Offside.co.id

Lebih Baik Nahrawi dan La Nyalla Mundur

Sabtu 5 Maret 2016 14:15 WIB

Kejengkelan publik sepakbola Indonesia dengan terus berlarut-larutnya konflik Menpora dengan PSSI, nyaris mencapai ubun-ubun. Tanpa bermaksud mendukung salah satu, antara Menpora Imam Nahrawi atau Ketum PSSI La Nyalla Mattalitti, harapan agar keduanya mundur mulai bermunculan.

“Panggung politik dibawa ke olah raga, ya begini jadinya. Mendingan dua-duanya mundur. Kedoknya sama. Semua bilang ingin membawa perubahan. Muka tanpa dosa semua. Korban nya sepakbola Indonesia,” ungkap seorang pecinta bola Indonesia, Danny Effendy lewat akun medsosnya @dannyeffendy.

Di lereng Gunung Ciremai, beberapa pentolan kelompok supporter Viking Distrik Kuningan (VDK) mengadakan pertemuan. Mereka mengeluarkan pernyataan keras. “Kami tidak dalam posisi mendukung La Nyalla atau Imam Nahrawi. Kami hanya ingin agar kompetisi sepakbola Indonesia bergulir kembali. Sempat ada harapan saat Presiden Jokowi minta pembekuan PSSI dicabut, ternyata itu hanya untuk dikaji saja. Kalau Pak Agum Gumelar kesal, kami juga kesal. Kami minta presiden memecat Menpora,” ungkap Buddy Abuy, Ketua VDK.

Janu Diharja, ketua Paguyuban Keluarga Besar Cijemit (PKBC) Kuningan menambahkan, “Bahwa PSSI harus diperbaiki, kami setuju. Tapi perbaikan bukan dengan pembekuan. Memang yang menghentikan kompetisi adalah PSSI, tapi itu terjadi karena tidak dapat izin polisi atas permintaan BOPI yang merupakan tangan Menpora. Kalau ada kekurangan terus dibekukan, bagaimana dengan DPR, juga di Kemenpora, Kementrian Agama dan lain-lain? Apa semua juga dibekukan?”

Aroma politisasi memang tercium sangat tajam. Dulu La Nyalla dituding menggiring timnas ke Koalisi Merah Putih (KMP). Sementara Nahrawi sudah jadi rahasia umum, menggandeng sebagian kelompok supporter Surabaya lewat partainya. La Nyalla dan Nahrawi akhirnya berkonflik di Jawa Timur, dan ternyata buntutnya merembet secara nasional. Akibat “perang” itu, ratusan ribu orang pelaku sepakbola dan bisnis turunannya, akhirnya menganggur.

BACA JUGA :   Indonesia Boyong Enam Gelar AFF Award 2017

Saat ini, isu yang diangkat Menpora dalam Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI, Rabu (2/3), adalah  sembilan syarat untuk bisa mencabut status pembekuan PSSI. Antara lain: taat pada sistem hukum nasional, berkomitmen secara konsisten terhadap perbaikan tata kelola sepakbola, dan menjamin adanya keterbukaan informasi publik yang akuntabel. Satu lagi yang utama: KLB. Diyakini, tujuan KLB untuk mendongkel La Nyalla.

“Sembilan syarat itu sesungguhnya cara kami untuk memastikan bahwa cara kita sama untuk melakukan reformasi, tidak boleh bertepuk sebelah tangan. Harus ada respons balik berupa paper, berupa tulisan, bukan cemoohan. Harus memberi konsep yang sama sesuai dengan statuta FIFA,” kata Nahrawi di Kemenpora, Jumat (4/3).

Soal FIFA, sikap Nahrawi plin-plan. Di awal, ia malah berniat bikin FIFA tandingan. Intervensi pemerintah memanng dikecam FIFA. Banyak negara sempat dikucilkan. Persis Indonesia sekarang, yang diasingkan dari sepakbola internasional. Jika koridornya adalah kebangsaan, maka kebanggaan terhadap Merah Putih di ASEAN atau ASIA, juga dunia, tak bisa dibuktikan.

Di jalur sepakbola usia dini, Indonesia kerap berprestasi. Misal, di Piala Dunia Danone U-12. Tapi Nahrawi bisa berkelit, Indonesia toh bisa berkibar lewat Rio Haryanto di F1. Bagus, tapi F1 kurang berdampak pada ekonomi rakyat, sebesar geliat sepakbola.

BACA JUGA :   Djoko Driyono Jabat Wakil Presiden AFF

Operator dari Cina
La Nyalla sendiri menaggapi sikap Nahrawi dengan meminta presiden mengganti Imam Nahrawi. “Saya minta Bapak Jokowi sebaiknya mengganti saja Menpora ini. Sudah jelas Menpora sampai sekarang tidak bisa menyelesaikan urusan sepakbola. Apalagi Menpora sudah jelas-jelas mbalelo perintah presiden untuk mencabut SK Pembekuan PSSI,” tulis La Nyalla dalam pesan singkat yang diterima wartawan.

Pernyataan La Nyalla ini masih terkait dengan rumor bakal dicabutnya pembekuan PSSI setelah Ketua Komite Ad-Hoc Reformasi PSSI, Agum Gumelar, seusai bertemu dengan Jokowi pekan lalu. Agum menyebut kalau Presiden sudah menginstruksikan dicabutnya pembekuan PSSI.

Namun, Menpora membantah dan hanya bilang presiden baru meminta dirinya mengkaji pembekuan PSSI, dan bukan menginstruksikan agar SK tersebut segera dicabut. Hal ini juga ditegaskan oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Juru Bicara Presiden, Johan Budi. Rakyat hanya meminta presiden lebih peduli ekonomi rakyat lewat geliat sepakbola.

“Mungkin PSSI harus memakai operator liga dari Cina, lalu wasit dan perangkat pertandingan juga dari Cina. Saya yakin Pak Jokowi akan mendukung penuh. Menpora tak akan berkutik. Cina kan sedang maju pesat di bidang sepakbola, juga kereta api cepat,” imbuh Janu, entah menyindir atau serius. (SN)

(Visited 88 times, 3 visits today)
Editor: Bakhtiar Majid

You must be logged in to post a comment Login