Offside.co.id

Tugiyo: Saya Kecewa dengan PSIS

Selasa 31 Mei 2016 13:36 WIB

Ketika menyebut nama Tugiyo, maka kebanyakan orang akan ingat dengan gol semata wayangnya ke gawang Persebaya Surabaya yang dikawal Hendro Kartiko pada final Liga Indonesia V 1999 lalu.

Kebanyakan orang juga akan ingat posturnya yang pendek dan gempal, mirip dengan legenda sepakbola Argentina, Diego Maradona. Maka tak heran pula jika akhirnya ia mendapat julukan sebagai ‘Maradona dari Grobogan’.

Ya, kehidupan sepakbola di provinsi Jawa Tengah memang tak bisa dilepaskan dari sosok Tugiyo. Ia adalah pahlawan PSIS saat Mahesa Jenar menjuarai kompetisi sepakbola nasional musim 1998/1999. Kendati begitu, ia sempat kecewa dan menyesal terhadap tim yang berkandang di Stadion Jatidiri Semarang tersebut.

Berikut wawancara eksklusif Bakhtiar Majid dari Offside.co.id saat menemui Tugiyo di Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu:

Bakhtiar Majid (BM): Apa kabar? Akhirnya main sepakbola lagi di Stadion yang megah seperti Gelora Bung Karno ini.

Tugiyo (TG): Alhamdulillah kabar baik. Saya senang karena ikut dilibatkan dalam sebuah pertandingan melawan tim legenda Calcio Legend di Jakarta ini. Ini juga sekaligus sebagai acara reuni dengan kawan-kawan seperjuangan yang kebanyakan sudah pensiun dari sepakbola.

BM: Setelah pensiun dari sepakbola, kegiatannya apa saja? Dengar-dengar membuka usaha kuliner Mie Ayam?

TG: Saya sekarang melatih adik-adik di sebuah akademi sepakbola bernama PFA atau Primavera Football Academy yang bertempat di kota Salatiga. Tiap Senin hingga Jumat melatih akademi, lalu Sabtu-Minggu pulang ke Semarang berkumpul bersama anak dan istri. Soal membuka usaha mie ayam hanya gosip saja. Kabar tersebut tidak benar.

BACA JUGA :   Manchester City Raih Piala FA

BM: Selama berkarir menjadi pemain sepakbola, gol apa yang paling berkesan dan selalu dikenang?

TG: Tentu gol ke gawang Hendro Kartiko saat final Liga Indonesia tahun 1999. Gol itu juga membawa PSIS Semarang menjadi juara.

BM: Itu puncak karir Anda ya. Setelah itu tiba-tiba nama Anda sudah tak terdengar lagi.

TG: Waktu itu saya cedera lutut saat latihan bersama timnas senior dibawah pelatih Bernard Schumm. Cedera itu menggagalkan impian saya memperkuat tim nasional. Setelah sembuh, saya coba bermain lagi dengan bergabung bersama klub Divisi Utama seperti PSIS, Persipur Purwodadi, Persip Pekalongan dan juga Persik Kuningan.

BM: Anda merasa tidak dihargai PSIS? Karena kegiatan Anda saat ini justru hanya melatih akademi sepakbola di Salatiga, bukannya bekerja di sebuah instansi pemerintahan daerah semacam PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) seperti mantan pemain PSIS lainnya?

TG: Saya sempat menyesal dan kecewa dengan PSIS. Karena kesannya, saya dan pemain lain dibutuhkan hanya saat masih ‘bertenaga’. Apa lagi saat saya dan teman-teman berhasil membawa PSIS juara, saya berharap ada penghargaan dari manajemen dan pemerintah setempat, namun kenyataannya hal tersebut tidak terealisasi.

BACA JUGA :   Klasemen Sementara Liga 1

BM: Jadi, Anda merasa tidak dihargai PSIS?

TG: Iya, saya merasa tidak dihargai. Karena sebagai pemain yang berhasil membawa prestasi bagi kota Semarang sudah semestinya ada penghargaan dari pemerintahan setempat. Tapi hal itu telah berlalu, saat ini saya sudah cukup senang dengan pekerjaan saya sekarang sebagai pelatih akademi sepakbola.

BM: Penghasilan sebagai pelatih akademi sepakbola sudah cukup memenuhi kebutuhan keluarga?

TG: Setidaknya sudah lebih baik dari masa lalu. Karena kondisi ekonomi saya juga sempat terpuruk.

BM: Apakah selamanya hanya ingin melatih akademi sepakbola? Tidak ada niat melatih PSIS?

TG: Tentu keinginan itu ada. Saya pasti akan menerima dengan tangan terbuka jika ditunjuk menjadi asisten pelatih atau tim pelatih di PSIS. Saya berharap suatu saat diberikan kesempatan tersebut.

BM: Baik, terimakasih atas waktunya.

TG: Sama-sama.

Reporter Gila Bola Media, Bakhtiar Majid bersama Tugiyo di depan ruang ganti pemain di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Reporter Gila Bola Media, Bakhtiar Majid bersama Tugiyo di depan ruang ganti pemain di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

BERITA MENARIK LAINNYA :

Jerman Hadapi Piala Eropa Tanpa Marco Reus

Waduh! ISC A 2016 Terancam Molor Hingga Maret 2017

Dejan Pahami Kemarahan Bobotoh

(Visited 2.447 times, 8 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid