Offside.co.id

Walikota Solo: Erick Thohir Pantas Pimpin PSSI

Rabu 31 Juli 2019 21:33 WIB

Offside.co.id – Seiring dengan telah ditetapkannya percepatan pelaksanaan Kongres PSSI pada 2 November 2019 yang agendanya adalah pemilihan ketua umum baru PSSI, belum muncul calon-calon potensial yang dinilai memiliki kapasitas mumpuni untuk memimpin PSSI empat tahun ke depan.

Hal tersebut dikemukakan Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo dalam perbincangannya dengan Offside.co.id di Loji Gandrung, kediaman resmi Walikota Solo di Solo, Jawa Tengah, Senin (29/07).  Menurut salah satu tokoh sepakbola nasional yang sudah malang melintang di dunia sepakbola Indonesia itu, meskipun sudah ada calon yang digadang-gadang, dirinya tidak melihat sosok tersebut tepat untuk memimpin PSSI.

“Meskipun sudah ada figur yang mulai dimunculkan, tapi saya menilai masih belum layak memimpin PSSI. Dalam kondisi sepakbola Indonesia yang masih karut marut sekarang ini, diperlukan sosok yang mampu membuat perubahan secara menyeluruh,” kata Rudy, panggilan akrab Walikota Solo itu.

Sosok yang dimaksud mantan anggota Komite Normalisasi PSSI pada 2011 itu, adalah orang yang tahu betul sepakbola, terlebih lagi tentang kondisi sepakbola di Tanah Air. Syarat ini, menurut Rudy, mutlak diperlukan agar ke depannya PSSI tidak salah langkah lagi.

“Jangan beranggapan memimpin PSSI itu mudah. PSSI harus dipimpin oleh orang yang punya integritas, dan jangan sesekali menjadikan PSSI untuk arena politik. Apalagi hanya menjadikannya sebagai batu loncatan untuk tujuan lain di luar sepakbola,” kata mantan ketua umum Persis Solo ini.

Saat disinggung siapa kandidat yang menurutnya cocok untuk memimpin PSSI, Rudy tanpa basa-basi langsung menyebut Erick Thohir.

BACA JUGA :   Timnas U-18 Siap Beri Kado HUT RI

“Di mata saya Erick Thohir adalah orang yang pas untuk memimpin PSSI. Sosok muda, punya background olahraga, pernah menjadi pimpinan klub sepakbola di Italia (Inter Milan, red), pengusaha, serta sukses menjadi ketua panitia Asian Games 2018 lalu. Sosok seperti dia itulah yang saat ini dibutuhkan PSSI untuk menjawab tantangan memperbaiki berbagai persoalan yang ada di sepakbola nasional,” Rudy menegaskan.

Kondisi sepakbola Indonesia dewasa ini belum kunjung membaik. Reformasi yang pernah diusung oleh masyarakat sepakbola belum sepenuhnya tercapai, bahkan cenderung terlupakan. Kasus-kasus hukum yang menimpa sejumlah petinggi PSSI menunjukkan bahwa organisasi sepakbola Indonesia masih bermasalah. Munculnya kasus pengaturan skor yang melibatkan pengurus PSSI telah merusak tatanan induk organisasi sepakbola nasional.

Rudy menambahkan, belum lagi persoalan kompetisi, pembinaan pemain muda, serta tim nasional yang juga masih mendera dan belum memperlihatkan tanda-tanda perbaikan. Dibutuhkan orang-orang yang berani melakukan perubahan dengan program-program yang tepat sasaran. “Dan ini hanya bisa dijalankan oleh orang yang paham tentang sepakbola. Kalau belum tahu seluk beluk sepakbola, ya, sulit untuk berbuat banyak,” ujar Rudy.

Rudy juga mengingatkan program PSSI harus sejalan dengan apa yang diharapkan pemerintah terhadap pembangunan sepakbola Indonesia ke depan. “Ini juga penting karena sepakbola itu bisa mempersatukan bangsa. Jika sepakbola Indonesia punya prestasi masyarakat akan senang dan makin bersatu,” ujarnya.

Rudy juga mengingatkan bahwa yang tak kalah pentingnya adalah para pemilik suara di PSSI. Mereka (voters) punya peran sangat krusial karena sebagai pemegang suara, merekalah yang memilih para pemimpin di PSSI. “Para pemilik suara harus berubah juga. Jangan hanya karena diiming-imingi sesuatu lalu mau saja disuruh memilih calon yang tidak paham seluk beluk sepakbola,” kata sosok yang pernah menjadi wakil walikota Solo saat kota itu dipimpin Joko Widodo, kini Presiden RI.

BACA JUGA :   Ruben Tetap Dukung Bejo

Terjadinya kekosongan di pucuk pimpinan PSSI menyusul mundurnya Edy Rahmayadi sebagai ketua umum pada Januari 2019 lalu, membuat kinerja PSSI pincang. Situasi makin diperburuk setelah Joko Driyono, wakil ketua umum yang ditunjuk sebagai Plt Ketua Umum PSSI, ditangkap Satgas Antimafia Bola karena perusakan barang bukti di bekas kantor PT Liga Indonesia yang digeledah polisi. Joko Driyono sendiri sudah divonis hukuman 1,6 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Selain Joko Driyono, seorang anggota Komite Eksekutif PSSI, Johan Lin Eng juga ditangkap polisi karena terlibat kasus pengaturan skor. Sebelumnya seorang anggota Exco PSSI lainnya yakni Hidayat mengundurkan diri karena diduga terlibat pengaturan skor.

Saat ini nama yang muncul dalam bursa kandidat ketua umum PSSI periode 2019-2023 adalah Komjen Pol M. Iriawan alias Iwan Bule, mantan Kapolda Jawa Barat dan Metro Jaya. Nama lainnya yang beredar adalah Rahim Soekasah, mantan manajer timnas Indonesia yang saat ini menjadi chairman klub anggota Liga Australia, Brisbane Roar. (KS)

 

(Visited 32 times, 32 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply