Offside.co.id

Sanksi Bisa Dicabut, tapi FIFA Ogah Dibohongi Lagi

Kamis 28 April 2016 14:30 WIB

KABAR BAIK disampaikan Ketua Tim AdHock FIFA, Agum Gumelar Rabu (27/4), seusai menemui Presiden FIFA, Gianni Infantino, sehari sebelumnya bersama Erick Thohir, Ketua Komite Olimpiade Indonesia dalam kapasitas sebagai perwakilan pemerintah. Poinnya, FIFA bisa mencabut sanksi terhadap sepakbola Indonesia yang di-banned di pentas internasional, asal pemerintah mencabut sanksi kepada PSSI.

Agum juga tidak sekadar menjual kabar. Soalnya, FIFA juga menegaskan sikapnya lewat surat tertulis. “Alhamdulillah pertemuan cukup kondusif dan melahirkan beberapa poin penting. FIFA mengingatkan pemerintah melalui surat yang dikirimkan kepada Mensesneg pada hari yang sama. Suspension FIFA akan dicabut hanya apabila pemerintah mencabut pembekuan terhadap PSSI,” ujar Agum.

Kehadiran Erick juga sempat menjadi tanda tanya. Bisa jadi, dia diminta hadir karena kapasitas lain. Seperti diketahui, Erick kini relatif harum di pentas sepakbola Italia atau dunia, sebab ia adalah Presiden Inter Milan. Diyakini, lobi Erick jauh lebih bergigi dibanding utusan Menpora Imam Nahrawi terdahulu. Dengan hadirnya Erick sebagai “wakil pemerintah” (KOI), FIFA diharapkan bisa melunak.

Maklum, FIFA sepertinya sudah tidak respek dengan Nahrawi. Hal ini bisa dimaklumi, sebab Agum dalam kapasitas sebagai Ketua tim AdHock yang direstui FIFA, telah berkali-kali merasa dibohongi pemerintah.

“Sudah empat kali saya merasa dibohongi. Katanya pembekuan PSSI mau dicabut, nyatanya tidak. Dengan Pak Presiden pun begitu. Jelas sekali beliau minta pembekuan dicabut, ternyata apa? Katanya cuma wacana. Saya tidak mau dibohongi lagi,” ujar Agum.

Turnamen Indonesian Soccer Championship (ISC) yang mulai digelar Jumat (29/4) pun tidak melibatkan PSSI, meski fakta membuktikan, orang-orang yang terlibat berstatus produk PSSI. Wasit, Inspektur Pertandingan, pemain dan lain-lain, semua produk PSSI.

Sudah jadi rahasia umum, PT GTS yang menjadi pengelola ISC, boleh menggelar event dengan catatan tidak melibatkan PSSI. Turnamen rasa kompetisi ini, berpotensi membuat FIFA meradang.

Agum pun menyampaikan adanya keinginan kuat untuk mendongkel Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti, yang kini dikejar dengan kasus keuangan yang terjadi beberapa tahun lalu. La Nyalla sudah menang dalam Pra-Peradilan, tapi terus dikejar dengan kasus baru. Intinya, dia harus ditangkap dan digelar KLB. Bagaimana sikap FIFA?

Terkait hal ini, FIFA menegaskan, Kongres Luar Biasa (KLB) merupakan ranahnya PSSI beserta Statuta dan anggotanya. “KLB seperti yang saya sudah berulangkali bicara, hanya dapat dilakukan sesuai Statuta PSSI yang sudah sesuai dengan standart statuta FIFA,” jelas Agum. Artinya, bukan karena keinginan seorang menteri, atau satu dua orang pesanan menteri.

Agum berharap, setelah mendapatkan pencerahan langsung dari FIFA, pemerintah mencabut pembekuan yang diikuti dengan pencabutan suspension FIFA. Jika kedua pihak komit, kemungkinan pencabutan sanksi FIFA terjadi sebelum Kongres Tahunan di Meksiko pada 9-10 Mei.

Jika semua clear, tim nasional Indonesia bisa beredar lagi di pentas internasional seperti halnya negara-negara tetangga. Situasi sepakbola sekarang memang periode terburuk sejak Ir. Soeratin mendirikan PSSI pada 1936 dengan semangat nasionalisme dan cinta Tanah Air. (SN)

(Visited 27 times, 1 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid