Offside.co.id

Persija Juara, Kok, Anies Dilarang Turun?

Minggu 18 Februari 2018 22:48 WIB

Offside.co.id – LEBIH dari tujuh belas tahun, Persija, klub ibukota tidak pernah meraih tempat terhormat di blantika. sepakbola nasional. Sabtu (17/2) malam, klub berjuluk Macan Kemayoran itu mampu meraih gelar juara Piala Presiden, di hadapan 72 ribu pendukungnya yang memadati Stadion Utama, Senayan, setelah menyungkurkan Bali United 3-0.

Namun di tengah kegembiraan Persija dan the Jak (pendukung klub berbalut kostum oranye) itu, ada kejanggalan yang menyeruak. Adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, yang kala itu akan turun ke lapangan dari royal box tiba-tiba langkahnya terhenti. Ada tiga orang yang belum jelas dari mana, tetapi patut dapat diduga adalah anggota Paspampres, seperti terlihat di dalam media sosial yang sedang viral, menahannya.

Salah satu dari anggota itu berbisik pada sang Gubernur Anies. Tidak jelas apa kata-katanya, tetapi dari visual di medsos itu terlihat wajah gubernur DKI berubah. Sang pembina utama Persija itu pun akhirnya kembali ke pojok kiri royal box tempat duduknya.

Adegan itu menimbulkan tanya yang besar, ada apa serta kenapa kok sang gubernur yang memiliki ikatan dengan klub asal ibukota itu dilarang turun? Tidak mudah untuk menjawabnya, itu pasti. Apa lagi jika kita ingat bahwa Gubernur DKI yang lalu, tahun 2015, Ahok justru ikut turun dengan presiden Jokowi, padahal Persija tidak juara kala itu.

BACA JUGA :   Hattrick Ronaldo Selamatkan Portugal

Sekali lagi, adegan ini suka atau tidak, telah melahirkan stigma bahwa Anies adalah tokoh yang bisa membahayakan. Orang bisa saja mengkaitkan dengan jalur politik, meski secara tegas ketua panitia Piala Presiden, Maruarar Sirait mengatakan perhelatan ini terbebas dari politik. Bahkan dengan bangga ia menegaskan kegiatan ini telah sesuai dengan intruksi presiden. “Sepakbola ini sudah” on the track”. Kegembiraan untuk rakyat!” katanya saat berpidato jelang pertarungan.

Dengan fakta itu jelas ada perbedaan yang mencolok. Ada seorang rakyat yang kebetulan menjabat sebagai gubernur, tapi dilarang turun ke lapangan entah dengan alasan apa. Padahal rakyat yang satu itu adalah pemimpin dari lebih dari sembilan juta rakyat DKI yang klubnya baru saja juara.

Dan yang lebih menimbulkan tanda tanya mengapa Anies tak boleh turun, apakah karena dia merupakan gubernur yang secara politik berseberangan dengan sang presiden? Atau, apakah karena belakangan hasil lembaga survey menyebut Anies adalah salah satu calon alternatif untuk maju di pilpres mendatang? Berjuta tanya bisa muncul dan berjuta analisa juga bisa mencuat. Saya yakin, semua itu tidak mudah untuk dijawabnya.

PSSI sebagai induk organisasi sepakbola nasional, juga harus mampu menjawabnya. Dan, lembaga apa pun yang terlihat jelas ada tiga anggotanya yang menghalangi langkah Gubernur Anies, harus juga mampu menjelaskannya. Jika tidak, maka jelas telah terjadi tindakan yang tidak menyenangkan untuk seorang gubernur. Lebih buruk lagi, tindakan itu bisa digolongkan tindakan diskriminatif.

BACA JUGA :   Jerman Tumbang Setelah 36 Tahun

Sebagai catatan, bahwa sepakbola dan politik tidak bisa dipisahkan. Lahirnya PSSI tahun 1930, murni untuk politik kebangsaan. Dan berulang-ulang PSSI digunakan untuk kepentingan politik negara. Jadi, jangan pernah takut untuk mengkaitkan sepakbola dengan politik.

Begitu juga, suka atau tidak, lahirnya kegiatan Piala Presiden sendiri dengan basis politik. Ya, politik untuk menyingkirkan La Nyalla Mattalitti, ketua umum PSSI yang waktu itu masih sah. Kegiatan yang di launching di Bali itu jelas dan tegas kegiatan politik praktis.

Namun dalam perjalanannya Piala Presiden menjadi kegiatan alternatif bagi klub-klub profesional sebelum kompetisi. Kegiatan yang bisa menjadi lebih besar dari yang ada. Tapi, sayang jika selalu harus melakukan langkah diskriminatif.

Di Piala Presiden yang pertama, La Nyalla dilarang muncul. Dan saat ini, Anies Baswedan, Gubernur DKI dilarang turun. Pertanyaannya, siapakah yang harus bertanggung jawab atas semua itu?

Wallahu allam bisawab….

(Visited 1.129 times, 2 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo