Offside.co.id

Soal Suporter Tewas, Menpora Sindir PSSI

Kamis 27 Oktober 2016 09:35 WIB

Offside.co.id – Bentrokan antarsuporter kembali menelan korban jiwa.Terakhir, seorang remaja SMP bernama Muhammad Rovi alias Omen, tewas akibat kekerasan yang dilakukan di Pintu 10 Jababeka, Cikarang Barat, Sabtu (23/10) lalu. Peristiwa itu membuat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi kecewa berat. Politisi asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pun menyindir kerja PSSI yang cuma tidur saja.

“Tapi saya juga heran, kok PSSI tidak bersikap apa apa yah. Apakah mereka tidur saja? Padahal, mereka yang harus lebih proaktif,” ucap Imam Nahrawi kepada beberapa media.

Menurut Imam, konflik suporter sudah lama terjadi. Harusnya penyelesaian masalah suporter menjadi tanggung jawab PSSI selaku otoritas tertinggi sepak bola tanah air. Menpora pun menyarankan, untuk mengurangi risiko bentrok antarsuporter, dibentuk semacam Jambore Suporter.

“Kami sedang menunggu sikap dari para suporter.  Apakah mereka mau serius dalam konsolidasi itu mau atau tidak.Saya tidak ingin jambore suporter hanya pada tingkat elit. Saya ingin ada kesadaran kolektif.Dan harus ada sanksi, tidak boleh nanti ada lagi nyanyian suporter yang membawa masalah psikologis kebencian, dendam, dan rasis.Kalau federasi nggak ada regulasinya, serahkan kepada pemerintah,” tambah Imam.

Menanggapi sindiran Menpora, salah satu anggota Exco (Executive Committee) PSSI, Tony Apriliani tak tinggal diam. Tony  mengungkapkan, sebenarnya pihaknya sudah sering bertindak usai ada kasus keributan antarsuporter. Apalagi jika ada yang sampai tewas.

Salah satu bentuk tindakan cepat tersebut adalah memanggil PT GTS (Gelora Trisula Semesta) selaku operator kompetisi. “Tapi, yang dikirimkan operator adalah bawahan. Bukan pemimpinnya,” keluh Tony.

BERITA MENARIK LAINNYA

Rooney Terus Digoyang, Bertahan atau Hengkang?

Riedl Daftarkan 40 Pemain ke AFF

Isco, Pilih London atau Manchester?

Pete Boyle Siap ‘Merahkan’ Indonesia

(Visited 343 times, 1 visits today)
Editor: Hanif Marjuni