Offside.co.id

Catatan M. Nigara: Langkah Awal PSSI, Keliru

Minggu 8 Januari 2017 16:23 WIB

Offside.co.id – Kekeluargaan, pasti itu dasar yang diambil oleh Executive Committee (exco) PSSI saat memutuskan menerima kembali beberapa eks klub yang pernah diberhentikan dari organisasi karena pelanggaran berat. Benarkah langkah itu?

Jika mengacu pada azas kekeluargaan yang lazim di negeri ini, tentu tidak ada yang salah. Tapi, jika mengacu pada basis organisasi yang sesungguhnya, apalagi ada tatanan yang berbasis internasional, saya berani mengatakan langkah itu keliru.

Langkah ini akan menjadi preseden buruk bagi persepakbolaan tanah air yang suka atau tidak mengacu pada regulasi di dunia yang bernama FIFA. Benar bahwa seluruh perjalanan organisasi sepakbola sepenuhnya diatur oleh federasi masing-masing negara, tetapi setiap langkah yang mereka ambil suka atau tidak terkait dan mengkait dengan internasional sebagai induk setiap federasi itu sendiri.

Contohnya, jika ada federasi yang dihukum FIFA, meski tetap keluarga, tetapi pengampunannya harus tunduk dengan regulasi yang ada. Pembatalan keputusan tidak boleh berbasis pada sustem kekeluargaan.

BACA JUGA :   Persiba Buyarkan Ambisi Bali United

Hanya Satu
Terkait masalah Persebaya 1927 dan Arema Indonesia, sesungguhnya tidak masalah PSSI ingin menerima mereka, tetapi bukan dengan dasar kekeluargaan. Persebaya 1927 dan Arema Indonesia bukanlah anggota PSSI, jadi agak aneh ketika atas nama kekeluargaan diterima serta ditempatkan di Divisi Utama.

Persebaya 1927 bukanlah Persebaya yang pernah dihukum PSSI karena ikut dalam kompetisi IPL (breakaway league). Persebaya yang dihukum itu sudah menjalankan hukumannya terdegradasi dari ISL ke DU dan telah kembali ke ISL setelah melewati hukumannya. Jadi, sangat aneh ketika Persebaya 1927 ditempatkan sebagai peserta DU.

Bahwa Cholid Goromah dan kawan-kawan berhasil memenangkan gugatan tentang brand Persebaya, itunsoal hukum positif. Brand Persebaya yang dimenangkan itu substansinya bukan klub Persebaya 1927. Kalau PSSI mau mengambil sikap yang sesuai regulasi, seharusnya Persebaya Cholid (bukan Persebaya 1927) menggantikan Persebaya yang dipimpin Gde. Begitu.juga dengan Arema Indonesia, harusnya tidak ditempatkan di DU.

BACA JUGA :   Gol Pavel Puriskhin Bikin Persib Terkapar

Persebaya dan Arema sesungguhnya hanya satu bukan seperti saat ini. Namun karena langkah sudah dilakukan dan sudah pula disahkan kongres 2017, maka PSSI, utamanya Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi yang merupakan orang baru di sepakbola nasional, harus bersiap-siap di masa depan. Dengan langkah keliru dan menjadi preseden buruk, jangan kaget kedepan akan terulang kasus-kasus serupa.

Pertanyaannya: “Jika langkah kekeluargaan sekarang dilakukan, siapkah mengulang kembali?”

Jawabnya kita tunggu saja.

Penulis adalah Wartawan Senior Olahraga; Mantan Wakil Sekjen PWI Pusat 1995-2000

(Visited 778 times, 3 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo