Offside.co.id

Mencari Figur Sekjen PSSI yang Matang

Minggu 14 Mei 2017 10:49 WIB

Offside.co.id – SATU bulan sudah berlalu, PSSI belum juga menunjuk seorang sekertaris jendral definitif. Posisinya masih dirangkap oleh Wakil Ketua Umum, Joko Driyono yang juga pernah menjadi sekjen di masa Transisi (Komite Normalisasi) dan saat rekonsiliasi.

Posisi sekjen saat ini berbeda jauh dengan sekjen-sekjen sebelumnya. Meski tugas dan fungsinya tetap sama yakni menjalankan organisasi kesekertariatan, tapi sekjen saat ini bukanlah pengurus tapi seperti CEO. Dengan begitu, harusnya lebih mudah mencari sosok seperti itu. Artinya, PSSI harusnya tidak berlarut-larut untuk segera menentukan pilihan.

 

Joko atau Hifny
Dari sembilan nama yang konon sudah mendaftar atau melamar, saya melihat hanya ada satu nama yang memiliki kualifikasi untuk menempati pos sekjen. Adalah Hifny, mantan Sekjen Komite Olimpiade Indonesia (KOI) ini paling pas untuk menjabat sebagai motor organisasi sebesar PSSI.

Pengalamannya menjadi sekjen KOI akan sangat membantu PSSI untuk menjalin komunikasi dengan pihak di luar PSSI hingga ke Komi Olimpiade Internasional (IOC). Sebelum di KOI, Hifny juga berada dalam pengurus teras KONI pada era Rita Subowo. Selain itu, ia juga seorang pengacara. Dengan posisi itu, maka secara teknis dan non-teknis Hifny sangat pas.

BACA JUGA :   Bonucci: Saya Bukan Penghianat!

Tetapi, jika PSSI ingin organisasinya berjalan lebih baik, maka pilihan utamanya ada pada Joko Driyono. Namun, dengan statuta yang ada, Joko tidak bisa rangkap jabatan.

Sementara nama-nama yang lain, dengan rasa hormat yang tinggi, PSSI hendaknya tidak main-main lagi dengan menunjuk mereka. Untuk memperbaiki kondisi yang koyak selama ini, PSSI wajib memilih sekjen yang matang.

Kesalahan besar yang dilakukan sebelumnya dengan menunjuk seorang sekjen yang tak berpengalaman membuat langkah PSSI jadi terhambat.

Jika Ketua Umum PSSI enggan memilih Joko atau Hifny, maka saya melihat ada sosok lain yang juga tepat menjadi sekjen. Yesayas Oktavianus, wartawan senior yang sesungguhnya punya andil sangat besar terpilihnya Edy Rahmayadi sebagai ketua umum.

BACA JUGA :   Mongolia Anggap Indonesia Tim Kuat

Yesayaslah yang pertama menyebut nama Edy Rahmayadi di hadapan Jokowi. Mantan wartawan Kompas itu bersama Torik Hadad wartawan senior dari majalah Tempo diminta Jokowi untuk mempersiapkan revolusi PSSI. Tetapi di ujung perjalanan, Yes panggilan akrabnya, bersama Torik, menarik diri.

Sepanjang sejarah PSSI, posisi sekjen atau sekum pada era sebelumnya, diisi oleh sedikit orang. Sutiyono J. Alis, Soeparjo Pontjowinoto, Soemaryoto, Nugraha Besoes, Tri Gustoro, dan Joko Driyono. Dari nama-nama itu, Nugrahalah orang yang terlama menduduki pos itu. Ia bahkan menjadi satu-satunya yang sempat menjadi sekum dan sekjen.

Siapakah yang paling pas? Semua berpulang pada ketua umum. Terpenting, jangan salah untuk kedua kalinya.

Bravo sepakbola nasional!

(Visited 626 times, 9 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo