Offside.co.id

Jamie Vardy, Kisah Hidupnya Bak Negeri Dongeng

Sabtu 16 April 2016 10:51 WIB

Kisah hidup Jamie Vardy (29) bak negeri dongeng. Dari sosok yang bukan siapa-siapa, ia mencuat sebagai pemain yang banyak diperhitungkan di Premier League musim ini. Ia juga menjadi pemain timnas Inggris yang belakangan banyak mencuri perhatian dunia.

Saking menariknya perjalanan panjang Jamie, salah satu pelaku industri film Amerika Serikat, tertarik untuk memfilmkan kisah hidup bomber kelahiran Sheffield, Inggris tersebut. “Ada ketertarikan yang besar dari kami mengenai proyek Vardy karena perusahaan mencari film yang memiliki hasil yang baik seperti film “Field of Dreams,” ujar salah satu sumber Warner Brothers kepada The Daily Star.

Jamie memang fenomenal. Ia sangat berbeda dengan kebanyakan bomber-bomber beken Premier League yang dimatangkan di sebuah kompetisi yang hebat. Ia berbeda 180 derajat. Ia memulainya dari nol. Dari kompetisi amatir.

Ketika berumur 16 tahun, Vardy sempat dibuang tim Akademi Sheffield Wednesday. Kemudian, Vardy pindah ke tim amatir Stocksbridge Park Steels – bermain di Divisi Satu Selatan – pada 2007. Di tim ini, kariernya bagus. Ia sanggup melesakkan 66 gol dalam 106 penampilannya.

Alan Bethel, Ketua Stocksbridge Park Steels, menjelaskan ketika Jamie tampil di laga final di sebuah turnamen, ia mampu tampil sebagai pembeda. Ia bak tukang gedor yang menakutkan. “Ia telah membuat lawan compang-camping pada babak pertama,” kata Bethel.

Hanya saja, karier bagus itu tak berimbang dengan kehidupannya di luar lapangan. Ketika itu, untuk menutupi biaya hidup, ia harus ‘nyambi’ menjadi buruh pabrik. Tepatnya pabrik alat-alat penyangga patah tulang. Dia mengambi ekstra shift dengan gaji hanya USD 45 dollar per minggu. “Jika tidak dia lakukan, kebutuhan sehari-harinya tak tercukupi,” kata kolumnis Rob Hughes di New York Times.

Jamie mengakui masa-masa itu sangat berat.”Siang hari saya bekerja berjam-jam kemudian bermain sepakbola pada malam hari. Saya teknisi serat karbon. Memasukkan fiber ke dalam cetakan,” kata Vardy seperti yang dilansir dari The Mirror.

Di luar gaji yang kecil, ketika itu, Jamie juga pernah terlilit masalah pelik. Ia memukuli remaja yang mengejek rekannya. Alhasil, ia mendapatkan hukuman kurungan di rumah. Hukuman tersebut, diakuinya, membuat dia lebih dewasa.

Rekor termahal

Dalam perkembangannya, Jamie tak kuat membagi waktu antara bekerja dan bermain bola. Ia harus mengambil pilihan. Usai mempertimbangkan banyak hal, ia memilih meninggalkan pekerjaan kasar itu dan mulai konsentrasi penuh pada lapangan hijau. Ia pindah ke Halifax.

Pada musim 2011-2012, Jamie pindah ke Fleetwood Town. Di klub inilah, namanya mulai diperhitungkan. Ia mencuat sebagai pemain yang ngotot dan tanpa menyerah. Di tim ini, Jamie tampil luar biasa. Dalam 36 pertandingan, dia melesakkan 31 gol. Catatan yang ketika itu langsung mencuri perhatian tim-tim professional Inggris.

17 Mei 2002, Jamie pindah ke Leicester City. Ia didatangkan seharga 1 juta poundsterling. Saat itu, harga tersebut menjadi rekor pembelian termahal di non-league.

Di The Foxes peruntungan dia berubah drastis. Hanya dalam beberapa musim, namanya laik disejajarkan dengan pemain-pemain beken yang berlaga di kompetisi strata tertinggi Inggris. “Dalam karier saya, saya hanya tahu satu pemain seperti dia yang Jamie lakukan saat ini. Dia adalah pemain Juventus, namanya Moreno Torricelli yang berangkat dari klub non-Liga Caratese lalu ke Serie A dan memenangkan Scudetto,” jelas Claudio Ranieri, pelatih Leicester City.

Kalahkan Van Nistelrooy

Berbagai prestasi, ia lesakkan. Salah satunya, pada November tahun lalu, ia mengukir rekor di Premier League sebagai satu-satunya pemain yang bisa mencetak gol dalam 11 pertandingan secara beruntun. Rekor itu mengalahkan rekor milik Ruud Van Nistelrooy yang telah bertahan selama 12 tahun.

“Saya tentu senang dengan hal tersebut. Namun yang paling utama adalah kinerja tim. Saya pikir kami sudah melakukannya dengan baik dan ini merupakan hasil yang pantas,” ucap Jamie pada Daily Mail. “Selamat @vardy7! Sekarang Anda nomor satu dan Anda pantas mendapatkannya,” puji Nistelrooy.

Karena tampil gemilang kini Jamie jadi incaran tim-tim besar. Di antaranya Manchester United, Arsenal, dan Chelsea. Namun, dia kurang tertarik dengan isu itu. Dalam beberapa wawancara, ia lebih cemas dengan anak-anak yang bernasib seperti dirinya.

Dia ingin mendirikan akademi untuk para pemain di kasta sepak bola terbawah. “Saya tahu ada pemain di sana di posisi yang sama dengan saya. Mereka membutuhkan kesempatan. Saya ingat bagaimana rasanya dan sulit untuk bisa kembali atau bahkan sekadar berpikir sepakbola professional,” pungkas dia. (HM)

(Visited 99 times, 6 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid