Offside.co.id

Stop Kepentingan Sektoral, Jika Tak Mau Tenggelam!

Rabu 12 Juli 2017 13:43 WIB

Offside.co.id – SEA Games ke-29 tahun 2017, sudah di depan mata. Pemerintah (Kemenpora) masih pada keputusannya, tetap tidak menargetkan capaian akhir di pesta olahraga bangsa-bangsa ASEAN itu. Para atlet dan cabang-cabang olahraga yang akan berlaga, masih terus berjuang, meski mereka jiga harus berkutat dengan kesulitan keuangan lantaran supporting dana yang menjadi hak, masih belum jelas. Dan KOI serta KONI masih juga berjalan di koridor masing-masing.

Fakta ini terus terang menjadi yang terburuk sepanjang sejarah keolahragaan nasional. Bahkan dibandingkan dengan masa pra-kemerdekaan, inilah masa di mana dunia keolahragaan kita berada di ujung tanduk. Jika para stake-holder tidak segera menyatukan diri dan jika pemerintah tetap tak peduli, maka bukan tidak mungkin dunia keolahragaan nasional akan sungguh-sungguh tenggelam ke titik terkelam.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin dunia keolahragaan bisa mengalami hal ini? Padahal, jauh –ini adalah fakta yang terus dilupakan– sebelum bangsa ini diproklamirkan oleh Bung Karno-Bung Hatta, orang-orang olahraga, baca: PSSI, Pelti, PBKI (Bola Keranjang) yang tergabung dalam ISI (Ikatan Sport Indonesia) sudah lebih dulu memproklamirkan ke-Indonesia-an tahun 1938. Artinya, orang-orang olahraga nasional adalah pendiri bangsa yang terdepan.

Tapi, mengapa kok dunia olahraga kita harus mengalami masa seperti sekarang? Mari kita lihat duduk persoalan yang sesungguhnya sedang terjadi.

Kontingen Indonesia (foto: istimewa)

Dua Penyebab Utama
Sebagai wartawan olahraga yang mengawali karier jurnalistik di tahun 1979, saya melihat persoalan paling pokok dari penyebab ketidakjelasan ini adalah tidak adanya faktor kepedulian ditambah faktor ego sektoral dari masing-masing pihak.

Diakui atau tidak, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, dua persoalan itulah yang menjadi penyebab semua kekacauan ini. Ada pihak yang menepuk dada dengan kekuasaan di tangannya dan ada juga yang tidak mau memperdulikan pihak lain. Padahal berdasarkan fakta sejarah pihak ini selama berpuluh tahun telah berdarah-darah untuk dan demi kejayaan bangsa di sektor olahraga.

BACA JUGA :   PSSI Siapkan Pengganti Indra Sjafri

Gawatnya, semua pihak bersikukuh untuk tidak ingin mencairkan kebekuan dan kebuntuan. Yang memegang kekuasaan merasa paling kuasa karena UU-SKN no.3 tahun 2005, yang satu merasa paling berhak karena bunyi salah satu pasal dalam UUSKN itu menyebutnya begitu, dan yang satunya lagi merasa tidak dilibatkan meski fakta sejarah merekalah sesungguhnya yang selalu sibuk menata dan membangun dunia olahraga nasional.

 

Menginjak Bumi

Pertikaian dalam dunia olahraga nasional sesungguhnya bukanlah hal baru. Tapi, selalu saja ada jalan keluarnya. Semisal pertikaian KONI dan KOI di tahun 1978, berakhir dengan indah.

Atas namakepentingan bangsa, dua tokoh utama di dunia olahraga kita, Sri Sultan HB IX dan Paku Alamm VIII bergandengan tangan. KONI dan KOI disatukan di bawah Sri Sultan HB IX. Sejak itu, tak ada lagi silang-sengkarut di dunia olahraga hingga akhirnya kedua lembaga non-pemerintah itu kembali berceraintahun 2012.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun dalam kasus ini. Saya justru ingin mengajak semua pihak untuk sungguh-sungguh “menginjak bumi” dan tidak berkhayal. Saya bergarap semua pihak bisa duduk bersama dan melepaskan ego masing-masing. Tentu harus ada yang mundur selangkah, lalu maju bersama-sama berjuta langkah.

(Foto: tempo.co)

Pemerintah juga hendaknya mau peduli dan bukan basa-basi. Pemerintah hendaknya mau juga duduk di tengah dan bukan justru memihak ke siapa pun. Tanpa itu semua, maka atlet dam caborlah yang akan dirugikan dan ujungnya negara dipermalukan.
Ingat UU-SKN bukan Injil atau Al Quran yang tidak bisa diubah. UUSKN seharusnya menjadi pengaman bukan justru jadi pengancam.

BACA JUGA :   MU Siapkan Rp 1,2 Triliun untuk Gelandang Valencia Ini!

“Warisan olahraga yang terbesar adalah persahabatan!” Kalimat Jendral TNI AD, Wismoyo Arismunandar, mantan Ketua Umum KONI dan KOI 1999-2003, rasanya harus jadi pegangan semua pihak.
Dan jangan juga kegaduhan dan ketidakpastian ini harus dipikul semua bebannya oleh DR. Aziz Syamsuddin, Ketua Umum Kriket yang dipercaya

Stop…

dipercaya sebagai Ketua CDM ke SEAG-29 di Kuala Lumpur bulan depan. Azis dan timnya sudah menemulan fakta-fakta itu dan waktu yang tersisa sangatlah pendek. Dan CDM sendiri bukanlah penanggung jawab capaian prestasi.

 

Indahnya Bersama

Sebagai bagian penutup, saya ingin berandai-andai.
Kalau saja fungsi KONI masih seperti yang lalu, maka seluruh persiapan kontingen akan digodok bersama para cabor. KONI dengan pengalamannya yang dahsyat, bisa kita bebankan soal pematangan pembinaan. Dan Pengurus Besar Cabor menjadi garda utama pembinaan awal dan menengah.

KOI yang bergaris tegak-lurus dengan IOC di tingkat dunia dan OCA di tingkat Asia, mengirimkan dan mengawal seluruh kekuatan ke SEAG. Dengan pengalaman yang dimilikinya, maka atlet dan cabor tidak akan mengalami hambatan.

Sementara itu, Kemenpora memberikan suport dalam bentuk dokumen, dana, dan kenyamanan.

Seandainya semua itu berjalan seperti bayangan saya, maka para atlet kita sungguh-sungguh bisa mengguncang dunia.

Semoga bermanfaat

(Visited 49 times, 3 visits today)
Editor: Kesit B Handoyo