Offside.co.id

Awas! Pemain dan Pelatih Asing Tanpa KITAS di Liga 1

Selasa 4 April 2017 12:03 WIB

Offside.co.id – Jika tidak ada lagi perubahan jadwal hajatan “Gojek Traveloka” Liga 1 tak lama lagi akan bergulir, tepatnya 15 April 2017. Liga era baru yang memiliki jargon “Profesional” dan “Bermartabat” diharapkan jadi penggerak reformasi tata kelola sepakbola Indonesia. Akan terwujudkah?

Masih menjadi tanda tanya karena pertandingan belum lagi berlangsung. Namun, menilik jalannya persiapan tampaknya masih ada sejumlah regulasi yang kontroversial. Selain itu Liga 1 juga berpotensi mempekerjakan tenaga asing ilegal.

Berdasarkan hasil survey Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Save Our Soccer #SOS, sampai H-11 mayoritas klub belum mengurus Kartu Izin Tinggal Sementara/Terbatas (Kitas) yang menjadi syarat mempekerjakan tenaga asing.

“Pemerintah harus bertindak tegas. Ini tidak bisa dibiarkan karena merugikan negara. Klub peserta dan operator kompetisi harus ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku bila tak taat aturan. Jangan lagi ada toleransi untuk sebuah pelanggaran,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer (SOS) dalam rilisnya yang diterima Offside.co.id , Selasa.

KITAS adalah syarat wajib mempekerjakan tenaga asing sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 12 Tahun 2013 dan Undang Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang imigrasi.

Menurut #SOS, saat Indonesian Soccer Championship (ISC) banyak pemain dan pelatih asing tak punya izin kerja. Bahkan, pelatih timnas ketika itu, Alfred Riedl dan asistennya Hans Pieter Sieler serta Pikal Wolfgang pun tak memiliki KITAS.

Bisa jadi saat ini selain pelatih dan pemain yang akan tampil di Liga 1 belum banyak yang mengurus KITAS, PSSI juga abai dengan izin kerja pelatih timnas U-22 Luis Milla Aspas dan dua asistennya, Miguel Gandia, pelatih fisik, dan Eduardo Perez, yang sudah mendampingi timnas uji coba melawan Myanmar.

“Operator kompetisi dalam hal ini PT Liga Indonesia Baru (LIB) tidak boleh mengesahkan dan mengizinkan pemain dan pelatih asing yang belum memiliki KITAS. Bila hal ini diabaikan, tak ada bedanya dengan PT Liga Indonesia dan PT Gelora Trisula Semesta yang dulu melanggar aturan baik regulasi kompetisi maupun undang-undang negara,” kata Akmal.

Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) sebagai representasi negara yang berweneng melakukan pengawasan terhadap olahraga profesional tidak boleh lagi bersikap lembek dan kompromistis. BOPI dan PSSI juga harus bersinergi bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Imigrasi melakukan Memorandum of Understanding (MoU) untuk perlakuan khusus terkait percepatan pemain dan pelatih asing untuk mendapatkan KITAS.  (KS)

(Visited 70 times, 2 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo