Offside.co.id

Glenn T Sugita, Dari Persib ke Liga Indonesia Baru

Sabtu 18 Maret 2017 16:40 WIB

Offside.co.id – PT Liga Indonesia Baru (LIB) telah dibentuk sebagai operator kompetisi sepakbola profesional Liga Indonesia. Jika tidak ada aral melintang perhelatan liga akan resmi dilaksanakan 15 April mendatang.

Namun, kita lupakan dulu bagaimana hajatan kompetisi terakbar sepakbola Indonesia yang mulai tahun ini akan memasuki warna dan suasana baru.

Ada yang menarik terkait hadirnya PT. LIB, yang keberadaannya disampaikan PSSI pada Kamis (16/3) lalu. Menarik, karena ada sosok-sosok baru di lingkungan sepakbola nasional yang menghiasi jajaran komisaris dan direksi operator baru liga itu.

Ya, hadirnya Glenn Timothy Sugita sebagai komisaris utama PT. LIB cukup mengejutkan. Sosok ini sebenarnya bukan orang baru dalam sepakbola. Walaupun lebih dikenal sebagai pengusaha, keterlibatan Glenn pada bisnis sepakbola sudah dimulai sejak tahun 2009 saat dia ikut membidani sekaligus duduk sebagai direktur utama PT. Persib Bandung Bermartabat (PBB), pengelola klub “Maung Bandung” Persib.

Di PT. PBB, Glenn tidak sendiri. Dia dibantu dua direktur lainnya, Teddy Tjahjono sebagai direktur keuangan dan Risha Adhi Wijaya sebagai direktur operasional. Nah, dua sosok terakhir ini pun, kini masuk dalam jajaran  direksi PT. LIB. Ketiganya bisa disebut sebagai tokoh sentral baik saat berada di PT. PBB maupun di PT LIB, yang baru saja dididrikan.

Kehadiran Glenn dan kawan-kawan memang sempat menimbulkan pro dan kontra. Namun perdebatan mereda dan berakhir setelah Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi dalam pertemuan manajer klub di Jakarta, Kamis (16/3) lalu, menjelaskan alasannya.

Menurut Edy Rahmayadi, pemilihan Glenn semata-mata karena alasan profesionalisme. Mereka menguasai bidang ini dan diharapkan dapat membawa kompetisi lebih baik ketimbang sebelumnya.

 

Aspek Bisnis

Mungkin banyak masyarakat sepakbola nasional yang belum familiar dan paham siapa sesungguhnya sosok Glenn T Sugita? Bagaimana pula kiprahnya di kancah sepakbola Indonesia?

Dari penulusuran OFFSIDE, kiprah pengusaha asal Bandung ini bermula ketika dia bersama pengusaha lainnya membentuk konsorsium untuk membeli saham mayoritas PT. PBB pada 2009.

Pada ulang tahun ke-83 Persib terungkap alasan mengapa Glenn mau membeli saham klub kebanggaan masyarakat Jabar itu. Menurutnya, seperti dikutip dari CNNIndonesia, “Sepakbola adalah olahraga nomor satu di Indonesia, bahkan dunia. Rating selalu tinggi. Jadi, tidak bisa disangkal sepakbola memiliki aspek bisnis bernilai tinggi.”

Tapi, kata Glenn lagi, bukan itu alasan satu-satunya ia mau bergabung ke manajemen Persib. “Rasa cinta yang besar pada Persib adalah alasan utamanya,” jelas Glenn, pria kelahiran Bandung yang pernah tercatat sebagai mantan atlet tenis Jabar.

Tak heran jika sejak hadirnya Glenn ke Persib, klub ini dengan cepat berbenah diri dan muncul sebagai klub yang sehat secara finansial. Sebagai orang penting di Northstar Group, ditunjang oleh jaringan bisnis yang dimilikinya, tidak sulit baginya mendanai Persib.

Bukti itu mudah didapat. Coba simak berapa banyak brand sponsor yang pernah dan masih melekat di Persib?

Dari mulai Honda, Sozziz, Corsa dan Achilles, Evalube, Yomart, Diadora, Joma, Mitre, League, Kopi ABC, Bank BJB, Bank BTPN, hingga Harum Energy, dan Surya Eka Perkasa, semua brand ini tentu tak lepas dari jaringan yang dimiliki Glenn. Bahkan keberadaan brand-brand ini juga telah merambah ke sejumlah klub lainnya, tidak cuma di Persib.

Daftar sponsor tersebut belum termasuk brand-brand lainnya yang secara rutin membeli ruang promosi di a-board saat Persib main di kandang sendiri. Belum lagi terobosan yang dilakukan PT. PBB saat bekerjasama dengan PT. Sumber Alfaria Trijaya dalam membuka Alfamart di sejumlah daerah di Jabar.

Adanya dukungan finansial yang kuat ini pula tak heran apabila pemain bintang silih berganti datang ke Persib. Bahkan, yang teranyar dan masih jadi pembicaraan adalah hadirnya eks bintang lapangan Chelsea dan Real Madrid asal Ghana, Michael Essien. Tak bisa dipungkiri, pembelian Essien adalah salah satu bentuk keseriusan Glenn terhadap Persib. Tujuannya,  agar Persib bisa lebih berprestasi di sepakbola nasional bahkan Asia.

Tantangan ke Depan

Glenn, dijembatani oleh tokoh-tokoh PT. PBB seperti Zainuri Hasyim dan Umuh Muchtar, aktif untuk berkomunikasi dengan klub-klub di bawah naungan Persib. Alhasil, kompetisi internal Persib dapat bergulir secara berkesinambungan. Kepedulian Glenn terhadap pemain muda dan sport science tersalurkan dengan hadirnya Diklat Persib.

Diklat ini terus menghasilkan pemain-pemain muda berbakat bagi tim Maung Bandung seperti Febri Hariyadi, Gian Zola, Henhen Herdiana, Ahmad Basith, dan beberapa nama lainnya yakni Ryuji Utomo (Persija), Hanif A Sjahbandi (Arema), dan Abdul Aziz (PBFC).

Bersama Persib Glenn sedikit banyak telah membuktikan kapasitasnya sebagai orang yang memang memiliki kepedulian terhadap sepakbola. Dan yang tak kalah pentingnya lagi adalah naluri bisnisnya dalam olahraga ini. Berkibarnya bendera Persib secara bisnis tak bisa dilepaskan dari buah tangannya.

Kalau sekarang PSSI memberikan kepercayaan kepada Glenn untuk menjalankan roda kompetisi profesional di bawah naungan PT. Liga Indonesua Baru itu adalah hal yang lumrah. Justru di sinilah ujian sesungguhnya bagi Glenn dan orang-orang pilihannya untuk dapat menularkan kesuksesannya di Bandung ke tingkatan yang lebih tinggi lagi yakni Indonesia (baca: PSSI).

Sebagai gebrakan awal, PT.LIB akan menjalin kerjasama dengan perusahaan aplikasi ojek online “Go-Jek” sebagai sponsor utama Liga 1. Masuknya Go-Jek boleh jadi juga tak lepas dari, lagi-lagi, jaringan yang dimiliki Glenn.

Go-Jek adalah perusahaan aplikasi ojek online yang bernaung di bawah bendera PT. Gojek Indonesia. Beberapa waktu lalu perusahaan ini mendapat suntikan dana dari Northstar Group, Kohlberg Kravis Robert & Co (KKR & Co), Warburg Pincus. Melalui mereka Go-Jek mendapatkan investasi modal senilai 550 juta dolar AS atau setara dengan Rp 7 triliun!

Lalu, mampukah Glenn bersama PT. LIB menjawab tantangan membawa sepakbola Indonesia ke arah yang lebih baik? Menjadikan sepakbola Indonesia ke arah industri? Tidak lagi dipenuhi dengan kasus klub kekurangan uang sehingga  tak kuat membayar gaji pemain? Dan, satu lagi, ini tidak bisa diabaikan, bebas dari pengaturan skor?

Menarik untuk kita ikuti kiprah mereka. Selamat datang Pak Glenn dan PT. Liga Indonesia Baru! (VP/KS)

 

(Visited 5.516 times, 5 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo