Offside.co.id

SOS: PSSI Lalai dalam Tewasnya Suporter Timnas

Senin 4 September 2017 13:51 WIB

Offside.co.id –  Duka cita kembali menyelimuti sepak bola Indonesia. Catur Yuliantono (32), seorang pendukung tim nasional,  meninggal dunia karena terkena ledakan petasan saat menyaksikan Indonesia beruji coba melawan Fiji di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Sabtu, 2 September 2017.

Warga Duren Sawit, Jakarta Timur itu mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Mitra, Bekasi Barat.

Berdasarkan data dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Save Our Soccer #SOS, Catur “tumbal nyawa” ke-64 dari “kejamnya” sepakbola Indonesia,  khususnya sejak Liga Indonesia digulirkan pada 1994/1995. Sedangkan khusus untuk aksi timnas, Catur adalah korban keempat.

Korban pertama menimpa Subari saat Piala Tiger (Kini Piala AFF) 2002 yang terjatuh dari bus saat menyaksikan laga Indonesia melawan Filipina,  23 Desember 2002. Kedua, Rena Alvino Arena, 21 dan ketiga Kusmanto, 29. Keduanya terinjak-injak saat menyaksikan final SEA Games 2011 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 21 November 2011.

“SOS menyatakan keprihatinan dan belasungkawa atas meninggalnya Catur. Ini harus menjadi renungan dan introspeksi kita bersama sebagai pecinta sepak bola. Banyak hal yang harus segera dibenahi secara serius terkait keamanan dan kenyamanan penonton. Sepak bola itu hiburan, bukan kuburan,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS.

BACA JUGA :   Seri lagi, Persib Pun Mencatat "Hattrick"

“Terhitung selama 2017 sudah 10 nyawa hilang atas nama sepakbola. Ini yang tertinggi kedua setelah 2012 yang menelan 12 korban jiwa. Satu nyawa saja sudah sangat mahal untuk sepak bola kita,” Akmal menambahkan.

Berdasarkan hasil investigasi tim #RelawanSOS sejatinya Panitia Pelaksana pertandingan tim nasional saat melawan Fiji sudah bekerja maksimal menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP). Barang-barang yang dilarang masuk ke stadion sudah diamankan jelang pertandingan. Minuman botol diganti dengan plastik. Rokok atau korek api juga diamankan. Tapi, panpel lalai dan kecolongan di babak kedua. Beberapa pintu masuk dibuka bebas. Penonton bisa keluar masuk secara bebas.

“Ini kebiasaan panpel kita. Bukan cuma di level timnas, tapi juga klub. Mungkin perhatian mereka terfokus menyaksikan pertandingan sehingga kecolongan di saat-saat krusial. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk ke depannya,” kata Akmal.

“Panpel kecolongan dan lalai. Perlu ada punish and reward untuk kejadian seperti ini. Bila panpel klub lalai mendapatkan sanksi dari PSSI, hal sama harus diberlakukan. Sepak bola kita butuh keteladanan,” Akmal menambahkan.

BACA JUGA :   Liverpool Bungkam Leicester di King Power

Ke depan, PSSI perlu mensosialisasikan FIFA Stadium Safety and Security Regulations. Bukan hanya kepada panpel, pihak keamanan, tapi juga kepada klub, dan penonton agar semua saling mengingatkan.

Dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations halaman 44 tentang Security Check. Bahkan dalam lampiran C halaman 95 tentang Recommended content of the stadium code of conduct  secara gamblang dipaparkan barang-barang yang “haram” masuk stadion. Dalam poin a misalnya disebutkan, Any item that could be used as a weapon, cause damage and/or injury or be used as a projectile. (Setiap benda yang bisa digunakan sebagai senjata, menyebabkan kerusakan dan atau cedera atau digunakan sebagai proyektil). Minuman beralkhohol, spanduk sara, benda-benda tajam dan tumpul, rokok, korek api, laser sampai petasan juga dilarang.

“Kebiasaan petugas keamanan kita yang asyik menonton pertandingan dibandingkan menjaga keamanan di luar dan dalam stadion juga harus dibenahi. Steward dan petugas kepolisian harus fokus menjalankan tugasnya seperti tertera dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations,” Akmal memaparkan. (KS) 

 

(Visited 28 times, 28 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo