Offside.co.id

Seorang Suporter Tewas di Bekasi, SOS: Tumbal ke-55

Senin 29 Mei 2017 09:26 WIB

Offside.co.id – Tumbal nyawa kembali terjadi di sepakbola Indonesia. Sepekan lalu, suporter Persija Jakarta, Agen Astrava (20), meregang nyawa akibat dikeroyok usai menyaksikan tim kesayangannya melawan Bali United di Stadion Patriot, Bekasi, Minggu (21/5).

Agen Astrava diduga diadang di daerah Bulak Kapal, Bekasi, arah Cikarang oleh oknum suporter yang tak teridentifikasi. Astrava tercatat sebagai tumbal ke-55 kekerasan di sepakbola Indonesia sejak Suhermansyah, Bonekmania, yang tewas pada 28 Januari 1995 setelah terimpit dan terinjak usai menyaksikan laga PSIM melawan Persebaya.

Save Our Soccer #SOS mencatat Astrava adalah The Jakmania kelima yang tewas usai mendukung timnya. Sebelumnya Fathul Mulyadin pada 2008 usai menyaksikan Persija melawan Persipura. Lalu, M. Fahreza usai laga Persija vs Persela pada 2016, Gilang dan Harun Al Rasyid Lestaluhu alias Ambon yang tewas usai menyaksikan laga Persija vs Persib di Stadion Manahan pada 6 November 2016.

“Ini tidak bisa dianggap remeh atau disebut sebagai kecelakaan sepakbola. Ini harus ditangani secara serius pihak-pihak terkait. Terlalu mahal sepak bola harus dibayar dengan nyawa,” kata Akmal Marhali, Koordinator #SOS dalam rilisnya yang diterima Offside.co.id.

BACA JUGA :   PSG Menang Lagi, Neymar dan Cavani Berbagi Gol

Dari Total 55 tumbal nyawa di sepakbola Indonesia penyebabnya beragam. Terinjak ada 6 orang, jatuh dari kendaraan (8), pengeroyokan (16), pukulan benda keras (11), tusukan benda tajam (12), gas air mata (1), dan penembakan 1 orang.

“Buat apa ada sepak bola bila masih ada darah, nyawa, dan air mata terbuang sia-sia. Pemerintah dan pihak-pihak terkait harus tanggung jawab terhadap kejadian ini,” kata Akmal. “Tak ada musuh dalam sepakbola. Yang ada hanya rivalitas selama 90 menit di lapangan. Dan, ini harus dipahami semua elemen sepakbola di tanah air. Sepakbola adalah hiburan, bukan tempat pemakaman,” Akmal menambahkan.

Kematian Agen Astrava harus menjadi renungan sekaligus introspeksi bagi seluruh stakeholder sepakbola nasional. Mulai dari PSSI, operator kompetisi, klub, sampai kepada organisasi suporter harus berbenah. Agen Ostrava cukup jadi ‘tumbal nyawa” yang pertama dan terakhir di tahun 2017 dan ke depannya.

BACA JUGA :   Kiper Lawan Bikin Blunder, MU Pun Menang

“Sudah waktunya suporter juga dibuatkan regulasi. Football Spectator Act (FSA) yang diberlakukan di Liga Inggris sejak 1989 bisa dijadikan rujukan. FSA mewajibkan seluruh suporter di Inggris memiliki kartu keanggotaan dari klub yang mereka dukung. Ini untuk mengidentifikasi suporter yang bikin rusuh. Mereka akan dicabut keanggotannya serta tak boleh menonton pertandingan seumur hidup di stadion bila dinyatakan bersalah,” kata Akmal.

FSA juga mengatur keberadaan Badan Otoritas Lisensi baru yang bertugas memberi, atau mencabut izin sebuah stadion untuk menyelenggarakan pertandingan. Kewenangan besar diberikan kepada Badan Lisensi agar tak ada lagi stadion yang tingkat keamanannya rendah.

“Yang pasti PSSI, operator, dan juga klub harus memberikan pembinaan kepada suporter. Ini salah satu cara untuk mencegah potensi kekerasan yang berujung tumbal nyawa. Cukup Agen Ostrava yang terakhir meregang nyawa,” Akmal mengungkapkan. (KS)

(Visited 201 times, 9 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo