Offside.co.id

Satu Kata, Inggris Luar Biasa!

Jumat 10 Mei 2019 10:50 WIB

Offside.co.id – Silakan terkejut, dan silakan pula Anda tak percaya melihat hasil akhir semifinal dua ajang kompetisi antarklub Eropa – Liga Champions dan Liga Europa – yang kesemuanya meloloskan klub-klub wakil Inggris.

Liverpool dan Tottenham Hotspur telah memastikan diri lebih awal lolos ke final Liga Champions yang klimaksnya akan berlangsung di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, 1 Juni mendatang.

Sukses kedua klub itu dilanjutkan oleh dua klub asal kota London, Arsenal dan Chelsea, yang memastikan diri ke final Liga Europa. Mereka akan beradu di final 29 Mei mendatang di Stadion Olimpiade Baku, Azerbaijan. Arsenal menyingkirkan Valencia, Chelsea mendepak Eintracht Frankfurt.

Melesatnya keempat wakil Inggris ke final dua ajang bergengsi antarklub Eropa itu menjadi catatan pertama dalam sejarah persaingan klub-klub Eropa.

Sebelumnya Inggris pernah menempatkan dua klubnya yakni Tottenham dan Wolves bersaing di final Piala UEFA pada 1971-1972, serta Manchester United dan Chelsea di final Liga Champions musim 2007-2008. Setelah itu tak ada lagi pertemuan dua klub Inggris di final antarklub Eropa.

Catatan yang agak lumayan dibuat Spanyol yang pernah menempatkan tiga klubnya, Real Madrid, Atletico Madrid, dan Sevilla dalam final Liga Champions dan Liga Europa musim 2015-2016.

Musim 2018-2019 ini Inggris benar-benar luar biasa. Mereka memperlihatkan kualitas kompetisinya dengan meloloskan empat klub pada dua event tersebut.

“Di Inggris level kompetisinya sangat tinggi. Dan, premierleague adalah liga terbaik di Eropa,” kata Maurizio Sarri, pelatih Chelsea, seperti dikutip dari BBC.

BACA JUGA :   Persebaya Tertahan, Djajang Minta Maaf

Sarri benar. Di saat liga-liga top Eropa lainnya seperti Spanyol, Italia, atau Prancis sudah memastikan juaranya, Inggris belum. Hingga pekan ke-37 akhir minggu lalu, persaingan sengit perebutan puncak klasemen masih berlangsung antara Manchester City dan Liverpool. Dipastikan, gelar juara baru bisa diketahui di pekan terakhir, pekan-38.

Dari empat wakil Inggris yang melaju hingga final di persaingan Liga Champions dan Liga Europa musim ini, cerita dramatis tersaji saat Liverpool dan Spurs sama-sama lolos dari lubang jarum. Pasalnya, keduanya sama-sama melakoni partai penentuan setelah menelan kekalahan di laga semifinal pertama. Liverpool dibekap Barcelona 0-3, Spurs dilumat Ajax Amsterdam 0-1.

Walaupun Liverpool melakoni laga kedua semifinal di kandang sendiri, namun mengejar defisit tiga gol dari Barcelona bukan perkara mudah. Bukan apa-apa, semua tahu bagaimana kualitas permainan dan materi yang dimiliki Bracelona, raksasa Spanyol. Kalau bukan Barcelona lawan mereka, mungkin optimisme Liverpool jauh lebih tinggi.

Tapi, sepakbola punya cerita tersendiri. Lihat saja, apa yang terjadi di Anfield, Rabu lalu. Siapa yang menduga kalau Liverpool kemudian mampu melumat Barcelona? Bahkan membuat Lionel Messi dkk tak sanggup mencetak gol? Pelatih “The Reds”, Jurgen Klopp pun terheran-heran sendiri melihat sepak terjang pemain-pemainnya yang tampil begitu memukau.

Soal keyakinan menang lawan Barca, apalagi di kandang sendiri, mungkin Klopp optimistis. Tapi, menang dengan skor besar 4-0 dan membuat Barcelona mati kutu, sebelumnya tak terbayangkan oleh pelatih asal Jerman ini.

BACA JUGA :   Persela dan Persipura Berbagi Angka

Hal yang sama juga diperlihatkan Spurs di kandang Ajax. Mengejar defisit satu gol secara matematis akan lebih mudah bagi Spurs. Persoalan menjadi bertambah ketika Ajax ternyata mampu menambah dua gol dan Spurs dipaksa harus mengejar tiga gol supaya lolos.

Siapa yang menduga bahwa Spurs kemudian mampu mengejar defisit golnya sekaligus membenamkan ambisi pemain-pemain muda Ajax?

Itulah sepakbola. Semua skenario bisa berubah sebelum wasit membunyikan peluit terakhir sebagai tanda pertandingan sudah selesai. Liverpool dan Spurs membuktikannya.

Bagi penggemar tontonan Liga Inggris, menyimak dua laga semifinal Liga Champions pastilah langsung teringat bagaimana setiap pertandingan premierleague dimainkan. Selalu penuh drama. Kejar-mengejar gol hingga detik-detik akhir, apakah untuk mengejar ketinggalan maupun meraih kemenangan, adalah pemandangan biasa. Tidak ada istilah sudah unggul permainan jadi kendor. Atau sudah tertinggal kemudian pasrah. Sepakbola Inggris tidak pernah memperlihatkan drama seperti itu. Bertarung sampai detik terakhir itulah kebiasaan mereka.

Yang pasti dengan hadirnya empat klub Inggris di final Liga Champions dan Liga Europa, bukan berarti tontonan “premierleague” di pentas antarklub Eropa berakhir.

Ingat, masih ada satu lagi pertandingan yang akan mempertemukan sesama klub Inggris yakni Piala Super UEFA di Istanbul, Turki, Agustus mendatang. Siapa mereka?

Kita tunggu bersama.

(Visited 7 times, 9 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo