Offside.co.id

Menguak Lingkaran Sponsor Klub Sepakbola Indonesia (Bag.2)

Sabtu 7 Januari 2017 20:35 WIB

Offside.co.id – PT NSP termasuk cemerlang karena memiliki kedekatan dengan perusahaan raksasa Amerika Serikat, Texas Pacific Group (TPG). PT NSP mengelola dana TPG dan menginvestasikannya di sektor minyak dan gas – salah satunya ada di Sumatera Selatan –, retail, telekomunikasi, perbankan hingga mengakuisisi Alfa Retailindo dan Alfamart yang sebelumnya dikuasai PT Sampoerna.

Selain itu, ada pula PT Daya Adira Mustika (DAM). Perusahaan ini juga pernah mengikat kontrak dengan Persib selama empat musim (2009-2013). Hadirnya PT DAM ke Persib terbilang menarik karena masih memiliki keterkaitan keluarga dengan Patrick Walujo. Patrick sendiri merupakan menantu Teddy Rahmat, mantan direktur PT Astra International. Adapun Teddy adalah anak kandung Raphael Adi Rahmat, pendiri PT DAM.

Ada juga Corsa, merek ban di bawah PT. Multistrada Arah Sarana, Tbk, (MAS). PT. MAS sendiri dipimpin Pieter Tanuri yang notabene pernah tercatat sebagai salah seorang komisaris di PT. PBB.

Kehadiran sponsor makin mewarnai klub-klub sepakbola Indonesia.

Kehadiran sponsor makin mewarnai klub-klub sepakbola Indonesia.

Musim 2011 Persib juga disponsori beberapa perusahaan investasi seperti PT Surya Eka Perkasa, Equator Capital, Buana Capital, dan Bloom Nusantara Capital. PT Trikomsel, yang menaungi Oke Shop, juga turut menjadi sponsor resmi Persib. Dan lagi-lagi, Glenn T Sugita menjabat sebagai komisaris perusahaan tersebut.

Musim ini di ajang ISC 2016 tercatat ada 15 sponsor yang memb-back up Persib yakni, Datsun, Indofood, Kopi ABC, FWD, IM3, Dompetku, Cipika.co.id, Sportama, Corsa, Achilles, Envi, Rhino, ISMC, Bobotoh FM, dan Panther.

BACA JUGA :   Madrid Bungkam Getafe, Suarez Selamatkan Barca

Melihat deretan sponsor yang pernah dan masih menempel di Persib, wajar jika membuat iri klub-klub lain. Namun jika dicermati, sebenarnya deretan sponsor yang ada di Persib kini juga sudah mulai terlihat di beberapa klub seperti Arema Cronus, Persija Jakarta, Bali United, serta klub divisi utama Celebest FC.

Cross Ownership

Sebuah fenomena menarik. Paling tidak, perlahan tapi pasti geliat sepakbola Indonesia menuju era industri sudah dimulai. Namun demikian, melihat sebaran produk sponsor yang ada di klub-klub, sumbernya memang terpusat di lingkaran sosok perusahaan-perusahaan yang mensponsori Persib.

“Kami murni bisnis,” kata Pieter Tanuri, bos Corsa kepada Kesit B Handoyo dari Offside.co.id.

Selain menjadi sponsor Persib, Corsa juga menjadi sponsor di Arema Cronus, Persija, Bali United dan Celebest FC. Pieter Tanuri juga dikenal merupakan kakak kandung dari Yabes Tanuri, CEO PT. Bali Bintang Sejahtera, perusahaan yang menaungi Bali United. Bali United merupakan klub yang juga disponsori Corsa.

Saling terkaitnya sosok-sosok yang ada di balik manajemen klub sepakbola yang juga berkiprah sebagai sponsor ada nilai positif dan negatifnya. Positifnya karena berkat peran mereka, klub-klub kini mulai berbenah diri memelihara partner sponsornya. Keuangan klub pun mulai membaik. Di sisi lain, sponsor pun gembira karena mendapatkan panggung dan produknya makin dikenal masyarakat.

Duel klasik Persib vs Persija. (Foto: Tempo.co)

Duel klasik Persib vs Persija. (Foto: Tempo.co)

 

BACA JUGA :   Gol Pavel Puriskhin Bikin Persib Terkapar

Nah, sisi negatifnya adalah rentan terjadi kolusi, mengingat keterkaitan antara pemilik atau pengelola klub dengan pemilik produk sponsor. Jika tidak diawasi, bukan tidak mungkin kepemilikan bersama klub bisa terjadi. Padahal itu sangat dilarang oleh FIFA.

Isu cross ownership (kepemilikan klub bersama) tengah menjadi fokus perhatian utama FIFA belakangan ini. Maklum, banyak pengusaha kaya raya asal Timur Tengah yang belakangan hobi membeli klub-klub elite Eropa.

Menurut Djoko Driyono, Direktur Utama PT GTS selaku operator Indonesia Soccer Championship 2016, di Indonesia, kemungkinan itu bisa terjadi. Karena itu penelusuran kepemilikan akan tetap dilakukan oleh PT GTS. Djoko menegaskan pihaknya akan tetap concern untuk menghindari adanya cross ownership.

Hanya saja, kata Djoko, tetap ada persoalan krusial yang dihadapi saat meneliti cross ownership. Di antaranya ada kepemilikan dua klub yang sejatinya dikuasai satu orang atau kelompok, namun berbeda nama di klub yang lain. Dengan kata lain, cuma pinjam nama orang lain atau orang kepercayaan di klub yang kedua atau ketiga. “Itu yang sangat sulit dilacak. Butuh usaha lebih,” katanya kepada Hanif Marjuni dari Offside.co.id.

Djoko Driyono

Djoko Driyono

 

BERITA MENARIK LAINNYA 

Persib Bandung, Teladan atau Anak Emas?

Joko Driyono: Boleh Saja Punya Dua Klub, Asalkan…

Pieter Tanuri: Misi Kami Murni Bisnis

(Visited 1.285 times, 238 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo