Offside.co.id

Pemerintah Tak Peduli, Boaz cs. Eksodus ke Timor Leste

Senin 22 Februari 2016 14:18 WIB

Pembekuan PSSI oleh Menpora Imam Nahrowi setahun ini, disusul sanksi FIFA karena pemerintah dinilai mengintervensi. Sepakbola Indonesia mati suri. Rasa jenuh pada turnamen-turnamen mulai dirasakan. Maklum, hanya 20 persen saja pemain yang terlibat. Sisanya, menganggur! Tanpa liga normal, para pemain pun mengarahkan tujuan di liga yang tak pernah diduga jadi sasaran eksodus sebagian peman top: Liga Timor Leste!

Di saat kondisi liga kita yang membeku sampai batas waktu yang tidak jelas, saudara muda kita Timor Leste justru sibuk berbenah, menggelar liga sepakbola profesional untuk pertama kalinya. Bertajuk Liga Futebol Amadora (LFA) atau Liga Amadora, sebanyak 12 klub akan bertarung menjadi yang terbaik pada kompetisi yang akan dimulai pada akhir Februari ini.

Pemain Indonesia pun berbondong-bondong untuk eksodus ke Liga Amadora. Mereka butuh berkompetisi liga reguler, yang mematikan rezeki para pesepakbola dan keluarganya. Hingga saat ini tercatat ada enam pemain Indonesia yang dipastikan akan bermain di Liga Amadora edisi perdana.

Gelombang pertama diisi Abdul Rahman, Patrich Wanggai, dan Titus Bonai. Mereka mengawali hijrahnya bintang Tanah Air dengan membela Karketu FC dan tampil pada babak kualifikasi menuju Liga Amadora. Ketiganya kemudian disusul pemain asal Tanah Papua sekaligus mantan penggawa Timnas, Oktovianus Maniani, Immanuel Wanggai, dan terakhir Boaz Solossa.

Dua nama pertama telah tiba di Bandara Presidente Nicolau Lobato, Dili, Timor Leste, Minggu (14/2) untuk bergabung dengan klub Liga Amadora lainnya, Carsae FC. Sementara itu Boaz baru akan tiba di Dili besok (23/2) untuk tanda tangan kontrak dengan klub yang sama dengan Okto dan Wanggai.

Selain eksodusnya beberapa pemain di atas, Liga Amadora juga akan menjadi ajang pembuktian dua pelatih yang selama ini dekat dengan Indonesia. Carsae FC dilatih mantan asisten pelatih Timnas Indonesia, Fabio Oliveira. Sementara Karketu Dili FC ditangani mantan pelatih Persepam Madura Utama, Arcan Iurie.

Lalu, apa yang menjadi pertimbangan Tibo dan kawan-kawan dalam mencoba peruntungan di Liga Amadora? Gaji yang besar atau para penonton yang pasti hadir ke stadion? Sementara rekan-rekannya yang lain justru memilih eksodus ke liga Malaysia, Thailand, atau Myanmar.

Bagi Abdul Rahman, merantau di Timor Leste selain jadi pengalaman baru juga menjadi alternatif saat kompetisi di Indonesia berhenti. Mantan bek Persib Bandung ini sangat antusias menyambut Liga Amadora.

“Kami sangat optimistis. Apalagi kami beradaptasi cukup cepat. Ditambah lagi, ada pelatih Arcan Iurie yang sudah kami kenal,” kata Abdul Rahman yang sukses mencetak gol pada babak kualifikasi menuju Liga Futebol Amadora 2016.

Menurut agen yang membawa pemain Papua ke Liga Amadora, Jimi Maak, alasan Manu Wanggai dkk bergabung dengan klub Timor Leste adalah dikarenakan kondisi persepakbolaan Indonesia yang tidak menentu. Jimi Maak yang juga menjembatani kedatangan Boaz, tak menampik jika pemain Indonesia mendapatkan upah yang tinggi di Liga Amadora.

Nilai kontrak Boaz di klub Timor Leste juga lumayan. Meski tak menyebut angka secara pasti, Jimmy menyebut Boaz mendapatkan kontrak di atas Imanuel Wanggai yang dibanderol Rp 1,5 miliar. “Nilai kontraknya kurang lebih segitu. Dibayar pakai dollar, tidak pakai mata uang Indonesia,” ungkap Jimi dikutip laman Pasific Pos.

Tak hanya pemain Indonesia yang menjelajahi sepakbola Timor Leste, perusahaan Tanah Air juga berekspansi ke Dili. Dua perusahaan Indonesia yang menjadi sponsor klub Liga Amadora adalah Semen Tonasa dan Bir Bintang.

Semen Tonasa merupakan produsen semen dari Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan yang beroperasi sejak tahun 1968, menjadi sponsor Cacusan Clube Futebol. Logo perusahaan itu terpampang di bagian dada kostum utama klub yang didominasi warna merah.

Sementara Bir Bintang menjadi sponsor Karketu Dili FC. Bir Bintang merupakan produk minuman beralkohol yang diproduksi anak perusahaan Heineken, Multi Bintang Indonesia. Meski berada di bawah Heineken, cikal bakal Bir Bintang berawal dari Indonesia, tepatnya pada tahun 1929 lewat perusahaan bernama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen yang didirikan di Medan.

“Karketu FC menjalin kerja sama sponsorship dengan Bir Bintang dengan durasi satu tahun,” demikian bunyi pernyataan Karketu FC melalui akun Facebook.

Ekspansi dua perusahaan Indonesia tidak mengagetkan, mengingat di Tanah Air kompetisi masih vakum. Memang cukup ironis, ketika ada banyak klub Indonesia gulung tikar, negara tetangga justru tengah asyik membangun kompetisi mereka.

Lalu, bagaimana Federasi Sepakbola Timor Leste (FFTL) mengelola Liga Amadora? Pasalnya, jumlah klub yang banyak dan terbatasnya infrastruktur dan juga stadion, sepertinya menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Timor Leste diketahui hanya memiliki satu stadion (National Stadium) dan Lapangan Pramuka sebagai tempat berlatih tim nasional.

Bahkan beberapa tahun silam, Timor Leste meminjam stadion Kapten I Wayan Dipta di Gianyar, Bali untuk menghadapi Hongkong dalam pra-kualifikasi Piala Dunia. Yang patut dicatat, Timor Leste terus membangun sepakbolanya mulai dari bawah, dan tahun ini adalah waktunya.

Liga Amadora pun kini mulai dikenal di Indonesia setelah kedatangan enam pemain Indonesia tersebut. Animo penonton pun semakin besar karena klub-klub ISL, seperti Sriwijaya FC, Persib Bandung, dan Arema cukup terkenal di Dili.

“Pemain klub ISL menarik perhatian penonton karena mereka juga pernah memperkuat timnas dan klub top. Yang pasti, semakin banyak klub Timor Leste yang mengincar pemain Indonesia. Sebelumnya sudah ada sekitar 10 pemain, kebanyakan dari NTT,” ungkap Miro Baldo Bento, mantan pemain PSM Makassar yang kini mengarsiteki FC Porto Taibessi.

Anehnya, Menpora Imam Nahrawi malah mendukung langkah “bedol desa” Boaz dkk tersebut ke liga tetangga. Alih-alih mencarikan solusi atas kisruh persepakbolaan Tanah Air yang sudah lebih dari setahun ini vakum, dilarangnya tim nasional Indonesia di ajang internasional akibat sanksi FIFA, tak ia pedulikan.

“Tidak apa-apa, saya mendukung sepenuhnya. Indonesia kelebihan stok pemain hebat. Anak-anak Indonesia hebat di sana, bisa dipercaya oleh klub-klub luar negeri, termasuk Timor Leste. Klub Timor Leste melihat selama ini sudah ada bibit-bibit pemain Indonesia yang bisa berkiprah di negara lain,” kata Imam Nahrawi.

Sikap tanpa empati untuk ribuan pesepakbola yang menganggur, segera direspon suporter. Mereka merencana akan kembali turun ke jalan lagi. “Tunggu saja, kami akan turun ke jalan lagi, dengan jumlah lebih besar,” kata Larico Ranggamone, salah satu petinggi The Jakmania.

Larico seperti halnya sebagian besar suporter Indonesia lainnya, tak ingin negara kita semakin tertinggal. Apalagi dari bekas provinsi Indonesia tersebut. Selain itu, mereka juga butuh tontonan, sebab bukan tidak mungkin kejengkelan itu kelak akan meledak tak terkendali, hanya gara-gara petinggi negeri tidak peduli. (BM)

(Visited 85 times, 4 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid