Offside.co.id

Menunggu Babak Baru di PSSI

Kamis 31 Januari 2019 11:38 WIB

Offside.co.id – Bukan PSSI namanya jika hari-hari di tubuh organisasi sepakbola Indonesia tak diwarnai dengan gonjang-ganjing. Sebagai federasi dari cabang olahraga paling populer di Indonesia PSSI selalu menjadi sorotan masyarakat. Sekecil apapun kejadian di sana masyarakat selalu ingin tahu. Apalagi kejadian besar, terlebih melibatkan para petingginya.

Teranyar adalah soal terbongkarnya kasus pengaturan skor, atau yang lebih keren disebut “Match Fixing”. Mengejutkan karena kasus ini melibatkan sejumlah sosok terhormat di jajaran Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Ada nama Hidayat, figur Exco yang mendadak mengundurkan diri menyusul terungkapnya keterlibatan dirinya dalam dugaan pengaturan skor pertandingan PSS Sleman melawan Madura FC di pentas Liga 2, tahun lalu.

Berikutnya giliran Johar Lin Eng. Anggota Exco asal Semarang ini dicokok Satgas Antimafia Bola, yang dibentuk Kepolisian RI, saat mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Desember tahun lalu. Johar Lin Eng diduga terlibat pengaturan skor dan sudah dijadikan tersangka.

Hingga kini setidaknya sudah 11 orang, baik dari jajaran PSSI maupun pihak luar yang sudah dijadikan tersangka. Boleh jadi tersangka-tersangka lainnya akan bermunculan seiring dengan makin bertambahnya laporan yang masuk. Saat ini dua petinggi PSSI lainnya, Joko Driyono (Plt Ketua Umum PSSI yang menggantikan Edy Rahmayadi) dan Iwan Budianto (Kepala Staf PSSI), juga masuk dalam daftar Exco yang dimintai keterangannya oleh Polisi.

BACA JUGA :   Tiga Gol Dianulir, Brasil Ditahan Venezuela

Masyarakat sepakbola Indonesia sangat berharap Satgas Antimafia Bola pimpinan Brigjen Pol Hendro Pandowo dan wakilnya Brigjen Pol Khrisna Murti terus mendalami dugaan kasus pengaturan skor di lingkungan sepakbola Indonesia. Di saat PSSI lamban merespons kabar-kabar tak sedap mengenai “match fixing” ini, masyarakat menginginkan polisi bisa menjadi pihak terdepan yang dapat menuntaskan persoalan yang sangat serius dan merusak tatanan sepakbola Indonesia.

Polisi berjanji akan menuntaskan kasus ini hingga ke akar-akarnya tanpa pandang bulu. Ini sangat menggembirakan. Setidaknya, upaya membongkar dugaan pengaturan skor kembali diperlihatkan polisi saat menggeledah kantor PSSI dan ruangan Joko Driyono di dua lokasi berbeda, Kemang dan FX Tower, Jakarta, Rabu (30/01/19).

Kita belum tahu apa saja yang ditemukan polisi dari hasil penggeledahan tersebut. Yang pasti, seperti dikatakan Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, penggeledahan dilakukan untuk membuat terang kasus pengaturan skor.

Terbongkarnya kasus pengaturan skor sejatinya bisa menjadi pintu masuk bagi seluruh stakeholder sepakbola Indonesia melakukan bersih-bersih secara menyeluruh di lingkungan PSSI. Mundurnya Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi dalam pembukaan Kongres Tahunan PSSI di Bali beberapa waktu lalu bisa menjadi momen bagus dimulainya reformasi di tubuh PSSI.

Kita ingin bersih-bersih di PSSI tidak hanya sebatas pada mundurnya Edy Rahmayadi dari kursi ketua umum. Bersih-bersih bisa dilanjutkan pada para anggota Exco PSSI yang eksistensi dan kredibilitasnya terus tergerus. Bagaimana tidak, sosok-sosok terhormat yang seharusnya menjadi panutan dan motor terdepan dalam perbaikan sepakbola Indonesia, justru terlibat dalam permainan kotor.

BACA JUGA :   Kejutan, Qatar Buyarkan Pesta Paraguay

Anggota-anggota PSSI harus cerdas dan kritis menyikapi keadaan ini. Perubahan di PSSI bisa dilakukan oleh mereka. Arah dan tujuan sepakbola Indonesia berada di tangan para anggota. Adalah salah besar jika mereka sudah puas dengan mundurnya Edy Rahmayadi dan naiknya Joko Driyono sebagai pengganti. Saatnya para votters (pemilik suara) terus mendengungkan perlunya Kongres Luar Biasa (KLB) sebagai pintu masuk berikutnya dalam mereformasi organisasi PSSI.

Persoalan di PSSI bukan hanya pada sosok ketua umum. Tak bisa dimungkiri bahwa persoalan  PSSI juga muncul akibat masih adanya wajah-wajah lama di organisasi sepakbola itu. Suka atau tidak, mereka adalah orang-orang yang selama ini kerap menjadi pembicaraan miring di kalangan pecinta sepakbola.

Sepakbola Indonesia tidak akan pernah maju selama para pemilik suara di PSSI tidak berani berteriak lantang menyuarakan perubahan. Ya, perubahan untuk sebuah situasi yang lebih kondusif, perubahan untuk sebuah kemajuan yang lebih nyata, serta perubahan untuk sepakbola Indonesia yang lebih baik.

Semoga.

(Visited 27 times, 1 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply