Offside.co.id

Sanksi FIFA, SOS: Strategi Lama PSSI

Selasa 5 Februari 2019 11:41 WIB

Offside.co.id – Alih-alih bekerja cepat memutus mata rantai pelaku match fixing dan manipulasi pertandingan lewat Komite Adhoc Integritas yang dipimpin Ahmad Riyadh dan Azwan Karim, PSSI malah mengalihkan isu.

Mereka menggunakan strategi lama: menakuti publik dengan sebutan “intervensi” yang diarahkan ke sanksi FIFA. Cara yang digunakan sejak era ketua umum PSSI Nurdin Halid, Djohar Arifin Husen, La Nyalla Mattalitti, dan paska mundurnya Edy Rahmayadi. Bahasa yang lagi ngetrend saat ini diistilahkan “Firehouse of Falsehood”, teori membakar rumah yang membuat semua ketakutan.

Berharap satgas antimafia bola yang dipimpin Hendro Pandowo dan Krishnamurti menghentikan investigasinya terkait mafia bola yang mulai menyentuh tokoh-tokoh sentral, demikian rilis Save Our Soccer (SOS) yang diterima Offside.co.id, Selasa (05/02/19).

“Firehose of Falsehood” adalah teknik propaganda dengan 2 (dua) karakteristik: adanya informasi dengan intensitas tinggi; dan penyebaran informasi yang sebagian benar, atau bahkan fiksi. Firehose of Falsehood mempunyai 4 strategi utama yakni: 1. Kontroversi dan provokasi yang massif dengan sumber berita beragam, 2. Repetisi pesan yang cepat dan konsisten, 3. Mengabaikan data dan fakta, 4. Isi pesan yang inkonsisten atas substansi.

Ada informasi yang dihilangkan selama ini. Saat PSSI di banned FIFA pada 2015 itu bukan karena intervensi. Tapi, atas pengaduan dan permintaan PSSI sendiri. Silakan tela’ah sanksi banned FIFA yang dijatuhkan ke sejumlah negara. Semua diawali dari pengaduan dan permintaan federasi yang bersangkutan. Nah, untuk yang dilakukan Satgas Anti mafia bola sangat sulit mengarahkan ke intervensi. Maklum, polisi tak masuk ke ranah football family, tapi ke hukum pidana yang harus ditegakkan. FIFA sudah mengalaminya di era Sepp Blatter saat banyak kasus korupsi yang terjadi. Jadi, ini propaganda saja!

Penggeledahan yang dilakukan Satgas ke kantor PSSI bukan hal baru di federasi sepakbola manapun di dunia. Pada medio Juli 2017, kepolisian Spanyol menyerbu markas federasi sepakbola Spanyol. Angel Maria Villar dan putranya ditahan karena terbukti korupsi. Dua bulan sebelumnya polisi menggeledah markas federasi sepakbola Ceko dan menahan Miroslav Pelta. Juga menyambangi markas FC Jablonec, klub milik Pelta. Dan, tak ada satu pun yg berujung sanksi.

“Jadi, masifnya ancaman sanksi FIFA adalah untuk menakut-nakuti publik sepakbola Indonesia saja yang pobia terhadap kata Intervensi,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer. (KS) 

(Visited 21 times, 3 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo