Offside.co.id

Luis Milla, Di Sini Anda yang Wajib Belajar!

Minggu 9 April 2017 11:37 WIB

SEKALI lagi, tim nasional kita gagal memetik kemenangan dalam laga uji coba. Laga pertama kalah 1-3 dari Myanmar (21/3/2017) dan laga kedua bermain imbang 0-0 dengan Persija (5/4/17) di Bekasi. Bukan hanya gagal menang, timnas juga belum mampu memperlihatkan sesuatu yang kelak akan memberi kebahagiaan.

Jika mengacu pada waktu yang ada, hasil ini memang dapat kita maklumi. Sehebat apa pun Milla, dan sehebat apa pun para pemain muda, dengan waktu yang sesingkat ini, sekali kalah dan sekali draw, rasanya pasti bisa dimaklumi. Milla dan para pemain membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai kebersamaan agar bisa saling memahami. Apakah memahami pola dan strategi Milla atau saling mengerti sesama pemain.

Untuk itu, editorial saya kali ini, tidak hendak mempersoalkan hasil yang dicapai. Tapi, saya justru ingin mengkritisi kebijakan Milla sebagai pelatih berkualitas Eropa yang saya anggap ceroboh.

Luis Milla Aspas

Milla, menurut saya, telah keliru saat menentukan pilihan calon lawan.

Di Eropa, mungkin sah saja seorang pelatih menentukan pilhan lawan. Tapi, ini Indonesia. Mila belum tahu banyak tentang sepakbola Indonesia. Belum tahu karakter pemain dan penonton. Dan Milla belum paham pengurus PSSI.

Jadi, ajang ujicoba, apalagi dengan lawan yang diakui atau tidak, kualitasnya ada di atas anak-anak 21 tahun kita, adalah langkah penuh risiko. Langkah yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang pelatih sekelas Milla. Apalagi, Milla dapat dipastikan belum sungguh-sungguh paham kemampuan pemain kita.

Berbeda saat ia ada di Spanyol, pemain dari mana pun yang direkrut, standarnya nyaris sama. Di sini, Alhamdulillah pasti beda. Jadi, Milla tidak mungkin (berdasarkan pengalaman 38 tahun saya mengikuti tim nasional) langsung bicara strategi. Milla, seperti para pendahulunya, harus memulai dari nol. Itu baru dari sisi teknis.

BACA JUGA :   Jerman Tumbang Setelah 36 Tahun

Dan yang paling repot, Milla juga belum tahu, mayoritas pemain kita (ini juga berdasarkan pengalaman) perlu ditingkatkan kepercayaan dirinya. Sangat banyak para pemain kita sudah kalah sebelum bertanding. Tidak sedikit dari mereka yang harus berulang-ulang diyakinkan bahwa mereka bisa dan mampu.

Nah, untuk sampai ke sana, para pemain membutuhkan kemenangan. Artinya, lawan yang mereka hadapi harusnya bukanlah tim kuat seperti Myanmar dan Persija.

Milla juga belum paham dengan harapan penonton dan pendukung timnas. Sikap dan pandangannya sangat jauh dengan penonton dan pendukung di Eropa. Di Eropa kalah atau menang bukan hal utama, karena sepakbola sudah jadi bagian hidup.

Sementara di Indonesia, sepakbola adalah harapan. Dengan posisi seperti itu, mereka membutuhkan kemenangan. Nah, kemenangan hanya bisa dicapai oleh tim yang belum padu, ya dengan menghadapi tim lemah.

Sekali lagi, Milla sebagai pelatih tentu punya hak untuk menentukan langkah-langkah bagi kepentingan timnya. Tapi dapat dipastikan Milla bukanlah magician yang bisa menyulap keadaan dengan kata: “Simsalabim!” atau ” Abrakadabra!”

Milla harus tahu lebih dalam. Tanpa memahami itu, maka Milla, bukan tidak mungkin akan mengalami jalan buntu.

 

Pogacnik, Coerver, dan Polosin

Lusinan pelatih asing yang pernah menahkhodai tim nasional Indonesia, tapi hanya tiga menurut saya yang boleh diacungi jempol. Selain secara prestasi ‘lumayan’, ketiganya mampu membangkitkan kepercayaan diri pemain, karena ketiganya mau memahami sepakbola Indonesia dengan baik.

Tony Pogacnik, asal Yugoslavia, menurut kisah mantan Menteri Olahraga, Ketum PSSI, dan kiper nasional, paling luar biasa. “Waktu kami sambut di Kemayoran dengan bahasa Inggris, dia justru membalasnya dalam bahasa Indonesia,” kata Maladi dulu.

BACA JUGA :   Hattrick Ronaldo Selamatkan Portugal

Hasilnya?

Sensasi Olimpiade Merlbourne 1956. Timnas kita mampu menahan Uni Soviet 0-0. Soviet sendiri akhirnya meraih medali emas.

Wiel Coerver, pelatih asal Feyenoord, Belanda lain lagi. Dengan metode pendekatan pribadi – catatan, Coerver mempelajari sejarah Indonesia sebelum datang – sesuai kebiasaan bangsa kita. Hasilnya Iswadi Idris dkk nyaris ke Olimpiade Montreal 1976. Sebanyak 100 ribu penonton jadi saksi kehebatan pola yang diterapkannya pada para pemain. Meski saat itu kita kalah dalam adu penalti melawan Korea Utara, tak ada satu pun penonton yang marah. Coerver sendiri dapat diterima sebagai bagian dari bangsa ini.

Wiel Corver (Foto: Istimewa)

Sementara itu, Anatoly Polosin, pelatih asal Uni Soviet, merupakan pelatih yang diakui atau tidak, paling berhasil, meski hanya di tingkat Asean. Polosin mempersembahkan medali emas SEA Games 1991 Manila. Bukan hanya itu, Polosin pun mampu mengangkat pemain kampung, Ribut Waidi menjadi bintang.

Polosin menerapkan pola kebersamaan, pola atau kebiasaan rakyat Indonesia yang selalun guyub, diterapkan. Tak heran jika Polosin ikut berlari bersama para pemain, lalu ikut main 3-1 yang sering dimainkan saat berlatih. Nilai kegotong-royongan ini menjadi kunci utamanya.

Pertanyaannya, apa yang sudah dilakukan Luis Milla? Tanpa bermaksud apa-apa, saya hanya ingin mengatakan, jika Mila tidak melakukan seperti yang dilakukan: Pogacnik, Coerver, dan Polosin, maka Milla justru akan masuk dalam jajaran pelatih yang gagal. Semoga tidak terjadi.

(Visited 390 times, 3 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo