Offside.co.id

Jangan Ada “Karnaval” Setelah Asian Games

Jumat 26 Januari 2018 20:49 WIB

Offside.co.id –  SUKSES tuan rumah dan sukses penyelenggaraan. Kalimat ini selalu dimunculkan menjelang berbagai event olahraga di tanah air. Kalimat bermakna harapan ini sesungguhnya dimaksudkan untuk menjadi pendorong baik bagi semua pihak agar bekerja lebih keras dan lebih serius.

Meski demikian, sukses itu tentu tidak mudah untuk diraih walau kita semua sudah bekerja maksimal dan super serius. Ada proses teknis yang harus dilalui dan tidak bisa ditawar. Ada juga faktor non-teknis yang terkadang sangat tidak mudah untuk dilalui. Intinya, semua tidak dapat diraih begitu saja.

Apalagi, Asian Games memiliki kualifikasi teknik yang sangat tinggi. AG boleh dibilang nyaris setara dengan Olimpiade. Banyak atlet dunia yang ikut berpartisipasi di pesta bangsa-bangsa Asia ini. Itu sebabnya tidak sedikit rekor AG sejajar dengan rekor Olimpiade. Bahkan tidak sedikit rekor dunia ditumbangkan di Asian Games.

Dengan fakta itu, maka untuk menghadapi AG 2018, semua pihak, utamanya pemerintah hendaknya sungguh-sungguh dalam menyikapi semua soalan yang ada. Karena, serius dan kerja keras saja belum tentu menjamin bisa meraih sukses, apalagi kalau kita setengah hati.

BACA JUGA :   Kolarov Antar Kemenangan Serbia

Maka kita tak punya pilihan kecuali mampu bahu-membahu. Semua pihak, mau membagi perannya dengan benar. Semua bekerja sungguh-sungguh dengan perannya. Dan, tidak lagi saling bersakwasangka.

 

“Karnaval”

Meski demikian, ada bagian yang paling utama untuk diperhatikan dan disikapi dengan benar. Kita, saya,  dan anda sekalian, tentu tidak berharap kisah-kisah SEA Games 2011 yang kelam terulang kembali. Sekadar mengingatkan, SEA Games 2011 mengantarkan banyak pihak ke prodeo. Dan, AG sendiri, meski belum dimulai, sesungguhnya sudah mengantarkan beberapa pihak ke balik terali besi akibat penyimpangan aturan terkait penggunaan anggaran.

Ya, kita semua, biasanya, atas nama ketergesaan waktu dan atas nama kepentingan bangsa, dan atas nama lain-lainnya, kita seringkali abai pada regulasi. Kita sering melakukan pembenaran atas nama semua itu. Akibatnya, setiap usai event, ada banyak masalah.

Terus terang, kekhawatiran kita, saya dan mungkin juga Anda, terbuka lebar. Terus terang rasa khawatir kita itu justru telah diawali saat sosialisasi bermuara pada vonis hakim. Jadi, jika pemerintah, DPR, dan semua pihak tidak juga segera sadar, maka, nauzubillah, vonis-vonis para hakim akan berjatuhan.

BACA JUGA :   Jerman Tumbang Setelah 36 Tahun

“Karnaval” para tersangka akan terjadi. Semua yang terlibat akan beriringan menuju KPK atau Kejaksaan. “Karnaval” itu akan menambah buruk citra olahraga kita.

Jadi, saatnya disiapkan Perpu atau kebijakan khusus terkait anggaran untuk AG. Suka atau tidak, mereka yang menggelontorkan dan menggunakan dana untuk olahraga, sesungguhnya satu kakinya sudah ada di penjara dan satu kaki lainnya terus menggeliat untuk mengejar prestasi.

Di satu sisi mereka harus taat azas, di sisi lainnya mereka tak kuasa memenuhi kebutuhan untuk kemajuan. Dinamisnya dunia olahraga tak pernah bisa seiring dan sejalan dengan aturan yang ada.

Untuk itu, agar “karnaval”  tak menjadi bagian penutup AG, semua pihak, utamanya pemerintah dalam hal ini Kemenpora segera membentengi diri dengan regulasi yang lebih cair. Tuntutan untuk bergerak cepat tetap bisa kita penuhi. Tapi, taat azas juga tetap bisa dipatuhi.

(Visited 43 times, 7 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo