Offside.co.id

Luis Milla, Michael Essien, dan Harapan

Selasa 14 Maret 2017 22:12 WIB

APRIL 2017, menjadi titik awal kembalinya kompetisi sepakbola Indonesia setelah ‘dibrangus kata lain dari dibekukan’ oleh pemerintah tanpa sebab. Hampir dua tahun sepakbola Indonesia menjadi ajang permainan politik praktis.

Kompetisi kali ini tentu diharapkan berjalan lebih baik dari kompetisi sebelumnya. Secara teknis, harus lebih berkualitas. Dan secara bisnis, harus jauh lebih bergairah lagi.

Dukungan all-out pemerintah seperti yang diperlihatkan Presiden Jokowi, hendaknya menjadi dorongan untuk menggapai semua   asa itu. Dengan kondisi tersebut, secara teori tak ada lagi yang bisa mengganjal PSSI.

Terkait dengan fakta itu, maka tak ada alasan lagi bagi PSSI untuk tidak bisa take off dari posisinya sekarang. Jika ternyata kelak PSSI masih seperti saat ini, khususnya kualitas kompetisi dan umumnya Tim Nasional, jangan ragu untuk  meminta mereka mundur.

Dukungan politik pemerintah itu pula yang membuat pelatih sekelas Luis Milla Aspas (50) mau bergabung. Meski Milla bukan pelatih kaliber dunia yang pertama menangani Tim Nasional kita, tetapi keberadaannya kali ini menebarkan harapan yang lebih luas.

BACA JUGA :   Tekuk Kolombia, Jepang Catat Sejarah Baru

Milla sempat membawa tim nasional U-21 Spanyol menjadi juara Eropa tahun 2011.  Milla juga sempat melatih klub Zaragoza peserta La Liga. Artinya, kualitasnya cukup untuk bisa membawa timnas kita berprestasi. Apalagi modal Milla ketika masih menjadi pemain, juga tak perlu disangsikan. Milla pernah bermain di Barcelona, Real Madrid, dan Valencia.

Nah, di ajang kompetisi, Persib Bandung berhasil menggaet Michael Essien mantan pemain Bastia, Lyon, Chelsea, Real Madrid, Milan, dan Panathinaikos. Jadi, kualitas bomber asal Ghana ini harusnya mampu menambah kualitas Persib dalam kompetisi dan menambah gemilang warna kompetisi itu sendiri.

Sama seperti Milla, Essien juga bukan pemain besar pertama yang merumput di kompetisi Indobesia. Pertengahan 1990an, Roger Milla dan Emmanuel Maboang Kessack, dua bintang Kamerun yang menenggelamkan sinar Diego Maradona saat pembukaan Piala Dunia 1990 di Italia (Argentina, juara bertahan kalah 0-1 dari Kamerun). Keduanya main untuk Pelita Jaya.

BACA JUGA :   Rusia Amankan Tiket Putaran Kedua

Jadi, secara teori, jalan mulus sudah terbentang di hadapan PSSI. Pertanyaannya, mampukah PSSI meraih harapan itu? Jawabnya akan segera terlihat dalam persiapan tim nasional dan pertandingan demi pertandingan dalam kompetisi yang kini diberi nama Liga-1.

Selain itu, masihkah para pemilik klub (tidak semuanya) mau menerapkan pola lama? Pola yang secara kasat mata terlihat, tetapi bukti otentik tak tampak. Pola mengatur pertandingan dengan cara mengatur wasit hingga ‘menyuap’ pemain lawan.

Dan PSSI tidak boleh kompromi dengan kejahatan ini. PSSI hendaknya mampu mendeteksi kejanggalan demi kejanggalan, dan segera bertindak. PSSI harus tanggap dan harus sensitif. Jika tidak, Milla, Essein dan dukungan all-out presiden,  tak akan ada manfaatnya.

Untuk itu, PSSI jangan bersembunyi atas nama apapun. Dan jangan pura-pura tak terjadi apapun.

Semoga PSSI lepas landas.

 

(Visited 964 times, 5 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo