Offside.co.id

Eva Dicekal Mou, Nella Dijegal ‘Ibu-ibu PKK’

Selasa 23 Februari 2016 14:16 WIB

Fisioterapis wanita berparas cantik, cerdas, apalagi seksi, dijamin mendapat atensi ganda. Sayangnya, dua contoh di luar maupun dalam negeri, sama-sama berakhir duka. Terapis Chelsea, Eva Carneiro (42), dicekal kala klub asal London itu dipoles Jose Mourinho. Di Bandung, Fortunella Levyana (24) dijegal “ibu-ibu PKK”. Julukan ini dialamatkan pada para istri pemain Persib.

Pembaca pastilah tersenyum, kenapa Wags tim Maung Bandung itu kuatir atas kehadiran Fortunella. Selain cantik, ibu muda dengan satu anak ini juga cepat akrab dengan pemain. Jam terbang bersama klub-klub basket Indonesia, serta klub Pelita Bandung Raya (PBR), membuatnya cepat beradaptasi dengan lingkungan pria berkeringat itu.

Tentu saja para istri pemain engan head to head dengan Nella. Lapor ke ibu manajer diyakini lebih efektif. Ternyata benar. Tak lama setelah lapor, Nella pun angkat kaki dari Bandung. Salah satu pentolan Viking, Yana Umar, juga turut berkomentar soal penolakan Persib kepada Nella sang fisioterapis.

“Ha..ha..ha geus ibu-ibu pemain hariwang, lapor Bu Haji,” celetuk Yana, Sabtu (20/2). Maksudnya, para istri pemain kuatir, lalu lapor pada istri Umuh Muhtar, manajer Persib.

Umuh sebagai manajer tim, tentu lebih memiliki kekuatan wewenang untuk meloloskan skuad tim Maung Bandung. Baik pemain, pelatih, atau ofisial termasuk fisioterapis. Apalagi sudah jadi rahasia umum jika di bawah pimpinannya, ada “larangan” tak tertulis, bahwa wanita tak diizinkan berada di dalam bus maupun bangku cadangan pemain.

Bau Klenik
Ada yang bisa menerima pandangan itu, ada pula yang justru mengkritisi, sebab itu berbau klenik. Selain zaman sudah berubah, kepercayaan itu juga dilarang dalam agama. Yana sendiri santai menanggapi hal itu. Namun di luar guyonannya, Yana tetap menyayangkan tim sekelas Persib masih mengkotak-kotakan profesi seorang fisioterapis yang ditekuni seorang wanita.

BACA JUGA :   Liga Berakhir, Bek Persib Ini Pilih Lanjut Kuliah

“Ya, sangat disayangkan saja, padahal kemampuan Nella bisa diandalkan untuk bantu tim. Klub sekelas Chelsea saja pernah pake fisioterapis perempuan,” ujar dirigen Viking ini. “Pemain juga tak berkeberatana, tapi punten jangan ditulis nama saya,” ujar seorang pemain, karena tak mau dijewer bini atau pacarnya.

Untungnya, Nella lebih legowo, tak ada tuntutan macam-macam. Paling ungkapan rasa kecewa. Beda dengan Eva Carneiro. Merasa dilecehkan secara verbal oleh Mourinho, ia keluar dari Chelsea dan membawa kasusnya ke meja hijau! Fans Chelsea terus merindukannya. Begitu pula banyak pria. Paparazi pun rajin menguntit, mencari tahu siapa pacar barunya.

Kalau Nella, tampak lebih tabah. Lewat akun twitter ‎@nellalevya, ia hanya meluncurkan beberapa kalimat. Berikut petikannya, dengan bahasa disesuaikan tanpa mengubah materi ;

“Terimakasih atas sambutan, respon, pro/kontra, sejak hari pertama saya bergabung (ke Persib). Saya belum bisa bergabung dengan team karena (yg saya tau) adanya penolakan dari luar tim. Saya senang bisa bergabung dengan Persib walau hanya sehari, kemudian dicekal. Saya tidak marah, hanya merasa diperlakukan tidak adil.

Penilaian tentang moral/akhlak seseorang idealnya tidak prematur, apalagi belum saling kenal dan hanya “kata orang”. Job desk saya sebagai fisioterapis tentu berbeda dengan masseur. Dalam dunia medis tidak membedakan pasien laki-laki/perempuan.

Bila ada anggapan fisioterapis perempuan itu tabu dan bertentangan dengan ajaran agama, saya minta maaf. Niat saya hanya bekerja. Soal mitos bahwa perempuan dilarang dalam tim, saya yakin Persib adalah tim yang selalu berpikiran maju. Kecewa? Pasti. Tapi saya sangat yakin Allah punya skenario yang jauh lebih baik dan akan membuka pintu-pintu rezeki yang lain.

BACA JUGA :   Persib Harus Punya Karakter Petarung!

Tak lupa ia mengutip sebuah petikan seorang ulama dan penyair. “Dan, Bandung bagiku bukan sekedar masalah geografis, lebih dari itu melibatkan perasaan.” – Pidi Baiq

Pemahaman tentang fisioterapis di Indonesia atau negara berkembang lainnya, memang masih kacau. Setidaknya hal itu dilontarkan Mathias Ibo, yang pernah jadi fisioterapis tim nasional Indonesia.

“Tugas seorang fisioterapis untuk mengkaji sebuah cedera, melakukan tes-tes yang ada, dan menarik kesimpulan dari cedera yang dialami pemain. Barulah sebuah program latihan disusun dan diberikan. Pijat tidak diberikan karena itu merupakan tugas tukang pijat,” ujarnya.

Mathias Ibo bahkan geli ketika di era sepakbola modern, pernah terjadi peristiwa seorang tukang pijat mendapat promosi menjadi fisioterapis. “That’s simply unacceptable! Jangan salah, saya senang bekerja sama dengan masseur. Mereka hebat dan menyenangkan. Hanya saja, tugas dan fungsinya berbeda,” ujar pria yang kuliah enam tahun untuk jadi seorang fisioterapis itu.

Bayangan ibu-ibu bisa jadi berbeda. Nella memang akan bersentuhan dengan pemain, tapi bukan dalam kapasitas pijat-urut. Seperti dia ungkapkan, dalam medis kadang pria dan wanita bersentuhan. Dalam proses kelahiran, bahkan sebagian dokter yang menangani para ibu justru seorang pria! (SN)

(Visited 138 times, 4 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid

You must be logged in to post a comment Login