Offside.co.id

7 Fakta Ini Bikin Leicester City Jadi Kampiun Liga Inggris

Selasa 3 Mei 2016 13:36 WIB

LUAR BIASA! Ungkapan ini serasa tak berlebihan bila disematkan pada Leicester City. Tim yang promosi dua musim lalu ini tampil menggila dan menjadi juara Premier League musim ini.

Gelar itu resmi disandang klub berjuluk The Foxes ini setelah rival terberatnya dalam perburuan gelar, yakni Tottenham Hotspur hanya meraih hasil imbang 2-2 saat bertandang ke Stamford Bridge, markas Chelsea, Selasa (3/5) dini hari WIB. Seketika, Leicester jadi trending topik di seantero jagat berkat lonjakan sensasionalnya tersebut. Claudio Ranieri sebagai arsitek tim pun dipuja.

Kegemilangan Jamie Vardy dan kawan-kawan tak hanya meluluhlantahkan berbagai prediksi dan ekspektasi. Para petaruh dan jago bandar sekalipun tentu setengah tak percaya melihat nasib tim-tim unggulan musim ini, terutama sang juara bertahan Chelsea yang sempat terseok-seok di zona degradasi.

Tak hanya itu, melihat performa Rubah Biru, kita pun jadi mafhum. Persepsi dan paradigma ball possession bisa diputar balikkan. Leicester di tangan Ranieri memiliki prinsip penguasaan bola tak menjamin gol, apalagi kemenangan. Kemenangan juga tak bisa digaransi dengan kendali permainan, termasuk juga lontaran peluang.

Tengok saja, 13 dari 14 pertandingan Leicester musim ini dicapai dalam posisi inferior, atau dalam kondisi penguasaan bola yang lebih rendah dibanding lawan-lawannya. Dengan presentase penguasaan bola yang sangat minim sekalipun, Leicester mampu meraih kemenangan.

Contah nyata terjadi saat mereka mengalahkan West Ham United, Agustus tahun lalu. Saat itu penguasaan bola Leicester hanya 30%, namun laga berakhir dengan kemenangan 2-1. Begitu juga saat menumbangkan Liverpool di King Power Stadium. Pengalaman Leicester mengajarkan kepada para pelatih, bahwa penguasaan bola tak jadi jaminan utama untuk mendulang tiga poin.

ranieri

Sosok penting yang ada di balik sukses Leicester menjuarai Premier League untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub tentu ada pada Claudio Ranieri. Bagaimana tidak, saat datang dan diperkenalkan kepada publik sebagai pelatih baru The Foxes pada awal musim, The Thinkerman hanya diberikan target oleh pemilik klub, Vichai Srivaddhanaprabha agar tidak terdegradasi.

Namun, pelatih berusia 64 tahun ini pandai memaksimalkan sumber daya yang dimiliki pemainnya. Dengan komposisi skuat yang tak jauh berbeda dengan yang ditinggalkan pendahulunya, Nigel Pearson, Ranieri memberikan sentuhan yang membuat setiap pemain menjadi bagian penting, satu kesatuan tak terpisahkan.

BACA JUGA :   Gara-gara Selebrasi Ronaldo Terancam Sanksi

“Dia punya sekelompok pemain untuk bekerja dalam sebuah struktur. Sebagian besar adalah memahami kemampuan kelompok dan menemukan metodologi. Dia datang dan melihat apa yang cocok. Dia menempatkan pasak bulat di lubang bundar,” pundit BBC Sport, Pat Nevin memberikan penjelasan.

Kerja keras Ranieri dalam meracik skuat Leicester musim ini memang patut diacungi jempol. Bayangkan saja, dengan modal belanja pemain yang hanya 50,16 juta euro, tim ini bisa menjadi juara Liga Inggris.

Angka tersebut lebih kecil dibandingkan nilai tranfser Aston Villa sebesar 66,5 juta euro. Villa sendiri akhirnya harus rela bermain di Championship Division musim depan karena terdegradasi.

Dengan modal pemain yang bertipikal cepat dan pekerja keras, seperti Jamie Vardy dan Riyad Mahrez, Ranieri tak memaksa anak asuhnya untuk berjuang mati-matian merebut bola dan mengendalikan permainan. Ia hanya minta mereka untuk sigap menahan diri dan cermat memanfaatkan peluang.

Berikut 7 fakta yang membuat Leicester City menjadi juara Liga Inggris musim 2015-2016:

1. Pengalaman Ranieri
Leicester City bukan satu-satunya klub di Liga Inggris yang pernah dilatih Ranieri. Jauh sebelumnya tepatnya medio 2000-2004, pelatih yang mempunyai julukan The Thinkerman ini pernah membesut Chelsea.

Selain itu, sudah banyak tim beken eropa dilatih olehnya seperti Juventus, Inter Milan, Valencia dan juga AS Monaco.

Dengan CV– nya itu, ia memiliki segudang pengalaman dalam hal membangkitkan semangat serta menerapkan pola permainan yang tepat bagi Leicester musim ini.

2. Sosok Vardy dan Mahrez
Kesuksesan Leicester tak lepas dari peran dua pemain ini, Jamie Vardy dan Riyad Mahrez. Dengan tidak berniat mengesampingkan peran pemain lainnya, tapi sosok kedua pemain tersebut menjadi nyawa dalam mengantarkan The Foxes menjadi juara.

Dan dengan torehan 22 golnya musim ini menjadikan Vardy sebagai salah satu striker ganas di Premier League selain Harry Kane dan Sergio Aguero. Gol-golnya membantu Leicester meraih hasil maksimal dalam setiap laga yang dilakoni.

Sementara bagi Mahrez, performanya menjadikannya sebagai pemain terbaik Premier League musim ini. Ia menjadi salah satu aset panas yang diperebutkan di bursa transfer musim panas mendatang dan ini yang harus diwaspadai oleh manajemen Leicester.

BACA JUGA :   Fans Dynamo Kiev Rasis kepada Pemain Chelsea

3. Fokus Tak Terpecah
Tidak ada jadwal kompetisi Eropa, tidak tampil di kompetisi Eropa serta gagal di Piala FA serta Piala Liga membuat Leicester bisa fokus di Premier League musim ini.

Sementara itu, performa naik-turun anggota Big Four yang biasa mendominasi Liga Inggris seperti Manchester United, Manchester City, Arsenal dan Chelsea juga menjadi keuntungan bagi The Foxes.

4. Runtuhnya Dominasi MU
Liga Inggris menjadi seru pasca runtuhnya dominasi Manchester United dan juga tim Big Four. Sejak saat itu, Premier League menjadi semakin menarik sehingga juaranya tidak mudah diprediksi sebagaimana yang terjadi di Ligue 1, Serie A atau Bundesliga.

5. Tekad Pembuktian Kapasitas
Entah apa yang selalu dibicarakan Ranieri di ruang ganti Leicester sehingga tim ini bisa tampil trengginas sepanjang musim ini. Namun mereka tentu telah belajar dari pengalaman tim lain seperti perjalanan Southampton musim lalu.

Soton yang dilatih Ronald Koeman sempat tampil mengejutkan, namun akhirnya tumbang juga di tengah jalan. Hal yang sama diterima Leicester karena setiap orang berpikir nasib The Foxes akan seperti Soton.

Ternyata Ranieri mampu menjadikan Leicester kuat dalam melakoni jadwal Premier League musim ini dan menjadi juara.

6. Peran Pemain Tak Terduga
Memang kekuatan Leicester tak hanya Vardy dan Mahrez. Di balik dua nama tenar tersebut ada Christian Fuchs, N’Golo Kante hingga Marc Albrighton yang menjadikan kualitas tim Ranieri tetap terjada selama semusim.

Selain itu, kecerdikan dalam kebijakan transfer pemain juga menentukan sukses Leicester. Ya, kesuksesan operasi transfer, yaitu harga murah bukan berarti kualitas tidak bagus.

Strategi manajemen Leicester dalam mendatangkan pemain seperti Mahrez (350 ribu pounds), Fuchs, Okazaki, Albrighton hingga Vardy menjadi salah satu kesuksesan The Foxes membentuk tim yang berkualitas.

7. Kompaknya Seluruh Elemen
Momentum dan keyakinan diri dari seluruh ornamen Leicester City mulai dari manajemen, pemain hingga fans menjadikan mereka mampu memanfaatkan momentum yang ada untuk menumbuhkan keyakinan akan sukses di musim ini. (BM)

(Visited 97 times, 1 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid