Offside.co.id

Sayang, Timnas Dilanda Skandal Suap

Jumat 9 Februari 2018 08:40 WIB

Offside.co.id – BUNG KARNO, sesungguhnya berkeinginan agar PSSI atau sepakbola Indonesia bisa berjaya dan bisa disejajarkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Itu sebabnya, BK,  begitu sapaan sang proklamator dan Presiden Republik Indonesia, tak sungkan meminta bantuan sahabatnya, Josep Broz Tito, Presiden Yugoslavia.

Gayung bersambut, Broz Tito langsung mengirimkan seorang pelatih berkelas, Tony Pogacnik. Tony bukan pelatih sembarangan, saat menjadi pemain dia pernah merebut trophy best player Eropa. Dan, ketika diminta menjadi pelatih nasional Indonesia, posisi Tony justru sedang menggarap timnas Yugo.

Hebatnya, begitu mendarat di Bandara internasional Kemajoran, Tony membuat para penyambutnya melongo. Saat diminta kata sambitan, Tony menyampaikan dengan bahasa Indonesia.

Pendek cerita, Tony mampu membuat timnas kita makin moncer. Berita tentang kemajuan timnas kita menembus hingga ke Eropa. Tak heran banyak tim mancanegara yang sengaja datang ke Indonesia untuk menjajalnya.

Orang semakin berdecak kagum ketika di laga kedua di Olimpiade Merlbourne 1956, tak mudah ditekuk Uni Soviet. Kita memang akhirnya kalah 0-4, tapi itu di laga play-off. Di laga awal, timnas kita mampu menahan negara yang kemudian meraih medali emas olimpiade itu, 0-0, dalam 120 menit. (Dulu belum dikenal adu-penalti. Setiap laga imbang diperpanjang hingga total 120 menit. Jika tetap draw juga, maka dilaksanakan play off).

Suap pertama

Kisah olimpiade itu merebak hingga mancanegara. Tapi sayang, kegembiraan tidak hanya jadi milik rakyat Indonesia yang memang masih haus kepuasan dan kebanggaan. Diam-diam kegembiraan itu juga sampai ke pusat bandar judi. Khususnya pada mereka yang serakah dan meraih rupiah dengan cara tak halal.

Dengan bekal ‘prestasi’ itu dan dengan keserakahan segelintir petaruh, maka persepakbolaan kita memasuki babak baru. Memasuki babak yang sejak 1930 saat PSSI dilahirkan tidak pernah terpikirkan akan terjadi. Sepakbola Indonesia berdiri semata-mata untuk ikut langsung memerdekakan bangsa dari tangan penjajah. Kemuliaan itu tercoreng karena keserakahan.

Menurut kisah yang saya peroleh dari banyak mantan bintang sepakbola nasional setelah generasi pertama itu, para senior mereka, tergoda. “Mereka mulai berkompromi dengan para petaruh,” kata mas Gareng, sapaan akrab Sutjipto Suntoro, bomber tim nas generasi kedua, era setelah 1962.

Para pemain bintang yang ‘sukses’ menahan Uni Soviet dan namanya mampu menggetarkan orbit internasional, dicoret semua. Padahal, bukan hanya Bung Karno yang percaya bahwa sepakbola akan mampu menyumbangkan emas di Asian Games ke-IV, 1962 di Jakarta, tokoh sepakbola Asia pun yakin akan hal itu. Tapi, demi menegakkan kedisiplinan serta rasa kebangsaan yang tinggi, semua bintang dibuang.

Itulah suap pertama yang melanda sepakbola kita. Dan, meski saat itu para bintang telah dibuang, para penyuapnya justru selamat. Mereka mampu betsembunyi bahkan ada di antara mereka yang kabarnya lari ke RRT.

Seperti kita ketahui, sepakbola kita akhirnya rontok di AG. Meski sesungguhnya kita tersisih hanya karena undian. (Indonesia berada di grup A bersama Malaya, Filiphina, dan Vietnam. Indonesia menang  1-0 dan 6-0 atas Filipina serta Vietnam,  tapi kalah 2-3 dari Malaya. Namun di akhir babak Malaya dan Vietnam juga mengantungi poin yang sama yakni 4. Lalu penentuan yang lolos dari grup ditentukan melalui undian. Vietnam dan Malaya lolos sebagai juara dan runner-up).

Namun hasil ini tetap sangat disesali. Untuk itu, pengurus PSSI menjatuhkan pada 18 pemain, enam di antaranya adalah bintang besar di kawasan Asia dengan hukuman seumur hidup. Tapi, Bung Karno memerintahkan pada Abdul Wahab Djojohadikusumo (1960-64) untuk mereduksi hukumannya menjadi delapan bulan saja.

 

Dibongkar Istri FH

Seandainya tidak ada kasus suap, diyakini bahwa kita akan mampu merebut emas. Tapi, lembaran hitam tampaknya memang harus dilalui. Kepahitan harus dirasakan. Maka, begitulah jadinya.

Diawali dengan kisah yang sangat sederhana, menurut mas Gareng yang belum masuk skuat utama saat itu, “Waktu itu istri Fatah Hidayat, bek muda Persib disemprot istrinya saat pulang latihan,” kenang mas Gareng yang saat bercerita ditemani Bang Rashid Dahlan, pemain PSM yang ikut dihukum karena kasus ini.

FH, begitu mas Gareng menyebutnya, dicurigai punya wanita lain. “Pasalnya semua istri pemain senior sudah memakai perhiasan yang dibelikan para semuami mereka,” lanjut Mas Gareng.

Karena kesal dimarahi sang istri, FH lalu mendatangi Saelan, kiper tangguh asal PSM Makassar. Dari sanalah kasus suap akhirnya terbongkar.

Masih kisah Mas Gareng, cara suap yang dilakukan bukan untuk kalah. “Mereka main dengan mengatur jumlah gol,” kenang mantan pelatih nasional Indonesia di Piala Dunir junior 1978 di Tokyo. “Jadi bukan untuk kalah. Di atas kertas harusnya kita menang 6-0, karena orderan gol dibatasi hanya 2 atau tiga. Atau meski bisa menang tapi karena permintaan draw maka dibuat imbang,” katanya lagi.

Apa pun kisahnya, warna kelam telah membelenggu tim nasional kita. Meski demikian tahun 1986, tim nas kita yang diasuh Bertje   Matulapelwa sempat menduduki peringkat empat. Dan peringkat tertinggi kita diraihntahun 1958, di AG-III, Tokyo.

Lalu, bagaimana peluang kita di AG 2018 ini? Jujur harus saya katakan berat jika tidak boleh saya tuliskan sangat berat. Meski tidak ada bayang-bayang suap seperti 1962 lalu, tapi secara faktual sepakbola kita sudah tertinggal sangat jauh dari Korsel, Jepang, Cina, serta negara jajirah Arab yang masuk kawasan Asia.

Malah, harus dengan perih saya katakan, dengan Thailand pun kita tertinggal dua tingkat. Begitu pula dengan Vietnam dan Malaysia, meski tingkat ketertinggalan kita tidak mencolok, kita sangat sulit mengatasi keduanya.

Banyak penyebabnya, satu diantaranya (tambah runyam) ketika PSSI mau diaduk-aduk oleh kekuasaan tahun 2016. PSSI saat itu telah menjadi komoditas yang digunakan kekuasaan untuk menjatuhkan seorang ketua umumnya yang sah  La Nyalla Mattalitti.

Alih-alih PSSI bisa maju, saat ini menurut hemat saya yang sudah meliput sepakbola nasional sejak 1979, justru berada dalam posisi terburuk. Hutang pada LNM, sapaan akrab Nyalla berjumlah sekitar 700 ribu USD atau setara Rp 9,4 miliar dengan kurs tengah, serta hutang-hutang lain yang angkanya ditaksir sampai lebih dari Rp 20 miliar, belum jelas ujungnya.

Belum lagi soalan lainnya yang juga tak kunjung rapi. Maka, PSSI  kedepan menjadi amat berat.

Namun demikian, sebagai bagian dari rakyat Indonesia, saya berharap ada keajaiban. Ya, keajaiban yang bisa membuat PSSI sebagai tim berjaya di AG  dan sebagai organisasi bisa membayar hutang-hutangnya.

(Visited 127 times, 6 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo