereka Ahad (18/2) sore.

Meski demikian, Ara sekali lagi mengalami keseleo lidah saat menyatakan permintaan maaf pada Gubernur Indonesia. Bisa dimaklumi, tekanan atas kejadian itu –pelarangan Anies untuk turun– sangat berat. Betul dia adalah politisi yang seharusnya terbiasa untuk berbagai tekanan. Tapi, tekanan terkait sepakbola, pasti lebih berat. Dan, kita yakin seyakin-yakinnya bahwa yang dimaksud gubernur Indonesia, pasti Anies Rasyid Baswedan, Gubernur DKI itu.

 

Dielu-elukan
Seandainya Anies malam itu bisa turun ke lapangan, maka adegan yang akan terjadi begitu luar biasa.

Anies akan disambut oleh para pemain dan ofisial Persija. Seperti tradisi yang ada dalam budaya kita saat menghadapi kesuksesan, maka seorang pemimpin akan dielu-elukan. Anies bahkan bukan tidak mungkin akan diusung oleh para pemain serta ofisial. Bukan tidak mungkin diangkat dan dibawa berkeliling untuk selebrasi.

Nah, adegan heboh di lapangan, apalagi saat diangkat sambil selebrasi, maka, tujuh puluh ribu penonton akan menyambutnya denga pekik dan sorak. Suara bergelombang dari puluhan ribu penonton akan memenuhi stadion. Bukan tidak mungkin pula, pekiknya tidak berhenti pada: “Anies…. Anies… Anies!” saja. Tapi, bisa pula jadi: “Anies Presiden! Anies Presiden! Anies Presiden!”

Situasi itu tentu sangat mengganggu pihak-pihak tertentu. Apalagi ini tahun politik, tahun di mana para politisi membutuhkan ketenaran. Tahun di mana pencitraan sangat dibutuhkan agar bisa dinilai baik oleh rakyat. Tahun di mana pesaing sekecil apa pun kesempatannya harus dibungkam.

Jadi, sangat masuk akal jika akhirnya Anies dilarang turun. Karena kemungkinan adegan yang akan terjadi bisa mengangkat Anies jauh lebih tinggi. Untuk itu, sekecil apa pun, penampilan Anies harus dibungkam.

Dan jangan lupa, arena sepakbola adalah arena yang bisa ditunggangi kepentingan politik. Biasanya, jika politisi, partai, atau kandidat ingin mengumpulkan masa dalam jumlah puluhan ribu, mereka harus mengeluarkan uang milaran. Tapi di sepakbola, mereka tidak sepeser pun mengeluarkannya.

Sekali lagi, kasus Anies adalah contoh buruk yang tidak boleh terjadi lagi. Permintaan maaf, meski agak terlambat, juga perlu kita apresiasi. Tentang pandangan _nitizen_ berubah atau tidak, itu bukan lagi ranah yang perlu diperdebatkan. Ibarat nasi sudah jadi kerak, maka kita tak bisa lagi menikmatinya.

Semoga Anies tetap waspada.

(Visited 688 times, 3 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo