Offside.co.id

Sekjen PSSI Mundur, Siapa Menyusul?

Senin 10 April 2017 20:31 WIB

AKHIRNYA. Kata itu rasanya paling pas untuk menyambut mundurnya Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Ade Wellington dari posisi jangkar di organisasi. Kata itu juga sekaligus jawaban dari pertanyaan yang sejak awal muncul di benak banyak pihak.

Namun, kata itu pula saya fungsikan untuk menyanggah pandangan orang yang mengatakan bahwa langkah Ade sebenarnya terlambat. “Lebih baik terlambat ketimbang tidak sama sekali,” begitu komentar saya ketika ditanya beberapa wartawan yunior terkait hal ini.

Menurut saya, Ade Wellington justru telah mengambil langkah yang tepat. Ia tidak lagi berada dalam posisi yang disebut oleh banyak pihak sebagai penghambat gerak organisasi. Maklum, sejak Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi mengumumkan nama Ade Wellington, mayoritas praktisi sepakbola terkejut dan bertanya: “Sekjen itu kan jangkar organisasi, kok bisa asal tunjuk?”

Pertanyaaan itu awalnya dianggap sepi, selain hak atau otorisasi penunjukkan Sekjen memang ada di tangan ketua umum terpilih, orang juga tak bisa mengkritisi tanpa bukti. Tapi, begitu struktur dan mesin organisasi PSSI sudah terbentuk serta bergerak, barulah dirasakan bahwa ada masalah di posisi jangkar. Akibatnya, banyak hal tidak berjalan seperti yang biasa. Bahkan, banyak yunior saya yang langsung protes karena tak bisa menghubunginya.

BACA JUGA :   Rusia Amankan Tiket Putaran Kedua

 

Tidak Kompeten

Posisi sekjen di PSSI sesungguhnya telah berubah. Dulu, sekjen adalah pengurus. Tapi dengan regulasi FIFA yang terbaru (sejak 2009), posisi sekjen adalah profesional. “Fungsinya seperti CEO dalam perusahaan,” tukas Dali Tahir, mantan satu-satunya orang Indonesia yang menjadi anggota Komite Etik FIFA.

Meski begitu, sekjen tetap merupakan jangkar. Sekjen harus paham segala hal terkait sepakbola. Tidak mesti detil, tapi garis besar regulasi harus dikuasai. Sekjen juga harus memiliki link yang baik dengan tokoh-tokoh sepakbola lokal maupun internasional.

Ade, menurut banyak pihak, sungguh tak seperti kelaziman di atas. Ia adalah orang yang sungguh-sungguh baru dalam orbit sepakbola. Akibatnya, organisasi tidak berjalan.

BACA JUGA :   Ini Dia Kunci Kemenangan Senegal!

Beruntung Ade cepat sadar dan mundur, jika terlambat, maka jargon revolusi total sepakbola dipastikan tidak akan berjalan. Apakah dengan mundurnya Ade maka revolusi sepakbola pasti akan terjadi?

Saya tak membutuhkan waktu yang lama untuk menjawab: “Tidak!”

Ada beberapa catatan yang membuat saya mengatakan tidak. Satu di antaranya adalah soal kompetensi. Saya, maaf harus mengatakan, 6 sampai 7 Exco PSSI tidak memiliki kompetensi. Bahkan ada exco yang ketika masih menjadi manajer klub, pernah nemukul wasit di tengah lapangan. Bahkan yang bersangkutan dihukum oleh komdis PSSI.

Jadi, jika kompetensi dan moral exco saja bisa dipertanyakan, lalu, revolusi apa yang diharapkan bisa dilakukan PSSI? Jawabnya saya serahkan pada Anda semua.

Untuk menutup editorial ini, saya memiliki pertanyaan: “Siapa akan menyusul sekjen untuk mundur?” Jawabnya, saya serahkan pada mereka yang sadar tentang kompetensi diri.

 

(Visited 573 times, 2 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo