Offside.co.id

Ronny Tanuwijaya: Harus Ada Terobosan Kepelatihan

Selasa 12 Juni 2018 11:13 WIB

Offside.co.id – Lama tak terdengar suaranya  dan seakan seperti hilang dari dunia sepakbola, bukan berarti sosok yang satu ini lupa akan hiruk pikuknya olahraga paling populer di bumi ini. Diam-diam, mantan pendiri dan ketua Asosiasi Pelatih Sepakbola  Indonesia (APSI) dan manajer tim Persijatim ini tetap memantau perkembangan dunia sepakbola, khususnya di Indonesia.

Ronny Tanuwijaya, demikian sosok yang di era 90-an hingga di pertengahan tahun 2000 begitu dikenal di dunia sepakbola tanah air, ternyata tetap kritis. Sebagai orang yang cukup lama berkecimpung di dunia sepakbola nasional, Ronny melihat sepakbola kita mulai kehilangan figur pemain maupun pelatih lokal.

Apa dan bagaimana ia mencermati perkembangan sepakbola Indonesia khususnya dalam sepuluh tahun terakhir ini? Berikut petikan wawancara Kesit B Handoyo dari Offside.co.id dengan Ronny Tanuwijaya yang berlangsung dalam suasana santai di sebuah restoran di bilangan Jakarta Pusat, Senin (11/6) malam.

 

T: Bagaimana kabar Anda?

J: Baik-baik saja

T: Anda terlihat begitu fresh bahkan terlihat lebih muda…

J: Hahaha… Di usia yang sudah tidak lagi muda sekarang saya lebih enjoy. Sekarang, dalam menjalankan bisnis, saya lebih banyak menunggu bola saja.

T: Masih tetap mengikuti dunia sepakbola Indonesia?

J: Anda mau tanya apa? Semoga saya masih bisa menjawabnya, hahaha…

T: Soal sepakbola Indonesia, khususnya tim nasional, apa yang bisa Anda amati belakangan ini?

J: Tim nasional kita banyak memiliki pemain berbakat. Kemampuan mereka pun saya lihat hampir merata satu sama lain. Hanya satu kekurangannya, timnas kita sekarang ini tidak memiliki ujung tombak yang tajam. Kita seperti kehilangan pemain depan yang kuat dan bisa diandalkan.

T: Menurut Anda, apa yang menjadi penyebabnya?

J: Penyebabnya satu, pemain-pemain depan di hampir seluruh klub di Indonesia didominasi pemain asing. Coba simak berapa banyak striker lokal yang jadi andalan di klubnya? Nyaris tidak ada. Karena itu jangan heran jika kita tak lagi memiliki penyerang-penyerang hebat seperti dulu contohnya Sucipto Suntoro, Risdianto, Ricky Yakobi, atau Bambang Nurdiansyah.

Pemain asing, khususnya di barisan depan, mendominasi klub-klub Liga 1. (foto: liga-indonesia.id)

T: Melihat kondisi ini, apa yang sebaiknya dilakukan?

J: Memberikan kepercayaan kepada pemain lokal untuk posisi itu. Dengan begitu maka ketajaman mereka akan terasah. Klub harus berani melakukan itu, demikian juga dengan pelatih. Kalau pemain-pemain depan lokal kita tidak diberikan kepercayaan sejak sekarang ini bisa menjadi ancaman serius timnas ke depan.

T: Menurut Anda apa kendala yang membuat pemain-pemain lokal, khususnya striker, tidak menjadi pilihan utama di klubnya karena posisi itu lebih banyak dipercayakan kepada pemain impor?

J: Di era kompetisi profesional semuanya memang menjadi sangat wajar karena klub ingin berprestasi. Mereka sudah mengeluarkan uang begitu banyak, pastilah goal-nya adalah prestasi. Nah, untuk bisa meraih itu mereka perlu pemain hebat, dan pilihannya tentu pemain asing yang kemampuannya di atas rata-rata pemain lokal kita.

T: Sebagai seorang yang pernah aktif berkecimpung di organisasi pelatih nasional, sejauhmana Anda melihat peran pelatih saat ini?

J: Persoalannya hampir sama dengan pemain. Pos-pos pelatih lokal, khususnya di klub-klub Liga 1, banyak yang hilang. Klub-klub pun kini lebih banyak menggunakan jasa pelatih asing. Coba simak klub-klub besar kita seperti Persib, Persija, Persipura, Persebaya, semuanya menggunakan pelatih asing. Mereka pun akan lebih mengandalkan pemain-pemain asing di lini depannya. Wajar, karena era profesional ya memang seperti itu.

Seperti halnya pemain asing, pelatih asing pun banyak bertebaran di klub-klub Liga 1. Alfredo Vera pelatih Persebaya Surabaya memberikan instruksi kepada pemainnya. (Foto: liga-indonesia.id)

T: Melihat kondisi seperti itu solusi apa yang bisa Anda kedepankan?

J: Harus ada terobosan dan keberanian dari organisasi sepakbola Indonesia. Dalam hal pemain lokal misalnya, kita harus berani memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pemain-pemain depan berbakat produk dalam negeri untuk menjadi andalan di klubnya. Harus dimulai dari sekarang jika tidak Indonesia akan mengalami krisis pemain depan lokal.

T: Soal pelatih?

Demikian juga dengan pelatih. Organisasi yang memayungi pelatih-pelatih kita harus lebih memperlihatkan perannya. Pelatih-pelatih lokal harus diberikan kesempatan seluas-luasnya juga. Asosiasi pelatih punya tugas dan kewajiban mendidik anggota-anggotanya agar bisa bersaing dengan pelatih asing. Caranya adalah, bersama-sama dengan PSSI, asosiasi pelatih harus membuat banyak program pengiriman pelatih untuk mengikuti kursus kepelatihan. Sepakbola terus berkembang, pelatih tidak boleh ketinggalan pengetahuan. Kalau pelatih asing banyak berkiprah di Indonesia, sejatinya pelatih Indonesia pun seharusnya bisa diekspor ke negara lain untuk melatih klub-klub di luar negeri.

T: Sebagai sosok yang pernah melahirkan asosiasi pelatih di tanah air, Anda tak tertantang untuk “turun gunung”?

J: Hahaha….belum terpikirkan lagi.

(Visited 316 times, 13 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo