Offside.co.id

Persib Bandung, Teladan atau Anak Emas? (Bag.2)

Sabtu 7 Januari 2017 20:00 WIB

Offside.co.id – Padahal, saat dinyatakan kalah WO tersebut, PBFC juga sudah mengajukan penundaan laga melawan Perseru, namun permohonan tersebut ditolak GTS. Hal sebaliknya justru dialami Persib Bandung.

“Operator hanya mengakomodir keinginan klub-klub tertentu, sementara klub-klub lain ditegas-tegasin dengan peraturan. Kenapa harus begini? Apa perlu kita punya saham dulu biar bisa di anak emaskan?,” tambah Abe Hedly.

Jika diusut lebih jauh, sosok Glenn Timothy Sugita menjadi faktor utama di balik beberapa keistimewaan yang diberikan GTS kepada Persib Bandung. Pasalnya, ia yang saat ini menjadi Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat juga terdaftar sebagai Komisaris Utama GTS.

Kendati begitu, CEO GTS, Joko Driyono menganggap klaim dari PBFC hanya opini belaka. Pihaknya menjelaskan, bahwa GTS menganggap semua klub ISC sama, dan tidak ada kepentingan dengan klub tertentu.

( Baca Jelang Laga Kontra Persib, Bali United Krisis Bek Kiri )

“Dalam regulasi ISC pasal 14 ayat 8 dijelaskan bahwa klub dapat mengajukan perubahan jadwal pertandingan 7 hari sebelum pertandingan. Kemudian dalam pasal 14 ayat 7 berisi bahwa penundaan pertandingan dapat dilakukan dengan alasan keamanan, siaran langsung TV, force majeure, dan agenda nasional/daerah,” kata Joko Driyono kepada Bakhtiar Majid dari Offside.co.id, Kamis (1/9).

“Jadi menurut kami, GTS tidak bisa menolak permohonan tersebut karena sudah sesuai dengan regulasi ISC. Event PON juga termasuk agenda nasional,” jelasnya lagi.

CEO GTS, Joko Driyono menganggap permohonan Persib sesuai regulasi. (Foto: Bakhtiar Majid/ Offside.co.id)

CEO GTS, Joko Driyono menganggap permohonan Persib sesuai regulasi. (Foto: Bakhtiar Majid/ Offside.co.id)

Sebenarnya, untuk masalah tempat pertandingan, Persib bisa mencontoh apa yang dilakukan Persija Jakarta. Seperti diketahui, Macan Kemayoran harus terusir dari kandangnya, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) karena proses renovasi jelang Asian Games 2018 dan insiden kerusuhan suporter beberapa waktu lalu.

BACA JUGA :   Persiba Buyarkan Ambisi Bali United

Semenjak itu, Persija menjadi tim musafir dengan menggunakan Stadion Manahan di Kota Solo untuk menjamu lawan-lawannya, bahkan menggunakan stadion lawannya sebagai ‘kandang’.

( BACA  Pieter Tanuri: Misi Kami Murni Bisnis )

Namun, Media Officer Persib, Irfan Suryadireja mengatakan, kasus Persija tidak bisa disamakan dengan kondisi yang dialami Persib.

“Regulasi memperbolehkan kami untuk itu. Kami tentu tidak bisa bermain di luar Jawa Barat, karena statusnya bukan partai usiran,” ungkap Irfan.

Lalu, keistimewaan lain yang diberikan GTS kepada Persib adalah status Djajang Nurjaman yang hingga kini masih menjadi pelatih kepala tim Maung Bandung. Dalam regulasi, pada pasal 37 ayat 1e tertulis bahwa pelatih kepala untuk klub ISC A harus minimal berlisensi A AFC. Sementara pelatih yang akrab disapa Djanur tersebut masih menggunakan lisensi B AFC.

GTS memberikan keringanan kepada Djanur karena pelatih asal Majalengka itu memegang Recognition of Competence atau rekomendasi yang menyatakan bahwa seorang pelatih memiliki kompetensi untuk melatih di strata tertinggi dari PT Liga Indonesia yang telah membawa Persib juara Indonesia Super League 2014 silam. Jika begitu, apakah PT Liga melakukan blunder?

Jika ditelusur pada 2014, Djanur memakai lisensi B AFC saat membawa Persib juara ISL. Padahal dalam regulasi, pelatih kepala ISL harus minimal memiliki lisensi A AFC. Dan peraturan ini telah diterapkan sejak dimulainya ISL pada 2008.

BACA JUGA :   Klock dan Pluim Bakal Repotkan Maung Bandung

BACA JUGA Kurniawan Siap Maju Sebagai Ketua Umum PSSI

Sementara kondisi berbeda dialami Jan Saragih di Persija Jakarta. Jan hanya berlisensi B AFC dan sempat didapuk menjadi caretaker pelatih Macan Kemayoran harus merelakan posisinya kepada orang lain. Persija pun baru saja menunjuk pelatih baru, Muhammad Zein Al Hadad untuk menangani klub ibukota tersebut di putaran kedua ISC A.

Selain itu, GTS juga dianggap melakukan monopoli hak siar televisi untuk Persib Bandung. Hasilnya, pada putaran pertama ISC A, hanya satu pertandingan Persib yang tidak disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi, yaitu saat Persib bertandang ke markas Perseru di Serui.

Sebanyak 16 dari 17 pertandingan Persib di putaran pertama ISC A disiarkan secara langsung oleh televisi. (Foto: Bakhtiar Majid/ Offside.co.id)

Sebanyak 16 dari 17 pertandingan Persib di putaran pertama ISC A disiarkan secara langsung oleh televisi. (Foto: Bakhtiar Majid/ Offside.co.id)

Sisanya, sebanyak 16 pertandingan Persib disiarkan secara live oleh official broadcaster GTS. Tak heran, pada evaluasi ISC A putaran pertama, Persib menduduki peringkat pertama peraih rating tertinggi. Dampaknya, Persib menjadi klub yang memiliki banyak sponsor diantara kontestan ISC.

Total terdapat 15 sponsor yang mendukung perjalanan Persib di kompetisi ini. Mereka adalah Datsun, Indofood, Kopi ABC, FWD, IM3, Dompetku, Cipika, Sportama,Corsa, Achilles, Envi, Rhino, ISMC, Bobotoh FM dan Panther.

BERITA MENARIK LAINNYA 

Persib Bandung, Teladan atau Anak Emas?

Joko Driyono: Boleh Saja Punya Dua Klub, Asalkan…

Pieter Tanuri: Misi Kami Murni Bisnis

(Visited 747 times, 28 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid