Offside.co.id

Catatan M. Nigara: PSSI Jangan Kuping Tipis

Senin 9 Januari 2017 11:28 WIB

Offside.co.id – Luis Fernandez atau Luis Milla yang kelak akan menduduki posisi pelatih kepala Tim Nasional (PSSI), bukanlah inti persoalan. Keduanya sudah teruji baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih. Artinya, harapan pantas kita sematkan pada salah satu di antaranya.

Persoalan yang sesungguhnya justru ada di dalam tubuh PSSI sendiri. Mengapa? Ketidaksabaran, inkonsistensi, dan instanisasi. Dari ketiganya, bermuara pada kuping tipis. Akibatnya sudah bisa kita duga, kegagalan demi kegagalan akan kembali terjadi.

Kecuali kepengurusan La Nyalla Matalitti yang belum berkiprah hingga tidak bisa kita sebut gagal, kepengurusan PSSI sejak era Bardosono (1975an) hingga era Johar Arifin Husien, semua tim nasionalnya gagal. Meski demikian, Kardono boleh disebut Ketua Umum PSSI yang paling lumayan, sukses dua kali juara Sea Games (1987-1991) dan Juara Sub-grup III B Asia, Pra Piala Dunia 1985.

Meski demikian, PSSI sesungguhnya telah membuat basis pembinaan yang sangat baik. Bardosono memiliki Diklat Salatiga yang melahirkan beberapa pemain terbaik, antara lain Suhatman dan Burhanuddin. Lalu Bang Ali Sadikin memiliki PSSI Binatama yang melahirkan banyak pemain nasional: Endang Tirtana, Haryanto, Bonar Tobing (kiper), Rully Neere, Bambang Nurdiansyah, Arif Hidayat, David Sulaksmono dan banyak lagi. Kardono mempunyai PSSI Garuda yang menelorkan Hermansyah, Agus Waluyo (kiper), Patar Tambunan, Azhari Rangkuti, Marzuki Nyakmad, Aji Ridwan Mas dan masih banyak lainnya. Dan di saat Azwar Anas, PSSI juga mempunyai PSSI Primavera dengan Kurnia Sandy, Bima Sakti dan Kurniawan.

BACA JUGA :   Pergi dari Klub Usai Juara EPL, Bukan Cuma Ranieri!

Putus

Tapi, semua tim bentukan yang awalnya disebut-sebut memiliki pembinaan jangka panjang, tak pernah sampai finis. Pelatih yang dilibatkan juga bukan sembarangan:Joao Barbatana (pelatih Brazil Selection) di mana Socrates, kapten timnas Brazil ikut di dalamnya. Ada Joseph Masopust, mantan pemain terbaik Eropa 1960-an. Primavera ditangani pelatih Romano Matte, pelatih yang ikut menangani akademi Sampdoria, klub serie-A yang kala itu ada di papan atas liga Italia.

Mengapa kita gagal dan gagal lagi? Jawaban sesungguhnya ada pada para mantan pemain nasional itu sendiri. Saya tidak hendak menuduh apa pun, tapi saya percaya mereka tahu jawaban sesungguhnya.

Selain itu, tiga faktor di atas menjadi penyumbang kegagalan yang sangat besar. *Ketidaksabaran* adalah faktor paling dominan. Langkah ini jelas mengabaikan proses dan hanya ingin memetik hasil. Begitu timnas gagal, biasanya hasrat atau tepatnya syahwat ambius yang ada, langsung berontak.

Inkonsistensi berulang terjadi. Ini juga menjadi pemicu yang sangat dominan. Kegagalan bisa berakibat dengan melompat-lompatnya program. Terakhir instanisasi pengganggu paling besar. Jika dulu sebelum globalisasi ada, tayangan langsung sepakbola internasional sangat jarang, kini kita dijejali tayangan-tayangan itu. Tak heran pecinta Manchester United di tanah air jumlahnya kedua terbesar di dunia setelah di Cina.

BACA JUGA :   Gawat! Tiga Pelatih Top Ini Rebutan Bonucci

Dengan kondisi seperti itu, maka pola pikir dan pola pandang kita, berujung pada pengharapan yang nyaris sama dengan apa yang ada di luar. Akibatnya, kita sering mensejajarkan diri dengan mereka yang ada di luar itu. Padahal, kualitas dan potensi kita masih jauh di bawah mereka.

Semangat Baru
Sepanjang semua itu tidak segera diubah, maka sepanjang itu juga kegagalan justru tinggal menunggu waktu saja. Jadi, kunci berhasil atau tidaknya Luis Hernandez atau Luis Villa di timnas, justru bukan di tangan mereka. Sukses atau tidaknya timnas kita, justru bergantung pada pengurus PSSI itu sendiri.

Nah, untuk itu, PSSI harus memiliki semangat yang baru. Dan semangatnya jangan harus di mulut saja, tapi harus dengan perbuatan. Artinya lagi, perkataan harus selalu sama dengan perbuatan.

Dengan posisi itu, maka, siapa pun yang menangani timnas kita, bukanlah persoalan. Kita tunggu saja.

Penulis adalah Wartawan Senior Sepakbola; Mantan Wakil Sekjen PWI Pusat 1995-2000

 

 

(Visited 162 times, 3 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo