Offside.co.id

PSSI, Komitmen Basa-basi?

Sabtu 1 April 2017 03:43 WIB

AKHIRNYA kompetisi Liga-1 — Liga Indonesia, dahulu — strata tertinggi dalam orbit sepakbola nasional, berputar juga. Ada rasa gembira, karena event yang secara resmi sempat dibrangus oleh tangan kekuasaan lebih dari setahun itu, akhirnya akan kembali bisa dinikmati oleh para pencintanya. Namun, kegelisahan dan kekhawatiran masih tetap ada di rongga dada.

Go-Jek -Traveloka (GJT) diharapkan bisa mengisi kerinduan bagi para mania. Dan sebagai ladang kehidupan bagi ratusan pemain serta ribuan keluarga dan puluhan ribu lainnya, sungguh-sungguh dapat lagi dinikmati. Perekonomian rakyat, bisa kembali bergerak serta kebanggaan rakyat bisa kembali terbangun.

Namun demikian, PSSI hendaknya benar-benar bisa menegakan komitmen untuk kemajuan. Artinya, semua pihak –PSSI, termasuk exco, pengurus, para pemilik klub, manajer, pelatih, dan pemain berikrar untuk maju. Mereka harus mau membuat komitmen agar permainan kotor yang selama ini dilakukan, mau mereka tinggalkan.

Permainan kotor itu antara lain: mengatur skor, mengatur wasit, dan memerintahkan pemain sendiri untuk kalah atau mengalah.
Semua itu biasa disebut dengan “match fixing”. Meski semua menolak mengakuinya, tapi kasat mata bisa terlihat.

Bahkan, langkah pemberantasan permainan kotor itu juga yang menyebabkan La Nyalla Mattaliti akhirnya ditinggalkan oleh orang-orang yang selama ini mendukungnya. “Saya sudah tahu siapa saja biangnya, pasti akan saya bersihkan!” katanya yang sontak dilawan dengan cara yang tidak diduga sebelumnya. LNM diboikot dan dimosi.

Seperti buang angin
“Match fixing” itu sangat sulit dibuktikan, kecuali tertangkap tangan. Tetapi permainan kotor itu sangat mudah dirasakan. Orang biasa menyebutnya, seperti orang kentut, sulit diduga siapa pelakunya, tetapi baunya bisa tercium begitu rupa.

Jadi, meski agak konyol, PSSI mestinya mau melakukan sumpah pocong, atau sumpah sejenisnya pada seluruh orang yang terlibat. Maklum, jika sumpah dengan Al Quran atau kitab lainnya, orang sangat mudah melanggarnya.

Dengan cara itu, maka, jika masih ada lagi yang terus mau brrmain-main, mungkin PSSI bisa membuat hukuman dengan cara mempermalukan pelaku. Soalnya, jika diberi sanksi administrasi seperti yang selama ini dilakukan, para pendosa itu bisa melakukan apa saja untuk menghapus hukuman.

Pertanyaannya, maukah PSSI membuat komitmen yang sungguh-sungguh itu? Jawabnya, hanya PSSI saja yang tahu. Tapi, jika melihat kenyataan yang ada, PSSI sendiri, belum memulai kompetisi, justru telah melakukan pelanggaran fundamental.

FIFA sebagai induk, justru diminta mengikuti sistem yang akan diterapkan PSSI. Padahal aturan FIFA jelas, dalam kompetisi pergantian pemain hanya tiga, PSSI justru akan menerapkan lima. FIFA tidak membatasi usia, PSSI justru membatasinya.

Jika alasannya untuk memberikan kesempatan pemain muda lahir, bukan dengan cara seperti itu. Masih banyak cara yang bisa dilakukan. Apa itu? PSSI pasti tahu jawabnya.

Semoga semua pihak mau berkomitmen sungguhan, bukan sekadar komitmen basa-basi.

Bravo sepakbola nasional!

(Visited 173 times, 1 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo