Offside.co.id

Lasmi: Katanya, Mereka Belum Seberapa…

Selasa 5 Maret 2019 15:59 WIB

Offside.co.id – Tiba-tiba saja namanya menjadi perbincangan publik sepakbola nasional. Padahal untuk urusan persepakbolaan di Tanah Air, Lasmi Indaryani, sebelumnya tak pernah dikenal. Namanya mulai mencuat tatkala dunia sepakbola Indonesia diguncang oleh terbongkarnya kasus pengaturan skor di penghujung 2018 lalu. Kasus inipun menjadi atensi pihak kepolisian RI yang kemudian merespons dengan membentuk Satgas Antimafia Bola.

Lasmi menjadi sorotan publik karena keberaniannya. Lasmi adalah manajer tim Persibara Banjarnegara, anggota Liga 3, yang menjadi korban dari praktik-praktik kotor mafia sepakbola Indonesia. Wanita yang aktif sebagai pesilat dan merupakan putri dari Bupati Banjarnagera, Budhi Sarwono, ini tidak takut untuk membongkar permainan yang dilakukan sejumlah oknum pengurus sepakbola Indonesia.

Lalu bagaimana sosok yang pernah dipercaya sebagai manajer timnas putri ini bisa mengenal urusan sepakbola, olahraga yang didominasi oleh kaum pria? Mengapa pula Lasmi tiba-tiba menjadi sasaran yang “diolah” oleh para mafia sepakbola untuk mengeruk keuntungan pribadi?

Berikut petikan wawancara Kesit B Handoyo dari Offside.co.id, dengan Lasmi Indaryani, kader Partai Demokrat yang saat ini sedang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif untuk DPR-RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah VII, dalam sebuah pertemuan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Apa kabar Mbak Lasmi, salam kenal…

Kabar baik Mas. Salam kenal juga

Bagaimana ceritanya Anda bisa bergelut di sepakbola dan menjadi manajer di Persibara Banjarnegara?

BACA JUGA :   Timnas U-19 Matangkan Strategi di Sidoarjo

Saya ini sebenarnya penggemar olahraga, saya aktif di pencak silat. Tapi untuk urusan sepakbola memang masih baru, lebih kurang satu tahun terakhir ini. Awalnya, saat ayah saya dilantik sebagai ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Banjarnegara. Tapi karena sibuk dengan tugasnya sebagai bupati, beliau kemudian meminta saya sebagai manajer tim Persibara. Dari situlah saya kemudian mulai mengenal orang-orang di lingkungan pengurus PSSI.

Saat menjadi manajer Persibara Anda dimintai berapa oleh para mafia bola?

Lumayan besar. Yang sudah dijumlah totalnya itu mencapai Rp 1,3 miliar. Selain itu saya juga pernah dimintai sekitar Rp 300 juta, terkait dengan permintaan untuk TC Timnas, pembayaran hotel dan sebagainya. Namun kalau yang Rp 300 juta itu saya memang bersedia dan itu bukan permintaan dari mafia.

Lalu, yang Rp 1,3 miliar itu mengalir kemana saja?

Banyak, macam-macam. Awalnya justru mereka minta untuk jadi tuan rumah, tapi ternyata tak juga menjadi tuan rumah. Saya sempat minta lagi uangnya, eh, tidak dikasih. Malah saya diberikan rincian menang bayar, kalah bayar, bahkan kemudian jumlahnya minus. Untuk pertandingan Porprov dihargai Rp 110 juta, tapi kalah, kita menang dihargai sekitar Rp 100 juta, tapi kita kalah juga Rp 100 juta. Dan, uang itu merupakan uang pribadi saya

BACA JUGA :   Inter Bawa Radja, Icardi Didrop

Siapa yang meminta langsung uang tersebut kepada Anda?

Ada Mbah Pri dan Tika yang sudah menjadi tersangka duluan, yang kemudian ada tersangka berikutnya dari hasil pengembangan bukti-bukti yang ada. (Dari penelusuran Satgas Antimafia Bola diketahui, Mbah Pri (Priyanto) punya andil dalam mengatur pertandingan-pertandingan di Liga 3. Dia disebut merupakan mafia pengaturan skor di Liga 3 khusus area Jateng. Dia membawahi para wasit dan bisa menunjuk penugasannya. Dalam penelusuran Satgas, Mbah Pri punya peran penting dalam putaran mafia sepak bola yang dibawahi anggota Exco PSSI, Johar Lin Eng. Mbah Pri berperan mencari wasit yang mudah diatur dan mengikuti arahan Johar).

Sepengetahuan Anda, selain mereka, apakah ada orang yang lebih tinggi lagi atau kakapnya?

Saya ini kan orang baru di dunia sepakbola. Tapi, dari informasi yang saya peroleh dari senior-senior di sepakbola, katanya sih mereka itu belum seberapa, masih ada kakapnya lagi.

Anda pernah diancam?

Ya, pernah. Setelah saya melaporkan kasus itu saya pernah dintimidasi dan diteror lewat media sosial baik lewat Instagram, Twitter, WA ada grup WA. Saya dibully, misalnya saya tidak boleh bicara ke media.

Masih mau mengurus sepakbola?

Untuk saat ini saya ingin konsentrasi dulu ke urusan lain.

 

Keterangan Foto: Instagram

(Visited 33 times, 3 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply