Offside.co.id

SOS: Ada Bom Waktu di Tangan Pangkostrad

Sabtu 7 Januari 2017 17:11 WIB

Offside.co.id – Banyak yang berharap, Ketua Umum PSSI hasil Kongres 10 November 2016, Edy Rahmayadi, menjadi motor utama reformasi sepak bola Indonesia seperti yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. Tapi, banyak juga yang pesimis, pria yang menjabat sebagai Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) itu mampu melakukannya.

Maklum, Komite Eksekutif PSSI terpilih, mayoritas diisi orang-orang lama yang ikut mencatatkan sejarah hitam terpuruknya sepak bola Indonesia dengan berbagai kasus yang terjadi.

“Ada bom waktu di tangan Pangkostrad. Selain harus menjalankan agenda reformasi, dia juga harus mampu menjinakkan tokoh-tokoh lama yang tak bisa lepas dari konflik kepentingan (conflict interest). Bila tak mampu menjinakkannya bom waktu itu sewaktu-waktu bisa meledak,” kata Akmal Marhali, Koordinator #SaveOurSoccer (SOS).

Mampukah Pangkostrad menjadi simbol reformasi sepak bola nasional yang terburuk dalam 20 tahun terakhir atau tetap jadi “boneka” seperti Ketua Umum PSSI sebelumnya? Jawabannya sangat ditentukan dari hasil Kongres Tahunan PSSI 2017 yang digelar di Hotel Arya Duta, Bandung, Minggu, 8 Januari 2017.

BACA JUGA :   Dicurangi Wasit, Lazio Diminta Mundur dari Seri A

Yang pasti setumpuk berkas (baca: dalam kardus) bisa meledak setiap waktu bila tak mampu dicarikan solusi terbaiknya. Setidaknya, ada lima masalah utama yang harus diselesaikan Ketua Umum PSSI dalam Kongres yang berlangsung seharian tersebut.

Pertama, menyelesaikan kasus dualisme klub dan juga masalah legalitas sejumlah klub yang sangat pelik. PSSI harus bisa menyelesaikan masalah Persebaya Surabaya, Arema Indonesia, Bhayangkara FC, PS TNI, Madura United, Bali United, Persewangi Banyuwangi, Lampung FC, dan Persipasi Kota Bekasi.

Masalah harus diselesaikan secara obyektif baik dari segi hukum sepak bola maupun hukum negara. Belum lagi, masalah klub yang “dizalimi” pengurus PSSI sebelumnya di era Djohar Arifin dan La Nyalla Mattalitti seperti Persema Malang dan Persibo Bojonegoro.

BACA JUGA :   Crystal Palace Lepas dari Posisi Juru Kunci

“Masalah menjadi pelik karena ada sejumlah anggota exco yang punya kepentingan dengan kasus yang ada. Inilah yang disebut bom waktu. Salah dalam mengambil keputusan bisa jadi akan menghadirkan guncangan,” kata Akmal. “Tapi, bila nawaitu-nya untuk pembenahan dan reformasi sepak bola, semua masalah bisa diselesaikan Rujukannya tentu hukum olahraga (sepakbola) dan konstitusi negara,” Akmal menegaskan.

Kasus Persebaya menjadi titik paling krusial untuk diselesaikan. Secara de facto dan de jure, Persebaya asli (yang terdaftar sebagai voter) sejatinya yang di bawah naungan PT Persebaya Indonesia.

 

 

(Visited 3.916 times, 2 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo