Offside.co.id

Javier Roca: Saya Siap Melatih di Indonesia

Selasa 2 Januari 2018 09:40 WIB

Offside.co.id – Masih ingat Javier Roca? Gelandang elegan asal Chile yang pernah malang melintang di persepakbolaan Indonesia antara 2003 hingga 2013?

Sejak memutuskan pensiun dari dunia sepakbola pada 2013, pemilik nama lengkap  Javier Leopoldo Roca Sepulveda itu memilih kembali ke negaranya bersama istrinya yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) dan seorang putrinya.

Setelah bermain di sejumlah klub Indonesia mulai dari PSMS Medan, Persegi Gianyar, Persibom Bolaang Mongondow, Persitara Jakarta Utara, Persija Jakarta Persiba Balikpapan, Persebaya Surabaya, Gresik United, Persidafon Dafonsoro, Batavia Union, dan Persis Solo, pemain kelahiran 7 Agustus 1977 itu meneruskan kiprah sepakbolanya dengan menjalani sekolah kepelatihan di Santiago, Chile.

Javier Roca saat praktik kepelatihan di lapangan. (foto: koleksi pribadi/FB)

Sudah tiga tahun Roca menempuh pendidikan kepelatihan di Federasi Sepakbola Chile (FFC) bekerjasama dengan Conmebol (Konfederasi Sepakbola Amerika Latin). Dan, apabila tidak ada aral melintang, pertengahan Januari 2018 ini dia akan menyelesaikan studinya dan jika lulus maka Roca akan mengantongi Lisensi Pelatih A Profesional.

Lalu, apa rencana selanjutnya setelah lulus dari sekolah kepelatihan di Chile? Berikut petikan wawancara Kesit B Handoyo dari Offside.co.id dengan Javier Roca di penghujung tahun 2017 lalu .

T: Hai Roca, apa kabar?

J: Hai, Amigo… kabar saya sangat baik. Ini saya lagi rayakan malam tahun baru di Chile.

T: Sejak pensiun sebagai pemain sepakbola, apa kesibukan kamu sekarang?

J: Setelah pensiun tahun 2013 saya sempat pindah ke Bali dan coba berbisnis. Setelah itu saya bersama keluarga sempat pergi dan bekerja di New York, Amerika Serikat. Tapi, tak lama di New York, karena saat di sana saya mendapat pangilan dari Federasi Sepakbola Chile (FFC) untuk mengambil Lisensi A Conmebol di Universitas Sepakbola INAF.

T: Wah, Anda benar-benar melintas batas ya, dari Solo, Bali, New York, lalu Chile…

J: Iya, petualangan yang sangat menarik.

T: Untuk mendapatkan Lisensi A Anda perlu waktu tiga tahun?

J: Betul. Di Chile untuk mendapatkan Lisensi A kepelatihan diperlukan waktu tiga tahun. Tahun pertama lulus Lisensi C,  kemudian tahun kedua B, dan tahun ketiga A.

T: Anda cukup lama berkiprah di sepakbola Indonesia. Anda pun termasuk pemain yang sangat familiar bagi publik sepakbola nasional. Kesan selama bermain di Indonesia?

J: Mungkin bisa saya tulis menjadi sebuah buku karena sangat banyak sekali hahaha…. Pastinya, saya selalu terkesan dengan suporternya. Dimana pun ada pertandingan, apakah liga satu, dua, dan tiga penonton selalu banyak. Saya pernah main di Persibom Bolaang Mongondow, di sana yang namanya suporter rela naik truk satu malam untuk menonton pertandingan tim pujaan mereka. Itu luar bisa sekali!

Javier Roca saat berkostum Persis Solo. (foto: pasoepati.net)

T: Apa lagi yang berkesan buat Anda?

J: Banyak, banyak sekali.  Saya pernah menjadi top skorer. Kemudian saat main di Persebaya, saya melihat ada pemain muda yang saya yakini bakal menjadi pemain bintang yakni Andik Vermansyah. Kemudian main di Solo, saya bertemu kamu, hahaha….Melihat Pasoepati, suporter Persis Solo. Namun, yang jelas, saya tetap berterima kasih dan terkesan dengan suporter-suporter tim yang pernah saya perkuat.

T: Kalau yang paling berkesan?

J: Ada beberapa tim yang meninggalkan kesan tersendiri buat saya. Pertama, Persegi Gianyar,  dimana saya pernah mendapat gelar sebagai pencetak gol terbanyak, tapi tim itu kini sudah tidak ada. Kemudian PSMS Medan, tim pertama saya saat berkarier di Indonesia tahun 2003, dan Persis, tim terakhir saya.

T:  Lalu, bagaimana pendapat tentang sepakbola Indonesia?

J: Sepakbola Indonesia, khususnya sejak saya bermain di sana hingga pensiun,  sudah ada banyak kemajuan. Saya tidak tahu, apakah sejak Indonesia mendapat sanksi dari FIFA atau sesuatu yang lain, tapi saya melihat ada perkembangan yang bagus. Saya berharap, tidak berhenti di situ saja, harus terus maju agar Indonesia bisa bersaing lebih jauh lagi.

T: Soal kompetisi sepakbola di Indonesia?

T: Sebenarnya sudah cukup oke. Tapi, menurut saya, yang masih kurang mendapat perhatian adalah kompetisi usia dini dari mulai umur 8 tahun, di mana anak-anak seusia itu sudah bisa mendapatkan latihan yang rutin.

T: Secara umum, kekurangan sepakbola Indonesia di mana?

J: Dalam permainannya. Sepakbola Indonesia masih kurang secara taktikal, padahal pemain-pemain Indonesia punya teknik dan fisik yang bagus. Selain kurang dalam taktik, soal disiplin dan mental juga harus diperhatikan. Saya melihat dua masalah terakhir ini masih kurang di Indonesia.

T: Nah, Anda tahu dan paham betul apa kelebihan dan kekurangan sepakbola Indonesia. Anda tertarik untuk ikut membangun dan memperbaikinya?

J: Sangat tertarik dan sangat tertantang, makanya saya rela “bertapa” tiga tahun di Chile untuk sekolah pelatih. Jujur, saya sangat tertarik bisa berkarier kembali di Indonesia. Saya ingin ikut membangun sepakbola Indonesia. Saya siap melatih di Indonesia.

T: Tidak berniat pindah warga negara Indonesia?

J:  Soal jadi WNI, kita bisa ngobrol santai pagi-pagi sambil minum kopi, hehehe…

(Visited 4.371 times, 41 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo