Offside.co.id

Pembatasan Usia Pemain, PSSI Langgar HAM!

Rabu 15 Maret 2017 15:31 WIB

TIDAK ada angin dan hujan, PSSI tiba-tiba saja mengumumkan soal pembatasan usia dalam kompetisi Liga-1. Langkah ini menjadi yang pertama di dunia dan sekaligus menjadi titik utama kekeliruan dalam mengendalikan sepakbola di tanah air.

Kalau pun PSSI punya agenda untuk meningkatkan kualitas kompetisi, rasanya memilih membatasi usia bukanlah jalannya. Begitu juga, jika PSSI berniat untuk memberi kesempatan pada para pemain muda, pembatasan usia sama sekali tidak tepat.

Di samping itu, dengan cara seperti ini, maka PSSI sesungguhnya telah melanggar HAM. Tidak hanya itu, pembatasan usia ini sekaligus melahirkan dan menambah jumlah pengangguran baru. Bayangkan, ratusan pemain akan kehilangan pekerjaan dalam waktu berbarengan. Dan ratusan bahkan ribuan turunannya (keluarga) akan kehilangan mata pencaharian.

Padahal pemerintah sendiri terus-menerus berupaya untuk menciptakan lapangan pekerjaan, itu pun sulit dicapai. Dengan begitu maka PSSI yang di satu sisi di “back up” secara total oleh pemerintah, di sisi lainnya justru bertentangan.

 

Cara lain
Tidak tertulis memang, tapi patut dapat diduga alasan pembatasan usia itu juga terkait dengan gaji. Bisa dipahami jika para pemain yang usianya telah mencapai 30an, pastilah pemain yang berpengalaman, untuk itu klub-klub harus membayar lumayan besar. Tapi, jika pemain yang dikontrak klub adalah pemain-pemain muda, maka gajinya relatif kecil.

Dengan kata lain, PSSI ingin menjamin bahwa setiap klub bisa b erjalan dengan baik . Jika itu yang menjadi dasar, sesungguhnya langkah PSSI bagus, hanya caranya keliru. Berdasarkan pengalaman selama ini, banyak klub yang limbung di tengah jalan.

Jika memang maksudnya untuk itu, seharusnya langkah yang diambil PSSI bukan membatasi usia, tapi membatasi jumlah atau nominal kontrak. PSSI di era Azwar Anas sudah pernah melakukan hal itu. Jepang, Korea Selatan, dan Australia saat ini juga menerapkan hal serupa.

Dengan begitu, maka klub-klub akan dapat menjaga eksistensinya yang muaranya akan dapat menjaga kualitas serta kredebilitas kompetisi itu sendiri. Jadi, tidak ada pelanggaran terkait hak asasi manusia yang dilakukan PSSI.

Selain itu, jika akhirnya PSSI benae-benar ingin membatasi usia pemain, maka PSSI hendaknya melakukan sosialisasi yang panjang agar ratusan pemain itu bisa mencari pekerjaan lain. Atau, sekali lagi, mumpung Jokowi sedang all-out dengan sepakbola, mintalah dukungan untuk membuat Liga semacam Galakarya tempo dulu.

Di era Kardono, PSSI memiliki empat jenis kompetisi. Galatama (Liga Sepakbola Utama, non-amatir), Perserikatan (amatir), Galakarya (kompetisi antar perusahaan), dan ABRI.

Galakarya memang dimaksudkan untuk menampung para pemain yang sudah di atas 35 tahun. Perusahaan-perusahaan saat itu diminta Presiden Soeharto untuk menyisihkan dana promosinya bagi Galakarya. Dengan begitu, maka para pemain itu tetap dimanusiakan.

Bagaimana PSSI?

(Visited 342 times, 3 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo