Offside.co.id

Stop “Atur-Mengatur” Pertandingan

Sabtu 15 April 2017 09:32 WIB

HARI INI kompetisi Gojek-Traveloka Liga-1 PSSI akan resmi berputar. Dua klub yang sarat dengan prestasi dan pendukung lokal, Persib Bandung bertemu Arema Malang dalam laga pembuka di Bandung, Sabtu (15/4). Di atas kertas, pertarungan akan lebih menarik dari partai-partai mereka sebelumnya.

Persib dengan dua bintang Eropanya Michael Essien dan Charlton Cole,  diharapkan mampu menampilkan permainan yang lebih impresif. Sementara Arema yang dikenal paling solid di luar dan di dalam lapangan, pasti akan menampilkan pola yang lebih agresif.

Selain menjadi laga pembuka, partai ini sekaligus menjadi ujian pembuktian bagi pengurus PSSI yang baru. Ujian pembuktian? Ya, maklum, sebelun mereka menduduki kursi-kursi kepengurusan PSSI, mereka meneriakan kata: “Revolusi  total sepakbola Indonesia  (baca: Revolusi PSSI),”

Kata itu bermakna perubahan untuk perbaikan. Kata yang juga menjadi alas tudingan pada kepengurusan sebelumnya. Kata yang menegaskan bahwa PSSI yang lalu: Kotor dan penuh mafia yang mengatur skor.

Bahkan pekik mereka tegas “menuding” La Nyalla Mattaliti (LNM) dan PSSI sebelumnya telah melakukan seluruh keburukan itu. Padahal mereka lupa, LNM, begitu sapaan mantan Ketum PSSI yang berhasil mereka gulingkan itu, tak pernah bisa menjalankan roda organisasi.

Sejak awal LNM dan kepengurusannya, diberangus pemerintah. Dan sebelum setahun PSSI vakum, mereka itu juga yang menjalankan seluruh aktivitas kompetisi. Artinya, jika ada mafia, ada pengaturan skor, ada keburukan, merekalah yang ada di sana, bukan LNM.

Jika mereka berteriak soal mafia, itu sama dengan pribahasa yang brtbunyi : menepuk air di dulang terpercik wajah sendiri. Artinya, tentu kita tahu semua. Nah jika ada pertanyaan, yakinkah PSSI pimpinan Edy Rahmaydi melakuka revolusi? Jujur, saya sama sekali tidak yakin.

Operasi Garis Dalam

Melihat sosok dan tekad Edy Rahmayadi, seharusnya saya yakin bahwa revolusi bisa berjalan. Tapi, melihat orang-orang yang ada, saya justru kasihan pada sosok serta tekad sang ketua umum. Orang-orang itu belum juga berubah dan ketua umum bukan tidak mungkin akan “ditelikung”.

Untuk itu, ketua umum menurut saya harus melakukan operasi garis dalam. Ketua umum harus membentuk tim pengawas yang berada di luar struktur yang ada. Ketua umum harus membentuk tim independen.

Kedengarannya agak lebay, tapi hanya dengan cara itulah Edy akan berhasil menyingkirkan para perusak sepakbola nasional.

Berdasarkan pengalaman selama 38 tahun sebagai wartawan sepakbola nasional, orang sepakbola nasional akan sangat mudah melakulan apa saja. Dan sangat mudah juga berteriak atau menuding orang lain. Sangat mudah untuk mengalihkan dukungan. Sangat mudah berubah-ubah. Itu sebabnya prestasi sepakbola Indonesia sejak dulu ya seperti begini-begini saja.

Nah, jika Edy Rahmayadi ingin sukses, hanya ini caranya. Edy Rahmayadi harus lebih tegas, tapi harus tetap berpegang pada statuta.

Langkah lain yang sangat perlu dilakukan adalah pengawasan ekstra ketat terhadap wasit. Kebetulan Doddy Wijanarko yang saat ini menjadi Ketua Komite Etik PSSI, pernah menjadi Ketua Komisi wasit. Doddy pasti tahu wasit mana yang eror, mudah eror, dan wasit mana yang setengah baik. Doddy dulu dikenal sebagai pengurus yang lurus dan tegas.

Ada satu lagi, Edy Rahmayadi hendaknya mau mendeklarasikan tekad besar: Perang terhadap mafia “Stop Atur Mengatur Hasil Pertandingan!” Secara terbuka dan meminta semua pihak mau melaporkan penyimpangan sekecil apapun.

Edy Rahmayadi selintas mengingatkan saya pada tokoh Elliot Ness di Amerika yang akhirnya mampu menangkap Al-Capone, super mafia di Illinois, Cleveland, Ohio, Amerika, 1934. Saat Ness masuk ke Bureau Investigator of the Prohibition, Chicago, tak seorangpun yakin bahwa raja mafia Al-Capone akan terjamah. Berkat kegigihannya, maka sang raja mafia tumbang.

Sesungguhnya, LNM juga telah mendeklarasikan akan memerangi mafia. Tapi LNM tumbang setelah mafia itu berkolaborasi dengan pihak tertentu.

Semoga sekarang para mafia yang sesungguhnya mau sadar dan mau bertobat, sebelum disikat.

(Visited 124 times, 1 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo