Offside.co.id

Hanya untuk Hormati MA dan FIFA, Pembekuan PSSI Dicabut

Rabu 11 Mei 2016 12:38 WIB

AKTIVITAS sepakbola Indonesia akhirnya bisa berjalan lagi. Hal ini tak lepas dari telah dicabutnya Surat Keputusan (SK) Pembekuan PSSI oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Kini, induk organisasi sepakbola Tanah Air itu sudah bisa bekerja lagi.

Imam mengklaim ada dua alasan yang menjadi pertimbangan mengapa pemerintah akhirnya memutuskan untuk mencabut SK Pembekuan PSSI. Salah satunya, adalah ia melihat ada komitmen serius dari FIFA dan anggota PSSI untuk mendukung perubahan terhadap sepakbola Indonesia. Kedua?

“Semata-mata kami ingin menghormati keputusan MA,” ungkap Imam seperti dikutip situs resmi Kemenpora, Rabu (11/5). Karena alasan itulah Imam akhirnya meneken surat pencabutan sanksi (SK Pembekuan) yang pernah ia keluarkan.

Memang, dua motif itu yang ia ungkapkan. Hanya untuk menghormati pengadilan dan FIFA. Belum terucap alasan demi peduli pada nasib pemain, suporter, sektor informal dan lain-lain. Tapi, apapun, lepasnya sanksi ke PSSI patut disyukuri.

Setelah mengeluarkan SK pencabutan pembekuan PSSI, pria 43 tahun itu mengaku langsung melaporkannya kepada FIFA. Federasi sepakbola dunia itu sendiri akan menggelar kongres pada 12-13 Mei di Meksiko. “Sudah, sudah kami laporkan ke FIFA melalui e-mail pada 19.00 WIB. Karena kami menghormati FIFA,” ujar Imam.

BACA JUGA :   Menang Lagi, Bali United Pimpin Klasemen

Seiring kesediaan Menpora mencabut pembekuan, PSSI kemungkinan besar bakal terbebas dari sanksi aministratif FIFA. Otoritas sepakbola tertinggi dunia tersebut telah memberi sinyal bakal membebaskan sepakbola Indonesia dari sanksi jika SK pembekuan PSSI dicabut.

Menpora sendiri mengeluarkan SK Pembekuan PSSI bernomor 01307 pada 17 April 2015. Sanksi tersebut diberikan sehari sebelum federasi sepakbola tertinggi di Indonesia itu menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) dan menunjuk La Nyalla Mahmud Mattalitti sebagai ketua umum PSSI periode 2015-2019.

Selama setahun terakhir, seluruh kegiatan organisasi PSSI lumpuh. Kompetisi profesional dan amatir mati suri. Klub-klub hanya bisa tampil di turnamen yang digelar pihak ketiga. Pemain banyak kehilangan penghasilan. Di sisi lain, timnas Indonesia juga tidak bisa mengikuti event-event internasional karena FIFA menjatuhkan sanksi berkaitan intervensi yang dilakukan pemerintah Indonesia.

Selama pembekuan, tidak ada perubahan positif yang bisa dinikmati dari dunia sepakbola Tanah Air. Sudah banyak wacana yang disampaikan Imam dan Kemenpora terutama terkait blue print pembenahan sepakbola Indonesia. Namun kenyataannya, hingga kini belum terlihat hasilnya. Padahal, Menpora membekukan PSSI dengan niat untuk membenahi tata kelola sepakbola.

BACA JUGA :   Persela dan Persipura Berbagi Angka

Meski pembekuan PSSI sudah dicabut, Imam menegaskan tetap melakukan pengawasan terhadap PSSI untuk menjalankan perubahan sepakbola Indonesia. “Kami akan tetap mengawasi secara ketat dan total. Tentunya akan ada evaluasi di setiap proses perubahan itu,” ujarnya.

Pria asal Madura ini pun kembali melemparkan wacana untuk mempertimbangkan Jose Mourinho atau Guus Hiddink sebagai pelatih timnas Indonesia berikutnya. Harapannya, tentu agar prestasi timnas segera membaik seiring telah dicabutnya SK pembekuan PSSI dan (dicabutnya) sanksi FIFA.

Wacana tersebut sedikit mengejutkan dan (tentu) menggelikan, serta cenderung kurang realistis. Apalagi, nilai kontrak Mourinho yang mencapai Rp 250 miliar per tahun. Andai harga cocok pun, Mou tentu tak akan menurunkan reputasi. Dari Porto, Inter Milan, Real Madrid, Chelsea, apa iya ia memilih Indonesia?

Dana Rp 250 miliar juga tidak sedikit. Soal Rio Haryanto yang hutangnya untuk Manor Racing masih banyak, tentu juga mengganjal Imam yang kadung berjanji membantu. Lalu uang dari mana untuk mengontrak Mourinho? (BM)

(Visited 57 times, 2 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid