Offside.co.id

Soal Tudingan Suap, PSSI Wajib Bergerak Cepat!

Kamis 1 Februari 2018 16:30 WIB

Offside.co.id – “ADA korupsi di sepakbola Indonesia!” Begitu penegasan atau tepatnya tudingan Kristian Edelmund, pemain bertahan FC Feyenoord, asal Belanda yang pernah merumput di Liga Indonesia.

Tudingan yang dilansir banyak media itu tidaklah  sesederhana sebagaimana terpaan yang selama ini juga berulang menerpa PSSI. Untuk itu, PSSI harus bergerak dengan cepat menyikapinya. PSSI tidak boleh bersikap acuh atas tudingan itu jika tidak ingin hal ini berujung pada tindakan yang merugikan bagi persepakbolaan nasional. Jangan lupa, meski beda kasus, sepakbola Indonesia sempat ditinggalkan oleh penggemarnya.

Suap Pertama

Sepakbola kita pernah rontok saat suap menikam sepakbola nasional. Hal itu diawali tahun 1961, saat para bintang kita yang kecemerlangannya bisa menembus batas internasional. Catatan: Hasil imbang 0-0 dengan Uni Soviet di Olimpiade Merlbourne 1956 membuka mata dunia terbelalak. Meski di laga play-off tiga hari kemudian kita kalah 4-0, mata dunia tetap terbelalak dikooptasi para bandar taruhan.

Tidak semua memang, jumlahnya sekitar sembilan orang, dan demi menjaga kehormatannya karena seluruhnya telah wafat  saya tidak akan membukanya, terbukti menerima suap.

Tony Pogacnik, pelatih terbaik Indonesia yang diberikan Presiden Yogoslavia, Josip Broz Tito yang bersahabat dengan Bung Karno, terpaksa mencoret seluruh pemain di tim senior itu. Padahal tidak semua pemain terlibat, tapi Tony punya pemikiran lain. Tim kedua yang didorong untuk Asian Games 1962, gagal total.

Suap Kedua
Lama kepercayaan pencinta sepakbola kita baru pulih. Tapi, sepakbola kita kembali rontok ketika suap melanda tim-tim Perserikatan yang setiap dua tahun melakukan home tournament. Catatan, PSSI menyebutnya kompetisi meski realisasinya turnamen. Secara faktual PSSI baru membuat kompetisi nasional saat Galatama dilahirkan 1978 yang diputar seperti piala dunia.

Nama-nama besar bintang sepakbola yang demi menjaga kehormatan mereka karena rata-rata telah almarhum serta yang masih tersisa sudah sangat tua serta dalam kehidupan yang mayoritas sangat susah, saya juga tak akan menyebut nama mereka.

Bahkan Galatama yang menjadi kebanggaan dan sempat dijadikan acuan oleh Liga Korsel serta J League Jepang, hancur setelah memasuki tahun ke-4. Suap lagi-lagi menjadi penyebabnya. Dan sesungguhnya, praktek itu sangat mungkin masih ada hingga saat ini. Saya tak segan untuk menyebut itulah fase suap kedua di sepakbola kita.

Jika meminjam defnisi yang ada di KPK, suap (memberikan imbalan untuk tujuan tertentu), gratifikasi (pemberian imbalan atas seesuatu yang telah dilakukan), dan korupsi (mengambil, melakukan mark up harga yang keseluruhannya  melahirkan kerugian pada keuangan negara). Artinya, semua masuk dalam kategori yang sama yakni pelanggaran serius dan menjadi musuh rakyat.

Jadi, tudingan Kristian Edelmund itu jelas sangat serius. Bahkan mantan pemain Persela Lamongan dan PSS Sleman itu menudingnya dengan menyebut kasus  dengan jelas. Artinya, PSSI bisa dapat fokus ketudingan itu. Selain itu, PSSI juga wajib bergerak dengan cepat untuk melakukan investigasi dengan kasus-kasus lainnya.

Ketum PSSI Edy Rahmayadi

Intinya PSSI harus menjawab tudingan itu. Sayangnya sang Ketua Umumnya, Edy Rahmayadi sedang sibuk running untuk menjadi gubernur. Waktu, tenaga, pikiran, dan yang lainnya pasti tercurah penuh kesana. Itu sebabnya saya meminta Edy untuk mundur dari PSSI. Ketum harus tinggal di kota di mana federasi itu bermarkas agar nemudahkan untuk memimpin organisasi. Jika tidak, maka organisasi akan terkendala, apalagi Edy saat ini sudah berada di luar lingkaran kekuasaan. Sesuatu yang di masa ia masih aktif bisa sangat mudah, saat ini pasti sulit ia lakukan.

Edy juga tidak akan bisa lagi berlindung dan dilindungi oleh kekuasaan sebagaimana selama ini terkesan dari luar. PSSI saat ini telah kembali menjadi organisasi seperti organisasi olahraga lainnya. Apalagi jalur yang selama ini dipergunakan oleh PSSI yakni KSP Teten Masduki juga sudah dilengserkan. Malah  Jendral TNI (purn) Moeldoko, mantan Kasad, Panglima TNI dan mantan komandan Edy, saat pemilih ketum PSSI di Ancol tahun 2016 silam mereka abaikan.

Cak Moel demikian sapaan akrab Meoldoko, diperlakukan secara kurang hormat. Tak ada tegur-sapa untuk Cak Moel saat ini yang justru menjadi KSP.

Dengan pengalaman dikemiliteran yang demikian tinggi itu, Cak Moel tentu menjadi KSP yang berbeda dengan KSP sebelumnya. Dan citra KSP pun berbeda dengan citra KSP yang lalu.

Beruntung Cak Moel bukan pendendam. Padahal secara tugas, saat ini Cak Moel menjadi orang yang paling dekat dengan presiden. Cak Moel bisa menepis permintaan PSSI, tapi itu pasti tak akan dilakukan. Itu sebabnya Cak Moel pernah dipercaya menjadi Kasad dan Panglima TNI dan saat ini jadi KSP.

Sekali lagi, PSSI segeralah bertindak untuk menjawab tudingan itu. Dan sekali lagi, saya berharap Ketum PSSI mau mundur untuk menjaga marwah organisasi.

(Visited 407 times, 7 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo