Offside.co.id

Masih Banyak “PR” di Liga Kita

Senin 13 November 2017 17:05 WIB

Offside.co.id – Tim pendatang baru, Bhayangkara FC, tampil sebagai kampiun Gojek Traveloka Liga 1/2017. Musim pertama kompetisi gelaran PSSI, pasca terlepas dari sanksi FIFA, banyak diwarnai kejutan.

Munculnya klub milik Kepolisian RI ini sebagai juara telah merontokkan berbagai prediksi pengamat dan juga masyarakat sepakbola yang sebelumnya masih mengira bahwa klub-klub lama eks perserikatan seperti Persipura jayapura, Persib Bandung, Persija Jakarta bakal bisa melewati kompetisi musim pertama dengan hasil memuaskan.

Selain telah melahirkan juara, Liga 1 juga telah merontokkan tiga tim yakni Semen Padang, Persiba Balikpapan, dan Persegres Gresik terdegradasi ke Liga 2. Pengganti dari ketiga klub masih saling bersaing di arena Liga. Ada 8 tim yang berebut promosi masing-masing Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, Mojokerto Putra, PSPS Pekanbaru, Persis Solo, Kalteng Putra FC, Martapura FC, dan PSMS Medan.

Persija vs Persib (Foto: LIB)

Bukan saja kejutan memunculkan klub baru sebagai juara baru. Sepanjang perjalanannya Liga 1 juga diwarnai dengan sejumlah peraturan baru. Hanya saja, sangat disayangkan, peraturan baru tersebut tidak dijalankan secara konsisten sehingga menimbulkan banyak tanda tanya.

Sebut saja soal aturan setiap klub wajib memainkan tiga pemain muda (U-23) dalam setiap pertandingan yang dijalani. Aturan yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pemain-pemain muda itu, walau sempat ditentang, namun bisa berjalan juga.

Sayangnya, saat aturan sudah berjalan dan klub-klub mulai terbiasa, eh, di tengah jalan malah dihentikan.

Berikutnya soal aturan pergantian lima pemain. Walaupun boleh-boleh saja sistem ini diterapkan, namun lagi-lagi tidak dijalankan secara konsisten. Peraturan ini pun tidak dijalankan hingga kompetisi berakhir. Diputus di tengah jalan, dan diganti ke sistem pergantian pemain pada umumnya, yakni tiga pergantian.

Bhayangkara FC, juara Liga 1 (Foto: LIB)

Wajar jika masyarakat mempertanyakan keseriusan dari Liga ini mengingat adanya ketidakkonsistenan PSSI dalam menjalankan regulasinya. Belum lagi soal kriteria marquee player atau pemain bintang yangmasih absurd. Tidak semua pemain bintang yang didatangkan klub bisa dikatakan marquee player. Jawabannya mudah. Lihat saja track record-nya di mana saja pemain tersebut sebelumnya berkiprah.

Masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan PSSI apabila ingin menjadikan kompetisi di negeri ini benar-benar mau disebut profesional. Jangan hanya mau menyebut liga profesional, tapi regulator, operator, serta pesertanya masih bekerja secara amatiran.

Masih banyaknya pelanggaran yang dilakukan peserta kompetisi juga memperlihatkan masih minimnya kesadaran mentaati peraturan.

Masalah ini juga harus menjadi perhatian serius PSSI. Kebiasaan-kebiasan buruk di lapangan jangan terus diperlihatkan. PSSI pun harus menjadi motor utama taatnya menjalani aturan. Jangan PSSI malah memberikan contoh buruk yang pada akhirnya hanya akan menjadi bumerang diri sendiri.

Tugas PSSI dan juga operator Liga dalam menjalankan kompetisi tahun ini belum selesai. Masih ada perhalatan Babak 8 Besar Liga 2 yang tengah berlangsung. Pelaksanaan Liga 2 pun tak lepas dari persoalan yang juga harus menjadi perhatian PSSI.

Akhirnya, kita berharap akan ada perbaikan dalam pelaksanaan kompetisi berikutnya. Berbagai PR yang masih ada harus dapat diselesaikan oleh PSSI agar ke depan kita tak lagi dijejali dengan persoalan-persoalan serupa.

Bravo sepakbola Indonesia!

(Visited 99 times, 1 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo
Powered by Live Score & Live Score App