Offside.co.id

Yoyok Waluyo, Koleksi Ratusan Syal Karena Anti-Mainstream

Senin 6 Maret 2017 19:13 WIB

Offside.co.id – Lapangan hijau tak bisa dipisahkan dari pernak-pernik pelengkap pertandingan. Salah satunya, syal.

Barang itu bisa diperoleh dari pedagang kaki lima, atau toko resmi penyedia merchandise klub. Seperti halnya pemburu jersey bekas atau tanda tangan pemain top, syal pun punya pemburu khusus.

Yoyok Waluyo, salah satu diantaranya. Kolektor syal baik dari klub Liga Indonesia bahkan luar negeri ini punya koleksi ratusan syal.

Pria asal Bekasi itu memang memilih berkonsentrasi memburu syal sebagai koleksi pribadinya, daripada memburu jersey atau tanda tangan.

Sekitar 280 syal dari berbagai negara kini sudah menghiasi lemarinya. Koleksi syal klub dalam negeri, komplit. Syal dari klub-klub negara benua Eropa, jumlahnya mencapai sekitar 70℅.

Ada juga syal dari kawasan Amerika Latin seperti dari negara Brazil, Argentina, Uruguay, Paraguay. Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Dari kawasan Asia, selain Indonesia,  syal didapat dari Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan. Begitu pula dari Liga Australia.

Apansih alasan utama kenapa ia mengoleksi syal? Jawabannya simpel, karena ingin berbeda dengan kolektor lainnya.

BACA JUGA :   Martial Bawa Kemenangan MU

“Saya ini footballhollic yang suka merchandise sepakbola. Syal dipilih karena kalau koleksi jersey sudah lazim. Koleksi syal itu seperti anti-mainstream,” ujarnya.

Yoyok memulai memburu syal tersebut sejak 2007 hingga sekarang. “Saya fokus mengkoleksi syal dari klub-klub di seluruh dunia. Tapi untuk syal suporter seperti Ultras, match scarf atau syal berbau rasis, tidak saya koleksi,” kata Yoyok.

Cara mendapatkan berbagai syal tim dari luar negeri tidak mufah. Ada dengan cara membeli, ada pula barter antar-kolektor syal.

Ia harus berhati-hati karena bisa tertipu. Untuk itu, Yoyok juga wajib melihat reputasi kolektor syal yang ia ajak barter.

“Untuk syal lokal saya beli, tetapi untuk syal luar negeri saya melakukan barter dengan sesama kolektor syal. Alhamdulilah sampai sekarang belum pernah ditipu lewat cara barter,” ungkapnya.

Dari segi kualitas atau bahan syal, ia punya kriteria tersendiri. Untuk syal klub luar negeri tak ada batasan. Kualitasnya rata-rata bagus. Sementara syal lokal, ia memilih minimal harus get 14 atau kualitas A.

BACA JUGA :   Bali United ke Thailand Minus Hanis Shagara

“Masalah bahan syal, berbagai macam. Mulai dari printing, woven, wool, sampai knited. Tetapi kalau syal lokal minimal harus bahan get 14. Agar tidak terlalu tebal,” ujar pria yang memiliki satu orang putra ini.

 

Di Indonesia sendiri, komunitas pecinta benang rajut ini sudah menyebar di seluruh kota-kota besar. Grup komunitas yang bernama Indonesia Football Scarves Collector atau IFSC, berdiri sejak 2013.

Bermula dari sosial media kaskus tahun 2010, sampai membentuk grup di facebook pada 2013. Sekarang sudah sekitar 20 lebih kolektor regional bergabung dengan IFSC.

Kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Tangerang, Bekasi, Sidoarjo, Surabaya, Karawang, Depok kerap kali mengadakan kopdar rutin.

Slogan yang kerap didengungkan IFSC ialah “Racun Berajut Menyatukan Kita”. Yoyok  mengupdate koleksi syalnya di sosial media lewat blog pribadinya. (AB)

 

(Visited 839 times, 9 visits today)
Editor: Sigit Nugroho