Offside.co.id

Stadion Bang Ali Untuk Persija!

Rabu 28 Februari 2018 10:47 WIB

Offside.co.id – SEJAK stadion Vios yang kemudian dikenal sebagai stadion Menteng, dibongkar di era kedua Gubernur DKI, Sutiyoso dan dijadikan taman, Persija, klub yang dilahirkan di Batavia tahun 1928, kehilangan segalanya. Persija klub yang melahirkan banyak legenda nasional, tiba-tiba menjadi seperti klub abal-abal dari daerah yang jauh dari pusat kekuasaan.

Benar Persija dimaksud bukanlah Persija yang kita kenal saat ini. Persija yang saat itu adalah perkumpulan klub amatir yang menginduk pada persatuan sepakbola ibukota. Jauh sebelum itu, Persija adalah bagian dari Pengurus Daerah PSSI Jabar.

Ya, sebelum Persija dipecah lima, Persija memang berada di Pengda PSSI Jabar. Tapi, setelah para pengurus bermusyawarah, maka disetujui Persija dipecah menjadi Persija Pusat, Selatan, Utara, Timur, dan Barat. Dengan begitu, maka Persija berhak memiliki Pengda sendiri.

Seiring perubahan sistem dalam persepakbolaan nasional, diawali saat Azwar Anas memimpin PSSI, maka lahirlah kompetisi yang baru. Jika Bang Ali melahirkan kompetisi non-amatir yang diberi nama Galatama (Liga Sepakbola Utama) 1978. Tapi, pembaruan itu mengalami masa suram setelah 12 tahun berjalan.

Tahun 1990 Azwar menggabungkan dua sumber sepakbola kita: Perserikatan dan Galatama menjadi Ligina (Liga Indonesia). Bukan hanya itu, PSSI juga mewajibkan semua peserta Ligina harus menjadi klub. Artinya, eks Perserikatan yang awalnya tim gabungan dari para anggotanya juga harus berubah.

Langkah ini yang akhirnya membuat Persija menjadi berbeda. Keterbatasan dana dari klub-klub ‘pemilik’ Persija itulah yang membuat tim berjuluk macan kemayoran jadi dimiliki oleh pribadi. Tidak ada yang salah, klub-klub amatir sebagai pemilik brand dan sejarah sejak 1928, tetap memiliki saham di Persija klub profesional itu. Dan, hukum bisnis yang berjalan juga tak keliru memberikan saham minimal.

Stadion
Lahirnya klub-klub sepakbola di tanah air, berbeda dengan klub-klub profesional di Inggris atau Italia. Di dua negara itu, klub lahir sejak awal untuk berbisnis. Tak heran, dari awal mereka sudah berorientasi bisnis.

Di sini, Persija, Persib, PSMS, PSM dan eks perserikatan lain, dilahirkan untuk membuat pelakunya sehat. Untuk itu, anggotanyalah yang memberikan sumbangan agar tim bisa berjalan. Jika di Inggris atau Italia setiap pemain yang bermain dibayar oleh klub, di sini justru terbalik. Para pemainlah yang harus membayar setiap latihan.

Meski demikian, saatnya Pemerintah Daerah mengejawantahkan janjinya untuk membangun kembali stadion bagi Persija. Janji itu sesungguhnya sudah dimuali sejak Bang Yos membongkar stadion Menteng itu. Lalu, gubernur-gubernur berikutnya juga melakukan hal yang sama.

Terakhir, janji itu dikeluarkan menjelang stadion Lebak Bulus dibongkar dan dialihfungsikan menjadi stasiun MRT. Waktu itu, DKI berencana untuk membangun gantinya di Bintaro yang masih di wilayah DKI. Tapi, hingga hari ini stadion pengganti tidak pernah terwujud. Padahal jika tidak keliru, ada salah satu pasal di UU SKN no.3 tahun 2005, terkait alih-fungsi, maka sebelum stadion lama dibongkar, maka stadion baru harus sudah berdiri.

Untuk itu, saatnyalah stadion pengganti dibangun. Selain stadion itu penting bagi Persija serta the Jak , juga penting bagi Gubernur atau wakil gubernur agar tidak dihina seperti saat partai final Piala Presiden yang lalu. Di samping itu, Bekasi yang tidak memiliki klub sebagus Persija saja, sudah memiliki stadion sangat bagus.

Sebagai usulan, saya melihat jika pemda sulit mencari tanah 20an hektar di daratan, maka tanah reklamasi itu bisa dimanfaatkan. Dan untuk menghormati Gubernur fenomenal seperti Ali Sadikin, saya juga mengusulkan agar kelak nama Bang Ali disematkan di stadion itu.

Semoga terlaksana…

(Visited 6.237 times, 10 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo