Offside.co.id

Setahun Pembekuan PSSI: Cuma Rebutan Turnamen!

Senin 29 Februari 2016 14:11 WIB

Pembekuan PSSI sudah berjalan setahun. Selama itu pula, sepakbola Indonesia kehilangan denyut nadi. Tak ada lagi kompetisi legal di semua level. Tak ada pula hiruk pikuk timnas di ajang internasional. Yang ada hanya turnamen yang digulirkan secara instan. Miris.

Ya, sejak PSSI dibekukan, masyarakat sepakbola hanya disuguhi dengan beragam turnamen. Ironisnya, di turnamen tersebut, dimunculkan bermacam regulasi yang kadang tak sesuai dengan roh kompetisi. Sebut saja Piala Kemerdekaan (tim transisi), Piala Presiden (Mahaka Sports), Piala Jenderal Sudirman (Mahaka Sports), Piala Gubernur Kaltim (PT GTS) hingga yang terdekat Piala Bhayangkara (PT GTS), dan Piala Bung Karno (PT GN).

Ironisnya lagi, ketika turnamen digulirkan, aturan dan segala pernak-perniknya, harus diketahui dan seizin sang penguasa. Pihak penyelenggara turnamen harus mengantongi izin Tim Transisi yang ditugaskan Menpora menggantikan peran PSSI.

Lebih parah lagi, ada badan lain yang pengaruhnya luar biasa: Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Dalam dua tahun terakhir, badan olahraga yang awalnya hanya berkecimpung di olahraga tinju tersebut, memiliki peran sentral dalam memberikan rekomendasi digelarnya sebuah laga.

Tiga turnamen memang sudah berakhir. Juara baru dari sebuah tunamen instan, telah terlahirkan. Geliat suporter di beberapa daerah, juga muncul lagi. Namun semua akhirnya menyadari bahwa apa yang terjadi hanya laga di level turnamen. Bukan gelar juara atau keikutsertaan di ajang seakbar kompetisi.

Muatan Politis
Setelah beberapa turnamen sukses digelar, kini Piala Bhayangkara yang merupakan event-nya Polri segera menyusul. Bersamaan itu ada Piala Bung Karno. Piala Bhayangkara dibantu oleh PT Gelora Trisula Semesta (PT GTS), “titisan” dari PT Liga Indonesia. Sementara Piala Bung Karno digelar PT Gilbol Network (PT GN). Konon, orang-orang di belakang PT GN merupakan eks pentolan pengelola Liga Primer Indonesia (LPI).

Masalah pelik menyeruak. Jadwal dua turnamen tersebut hampir bersamaan. Piala Bhayangkara diplot pada 17 Maret-4 April 2016. Sementara Piala Bung Karno pada 19 Maret hingga 14 April 2016.

Peserta turnamen Piala Bung Karno bukan klub yang terdaftar di federasi, tapi sebuah tim yang baru dibentuk dan mempresentasikan setiap kota. Pemain diambil menyesuaikan kota kelahiran kemudian dikumpulkan menjadi sebuah tim dan direstui pemimpin daerah setempat. Rencananya, ada delapan kota yang akan ikut, yakni Semarang, Solo, Bandung, Papua, Makassar, Surabaya, Padang, dan Medan.

Bahkan, pelatih telah ditunjuk oleh pihak operator turnamen pun, punya kedekatan historis dengan kota tersebut. Seperti Widyantoro untuk Solo, Daniel Roekito untuk Yogyakarta, Nil Maizar untuk Padang dan Rully Nere yang ditunjuk menangani Papua.

“Setiap kota akan mendapatkan suntikan dana sebesar Rp 1 Miliar. Para pemain juga akan memperoleh upah Rp 40 juta,” kata perwakilan operator Piala Bung Karno, Yon Moeis (eks CEO Batavia Union di era LPI) kepada Bakhtiar Majid dari Offside.co.id.

Sedangkan untuk Piala Bhayangkara, pesertanya sebagian klub ISL seperti Sriwijaya FC, Arema Cronus, Persipura Jayapura, Persib Bandung, Mitra Kukar, Persija Jakarta dan Bali United. Selain itu, juga ikut terlibat adalah PS TNI serta PS Polri. Kehadiran klub-klub ISL di Piala Bhayangkara akan membantu persiapan mereka sebelum terjun di kompetisi resmi.

Namun tim Transisi bentukan Kemenpora lebih memprioritaskan turnamen Piala Bung Karno. Alasannya, operator Piala Bung Karno lebih dulu mengajukan diri untuk menggelar turnamen. Mereka menyarankan Piala Bhayangkara diundur. Tapi alasan sesungguhnya semua paham, di Piala Bung Karno ada nama Megawati dan Jokowi. Ada dugaan, turamen bermuatan politis.

“Kami meminta Kapolri agar Piala Bhayangkara diundur karena bentrok dengan jadwal Piala Bung Karno, kecuali persyaratan yang kami minta ke panpel Piala Bung Karno bisa terpenuhi. Tapi infonya mereka bisa memenuhi semua,” kata anggota Tim Transisi, Chepy Wartono.

Sekretaris Tim Transisi yang juga Kepala Bidang Komunikasi Kemenpora, Gatot S. Dewabroto juga sempat menyatakan, Piala Bhayangkara bakal diundur. Menurut Gatot, urutan turnamen dalam waktu terdekat adalah Piala Gubernur Kaltim, Piala Bung Karno, dan Piala Bhayangkara. Mungkin setelah itu ada Piala Ketua DPD RI.

Serunya, Ketua Panpel Piala Bhayangkara, Irjen (Pol) Condro Kirono memastikan turnamen yang digagas untuk memperingati HUT Bhayangkara ke-70 itu berjalan sesuai jadwal! “Saya tegaskan Piala Bhayangkara tak akan diundur! Persyaratan dari Tim Transisi sudah kami penuhi,” ujar Condro di Lapangan Mako Brimob, Depok.

Menunggu Janji Jokowi
Serangkaian turnamen ini mengancam kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC), terlebih jika ada turnamen yang diundur. ISC diplot pada April 2016. Jika Piala Bhayangkara diundur,  jadwal juga akan bentrok dengan ISC.

Apakah rezim Jokowi akan terus menjejali masyarakat sepakbola Tanah Air dengan berbagai turnamen? Hal ini bertolak belakang dengan janji Jokowi saat kampanye Calon Presiden di Papua. Mantan Walikota Solo ini berani menjamin, jika terpilih jadi presiden, potensi sepakbola Papua akan dioptimalkan dan sepakbola Indonesia bisa menjadi juara.

“Kalau tidak juara, saya berani di-(gaya potong leher). Nanti saya urus setelah saya jadi presiden,” tutur Jokowi di hadapan ratusan masyarakat Papua, Kamis (5/6/2014) di Tribunnews.

Setali tiga uang, komitmen Menpora Imam Nahrawi dalam memperbaiki sepakbola Indonesia juga patut digugat. Untuk olahraga lain seperti otomotif, ia justru berani mati-matian mencarikan dana untuk Rio Haryanto agar bisa tampil di Formula 1, termasuk dengan memotong sebagian gajinya sendiri.

Dalam sejarah panjang sepakbola Indonesia, inilah untuk pertama kalinya Indonesia mati suri di semua lini. Di-banned FIFA, liga pun terkunci. Rakyat berharap semuanya segera bisa dinormalkan. Semua dikembalikan pada sang penguasa. Pengangguran terjadi dimana-mana. Sektor informal di sekitar sepakbola juga loyo.  Ingat: Vox Populi, vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan. (BM)

(Visited 35 times, 1 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid