Offside.co.id

ISC 2016, Berhenti Atau Libatkan PSSI

Senin 16 Mei 2016 13:00 WIB

INDONESIA Soccer Championship (ISC) 2016 sudah berjalan empat pekan. Namun keresahan soal masa depannya mulai bermunculan. Soalnya, ISC digelar oleh PT Gelora Trisula Semesta (GTS) yang tidak langsung di bawah PSSI. Sementara, sanksi terhadap PSSI kini resmi dicabut. Ditakutkan, PSSI akan membentuk kompetisi sendiri atau melanjutkan Indonesia Super League (ISL).

Sekadar informasi, ISC 2016 diizinkan bergulir lantaran tidak ada afiliansi dengan PSSI yang ketika itu dibekukan oleh Kemenpora. Di sisi lain, Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) juga menegaskan akan mengizinkan ISC 2016 bisa bergulir jika tak berhubungan dengan PSSI.

Polemik soal ini sejatinya sudah diantisipasi oleh Pro Duta, salah satu peserta ISC B. Pada Maret lalu, klub yang sempat bermarkas di Yogyakarta itu mengumumkan tidak akan mengikuti kompetisi yang digelar PT GTS maupun tim transisi bentukan Menpora.

“Ini efek dari keributan selama ini. Okelah jika kami ikut PT GTS kemudian sanksi PSSI dicabut. Lalu, PSSI membentuk kompetisi sendiri. Bagaimana kelanjutan kompetisi bentukan PT GTS? Padahal kami sudah mengeluarkan duit yang banyak. Lagi-lagi, klub yang akan dirugikan,” terang Sihar Sitorus.

Bagaimanakah respon dari GTS?
Direktur GTS, Joko Driyono mengaku sempat mengantisipasi soal masa depan ISC 2016 dan pancabutan sanksi PSSI. Jauh hari sebelum ISC digulirkan, bilang Joko, pihaknya sudah mengajukan dua kemungkinan.

Jika pencabutan sanksi PSSI dilakukan sebelum kick off ISC 2016, maka PT GTS akan mengikuti aturan PSSI. Termasuk di antaranya regulasi terkait tim promosi dan degradasi. Sebaliknya, jika pencabutan PSSI dilakukan setelah ISC 2016 kick off, maka kompetisi itu akan berjalan terus hingga kelar. “Pencabutan itu terjadi setelah kick off, maka kami terus komitmen sampai akhir musim dan tanpa adanya promosi serta degradasi,” jelas Joko.

Inilah persoalannya. Banyak kejanggalan yang akhirnya membuat publik bertanya-tanya. Jika berlanjut sampai pekan terakhir, bagaimana mungkin kompetisi yang diikuti oleh tim-tim papan atas negeri ini, tanpa mengikuti aturan aturan FIFA? Dengan kata lain, kompetisi tak ideal. Tak ubahnya seperti turnamen biasa. “Turnamen omong kosong,” komentar Sudirman, eks kapten timnas era 90-an.

gts-iscRatu Tisha Destria, Direktur Kompetisi PT GTS menyebut, ISC 2016 akan berjalan terus. Sejauh ini tak ada pembicaraan yang mengarahkan ISC 2016 akan berhenti di tengah jalan hanya karena sanksi PSSI dicabut.

“Tak ada isu yang mengatakan kompetisi akan berhenti. Semua enjoy-enjoy saja. Kami akan tetap jalan hingga akhir musim. Soal apakah kami akan mengikuti aturan PSSI berikutnya, kita lihat saja nanti,” bilang Ratu pada Hanif Marjuni dari Offside.co.id.

PSSI kini membuka mata terhadap kelangsungan ISC 2016. Induk organisasi sepak bola di tanah air itu mengakui bagaimana pun kompetisi di bawah naungan PT GTS itu bersifat independen yang tidak melibatkan pihak manapun. Termasuk PSSI. Hanya saja, kompetisi itu diikuti penuh oleh anggota sah PSSI.

Karena itu, soal masa depan ISC 2016, akan ditentukan secepatnya. “Status ISC akan dibahas di level EXCO dan kongres tahunan yang nanti akan kami lakukan pada 1 Juni di Balikpapan,” ujar Direktur Legal PSSI, Aristo Pangaribuan.

ISC 2016 baru berjalan tiga pekan. Keberadaan kompetisi ini terbukti mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Seiring dengan pencabutan sanksi PSSI, penghentian kompetisi di tengah jalan, bukan solusi yang tepat. Banyak pihak yang akan dirugikan. Mulai dari sponsor utama, hak siar televisi. Kontrak pemain, dan lain-lain.

Ada baiknya, PT GTS berhubungan langsung dengan PSSI dan siap dengan apa pun hasil putusannya. Diyakini, jika PSSI mengizinkan kompetisi berlanjut, ada bermacam syarat dan konsekuensi. Di antaranya syarat yang terkait aturan promosi dan degradasi, pembinaan usia muda, kepentingan timnas, dan lain-lain.

(Visited 147 times, 2 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid